Dilema Dalam Pernikahan

Dilema Dalam Pernikahan
Bab. 15 Tentang rujak


__ADS_3

Elena sudah sampai di depan rumah Aji, dia menatap bangunan mewah itu dan tersenyum licik. Dirinya menatap bungkusan yang ada di tangan, dia kembali melihat bangunan itu lalu berjalan menuju pintu utama.


"Permisi!" teriak Elena sambil mengetuk pintu.


Evi yang kebetulan sedang bersantai di rumah tamu langsung berjalan membuka pintu. Setelah pintu terbuka lebar, wanita itu mendelik ketika tahu siapa yang bertamu ke rumahnya.


"E—elena, mau apa kamu kesini?"


Elena tersenyum manis. "Pertanyaan macam apa itu, Evi? Aku datang kesini hanya ingin mengantarkan pesananmu. Mas Aji tidak sempat, jadi dia memintaku agar memberikan ini padamu." titah Elena sambil menyerahkan bungkusan yang ada di tangannya itu.


Evi menerima dengan rasa kecewa, padahal dia berharap Aji—lah yang mengantarkan rujak itu ke rumah. Evi tidak ingin berbasa-basi, sesudah mengucapakan terima kasih, dia langsung bergegas ingin masuk ke dalam rumah. Namun, langkahnya terhenti karena suara Elena.


"Apa kamu tidak mau bertanya, kesibukan apa yang Mas Aji lakukan hingga dia mengabaikan keinginan istrinya dan lebih mementingkan pekerjaan?"

__ADS_1


"Mas Aji tidak mengabaikan permintaanku, buktinya dia membelikan apa yang aku inginkan." Evi mengangkat bungkusan tersebut.


"Kamu bener, Evi. Tetapi aku yakin jika kamu berharap Mas Aji—lah yang mengantarkan rujak itu. Sayang sekali semuanya tidak seperti yang kamu inginkan. Kasihan," Elena tertawa dan pergi dari hadapan Evi.


Evi hanya menghela napas, dia tidak boleh marah ataupun merajuk karena itu bisa membuat Aji akan ilfil padanya. Ya, mungkin saja. Dirinya masuk ke dalam rumah dengan membawa rasa kecewa dan rujak yang dia inginkan tadi.bNamun, sesampainya di dalam, bukannya memakan rujak itu, Evi malah meletakkannya di atas meja dapur. Dia sudah tidak lagi berselera untuk memakannya.


Wanita itu berjalan menuju kamar, saat sedih begini, dia membutuhkan sosok teman yang mau mendengarkan keluhannya. Dan dia adalah Lusi sang adik.


***


Aji berjalan ke kamarnya, sesampainya disana, dia melihat Evi yang sudah tertidur pulas. Dirinya tersenyum tipis lalu mendekati sang istri. Pria itu duduk di tepi ranjang, dia mengelus rambut sang istri dan mengecupnya perlahan.


"Mungkin dia ngantuk." Aji bergumam pelan. Matanya terhenti di perut Evi yabg masih rata, dia mengelus dengan lembut dan tersenyum manis.

__ADS_1


Setelah itu, Aji beranjak dari ranjang dan berjalan ke kamar mandi. Beberapa saat kemudian, selesai mandi, pria itu langsung berganti pakaian. Dirinya ingin menyusul Evi ke alam mimpi, tetapi perutnya terasa lapar karena dia tidak berselera makan di restauran miliknya sendiri.


Aji pun berjalan menuruni anak tangga, hingga tanpa terasa saat ini dia sudah berada di dapur. Pria itu hendak mengambil piring, dia berniat untuk membuat roti panggang saja. Namun, aktivitasnya terhenti karena dia melihat bungkusan hitam di atas meja.


"Apa ini?" tanyanya heran pada diri sendiri.


Aji membuka bungkusan itu, betapa terkejutnya dia kala melihat isi di dalam sana.


"Rujak? Bukankah ini rujak yang tadi siang aku belikan untuk Evi? Kenapa dia tidak memakannya? Bukankah dia sangat menginginkan rujak ini?" Aji sangat penasaran, selera makannya hilang begitu saja. Dia kembali menuju kamar.


••••


Tbc

__ADS_1



__ADS_2