Dilema Dalam Pernikahan

Dilema Dalam Pernikahan
Bab. 50 Satu atap tiga hati


__ADS_3

Satu Minggu kemudian, Aji sudah jarang pulang. Dia selalu bermalam di rumah Ayesha, dan Lusi hanya diam saja seperti cuek. Wanita itu sudah lelah dengan sikap Aji yang tidak adil, ingin bercerai tetapi dirinya memikirkan Aris. Wanita itu tidak ingin keponakannya di asuh oleh orang lain, dia trauma sewaktu bocah kecil itu di rawat Elena. Ya, meskipun wajah Ayesha mirip dengan sang kakak, tetapi Lusi mencoba untuk tidak terkecoh.


"Aku yakin jika hatinya tidak sebaik kakakku," ucapan yang Lusi lontarkan ketika otaknya tertuju pada Ayesha.


Tepat pukul delapan malam, Lusi yang kala itu ingin menemani Aris tidur langsung turun dari ranjang setelah dia mendengar bunyi bel. Tanpa berpikir panjang, wanita itu segera membuka pintu. Betapa terkejutnya dia saat melihat siapa yang ada di depan pintu rumahnya.


"Mas?" Lusi memanggil sambil melirik ke arah Ayesha. "Apa-apaan ini? Kamu sudah gila? Kenapa membawa dia ke rumah ini?" tunjuk Lusi penuh kemarahan.


"Diamlah! Aku dan Ayesha memutuskan untuk tinggal di rumah ini agar Ayesha bisa dekat dengan Aris."


Lusi pun menggeleng. "Benar-benar tidak waras! Apa yang sudah dia berikan padamu, Mas? Kenapa kamu jadi seperti ini?"


"Maaf, Lusi. Aku tidak memberikan apa pun padanya. Ini semua kemauan Mas Aji sendiri, dia memaksa agar aku tinggal di rumah ini." ujar Ayesha membela diri.


"Cih! Memalukan." decih Lusi meludah.


"Apa Aris sudah tidur? Aku yakin jika dia pasti akan bahagia karena aku membawa Mamanya pulang." Aji bisa-bisanya tersenyum manis, dia tidak menghiraukan tatapan sengit dari Lusi.


"Dia sudah tidur. Jangan mengganggunya!" bantah Lusi agar Aji tidak masuk ke dalam kamar Aris.


"Baiklah, besok saja kita bertemu dengan Aris ya, Sayang. Lebih baik sekarang kamu istirahat saja, kamar kita ada di sebelah sana." Aji menunjuk pojok kanan.


Ayesha mengangguk, dia berjalan menaiki anak tangga.


Setelah Ayesha menjauh, Lusi mulai mendekati Aji. Dia mencengkeram kerah baju pria itu dan menatap bola matanya dengan tajam.


"Kamu puas, Mas? Kamu puas karena sudah berhasil menghancurkan hatiku bukan? Kamu senang 'kan, Mas? Ini yang kamu mau, hah! Aku seperti boneka yang di peralat saat kamu sedih dan sendiri. Tapi sekarang, kamu begitu mudah melupakan aku dan berpaling ke wanita lain." Lusi meneteskan air mata.

__ADS_1


"Dia itu hanya mirip dengan kakakku, Mas. Ingat! Kak Evi sudah tiada dan tidak akan bisa kembali lagi, kamu sudah tertipu oleh wajah wanita itu." Lusi menunjuk ke arah lantai atas tanpa mengalihkan pandangannya.


Aji hanya mampu berdiam diri ketika di hakimi seperti ini. Merasa bersalah? Ya, memang dia bersalah karena sudah menduakan Lusi. Tetapi, ini semua juga atas kemauan hatinya.


Lusi melepaskan cengkeraman itu dengan kasar, dia menghapus air mata secara kasar.


"Aku yang terlalu bodoh karena mengharapkan cintamu dan berharap kamu meninggalkan wanita itu! Nyatanya, kamu malah membawa wanita itu ke rumah ini. Aku kecewa, Mas!" Lusi pergi dari hadapan Aji.


Saat ini, hati Aji dilema. Dia harus melepaskan Lusi atau Ayesha? Keduanya sama-sama memiliki peran penting tersendiri di dalam hatinya. Lusi yang selalu ada untuknya dan mampu membangun cinta di dalam hati, sementara Ayesha, wanita yang sangat mirip dengan sang istri dan ketika Aji menatap Ayesha, hatinya merasa nyaman juga tenang. Pikiran pria itu sedang kacau balau, dia memilih untuk pergi ke dapur guna membuat kopi.


****


Keesokan paginya, Aris bangun seperti biasa. Dia sudah bersiap dan hendak pergi ke sekolah. Dirinya keluar dari kamar, perlahan langkah kakinya membawa dia ke meja makan. Setelah berada di lantai bawah, bocah kecil itu tersenyum bahagia melihat sang papa yang ternyata berada di rumah.


"Papa!" teriak Aris girang lalu berlari kecil ke arah Aji.


Cup.


Aji mengecup kedua pipi Aris. "Anak papa sudah selesai mau pergi ke sekolah, ya?"


Aris mengangguk sambil tersenyum, dia menatap ke arah dapur. Disana ada seorang wanita tetapi dia yakin jika itu bukanlah Lusi.


"Pa, apa papa mencari pembantu?"


Aji mengerutkan dahi, dia paham dengan pertanyaan yang Aris layangkan. Dirinya tersenyum lalu mengelus pucuk kepala Aris dengan perlahan.


"Dia itu Mama kamu, bukan pembantu."

__ADS_1


"Mama? Tapi 'kan—" ucapan Aris terpotong ketika dia melihat Ayesha yang membalikkan tubuhnya menghadap meja makan.


Mulut anak kecil itu terbuka lebar, dia saja syok melihat Mamanya ada di rumah ini.


"Mama?" panggil Aris sambil tersenyum bahagia. Dia langsung berlari menghampiri Ayesha yang sudah selesai memasak sarapan pagi.


Keduanya saling berpelukan seakan-akan melepas kerinduan yang mendalam. Ayesha mengecup pucuk kepala Aris.


"Mama, kenapa Mama ada disini? Bukannya Mama udah di surga?" tanyanya polos.


"Mama kembali untuk kamu." Ayesha mengusap pipi Aris.


"Aris kangen Mama," bocah tersebut kembali memeluk Ayesha.


"Mama juga,"


"Mama janji jangan pernah ninggalin Aris lagi, ya? Sebelum ada Mama Lusi, Aris itu kesepian." ucap anak itu memelas.


"Unch unch, kasian anak Mama. Mama janji, Mulai hari ini Mama tidak akan meninggalkan Aris sendirian."


Merasa saling menautkan jari kelingking.


"Yeay, Aris punya Mama dua." sorak bocah itu gembira yang pada dasarnya belum paham urusan orang dewasa.


Dari lantai atas, Lusi tidak berani untuk turun. Dia menghapus air mata yang menetes di pipinya, sekarang kasih sayang Aris akan terbagi untuk wanita asing itu yang hanya mirip dengan Almarhumah Evi. Dia segera masuk ke dalam kamar karena rasa sesak yang mendera di dada.


•••••

__ADS_1


Tbc


__ADS_2