Dilema Dalam Pernikahan

Dilema Dalam Pernikahan
Bab. 59 Musibah


__ADS_3

Pagi ini Aris sudah berada di kampus. Mau tidak mau dirinya harus rajin kuliah agar tidak di pindahkan oleh sang Papa. Dia melihat Hanna yang sedang duduk di bangku sambil membaca buku, dirinya membenahi pakaian dan rambut, lalu pemuda itu berjalan menghampiri gadis cantik nan seksi itu.


"Morning, Honey." sapa Aris sambil tersenyum manis.


"Hei, Morning." Hanna membalas dengan senyuman juga, dia menutup bukunya lalu meletakkan di atas tas.


"Serius sekali, sedang membaca apa?" tanya Aris sambil duduk di sebelah Hanna.


"Oh, aku sedang membaca buku biologi. Ada rangkuman hari ini yang harus di setor ke dosen." jawab Hanna jujur. "Sayang, tumben sekali kamu masuk kuliah? Bukankah biasanya kamu bolos?"


"Ck, ini semua karena ulah dosen botak itu. Dia mengirimkan surat pada papaku dan pada akhirnya aku mendapatkan ancaman. Ya, mau tidak mau aku harus masuk kuliah."


"Ancaman?"


Aris mengangguk. "Papa mengatakan jika aku bolos lagi, maka dia akan mengirim aku ke desa dan juga mencabut semua fasilitasku. Bagaimana aku tidak resah?"


Hanna hanya tertawa mendengar keluh kesah kekasihnya itu. "Bukankah masih ada aku? Aku bisa memberikanmu uang atau mobil mungkin." ujarnya karena dia memang anak orang kaya. Bahkan, mobilnya saja ada belasan.


"Tidak perlu, Honey. Aku akan menuruti permintaan papaku demi kebaikan kita. Jika aku di kirim ke desa, bagaimana dengan hubungan kita ini? Apa kamu sanggup jauh dari aku? Ya, meskipun kita bisa melakukan video call. Tetapi jika tidak bertemu secara langsung, rasanya kurang afdol." goda Aris membuat Hanna tersipu malu.


Saat mereka sedang asyik bercanda, tiba-tiba seorang gadis menghampiri keduanya. Gadis itu langsung menarik pundak Aris dan menampar pipi pemuda itu.


Aris terkejut begitupun dengan Hanna, mereka berdiri sambil menatap sang gadis dengan marah.


"Apa yang kau lakukan?'' bentak Hanna tidak terima, dia memegangi pipi Aris.

__ADS_1


Gadis itu tersenyum sinis, dia ingin menampar Aris kembali tetapi di tahan oleh Hanna.


"Jaga sikapmu! Dasar perempuan gila!" tukas Hanna emosi.


Gadis itu menudingkan jari telunjuk ke arah Aris, dia menahan amarahnya saat ini. "Pantas saja kau tidak pernah berkunjung ke rumahku, ke kampusku, atau pun menghubungiku. Ternyata kau selingkuh di belakangku? Wow, kau luar biasa, Aris. Kau benar-benar playboy!" maki gadis itu menatap Aris penuh kebencian.


"Apa yang kau katakan? Bukankah kita sudah putus? Aku mohon jangan bicara asal, dia itu adalah kekasihku, dan aku hanya memiliki dia saja tidak ada kekasih lain." bela Aris agar Hanna tidak marah padanya. Sungguh bodoh jika dia melepaskan Hanna yang notabenenya anak orang kaya, royal, cantik, seksi dan menawan.


"Jadi kau lebih memilih dia dibandingkan aku?"


"Bagaimana mungkin kau bisa berkata seperti ini? Kau harusnya terima jika aku memutuskanmu. Pergi sana! Membuang waktu saja." usir Aris membuat wanita bernama Clara itu malu.


Clara langsung pergi karena sudah ketiban malu. Sementara Hanna, dia menatap wajah Aris yang tampan.


Aris mengangguk. "Hanya sedikit sakit saja."


Hanna mengelus pipi itu. "Kasar sekali dia,"


Inilah yang Aris sukai dari Hanna, dia penyabar, baik dan lemah lembut.


****


Tepat pukul sepuluh malam, Aris belum juga pulang dari tongkrongan. Dia melakukan balap liar dengan temannya dan saat ini tempat tersebut sangat ramai oleh anak-anak muda seumuran Aris.


Disana, mereka sudah mulai melakukan pemanasan. Aris sebagai penjoki harus bisa memenangkan pertandingan ini. Dia melirik lawannya yang terlihat sedang tersenyum remeh. Hitungan pun di mulai dan ketika hitungan ke tiga, motor keduanya melaju pergi. Suara motor menggema berdeging di telinga para penonton.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Aris belum juga muncul sementara lawannya sudah sampai terlebih dahulu. Tentu saja hal itu membuat tim Aris khawatir. Mereka menghampiri Reno dan bertanya.


"Ren, kemana Aris? Kenapa dia belum sampai?"


Reno menyibakkan rambut gondrongnya. ''Heh, kalian cari saja sendiri. Mungkin dia udah ma*ti."


Semua pendukung Reno tertawa mendengar pernyataan barusan.


"Kak, sepertinya kita harus mencari kak Aris." ujar Willson.


Keempat pemuda itu pergi mencari Aris, mereka menaiki motor dan melaju menyusuri jalanan yang gelap karena sudah malam. Dari kejauhan, terlihat motor Aris. Keempat pemuda tersebut langsung mendekati motor itu yang berada di jalanan. Ternyata, Aris sudah tergeletak tidak jauh dari motornya.


Keempatnya berlari kecil menghampiri tubuh Aris yang tergeletak lemas di jalanan. Di sana ada sedikit bercak darah dan itu berasal dari kepala Aris. Willson langsung menghubungi ambulans, sementara yang lainnya mengamankan motor Aris. Tak lama kemudian ambulans pun datang, kedua perawat laki-laki menurunkan brangkar pasien. Mereka meletakkan Aris di atas brangkar itu.


Lalu, mereka membawa Aris masuk ke dalam mobil, tak lama kemudian mobil ambulans itu pun pergi dengan membawa Aris yang ditemani oleh Willson sepupunya sendiri.


"Kak, aku mohon bertahanlah. Apa yang terjadi denganmu? Kenapa kau bisa seperti ini?" Tanya Wilson penuh keheranan.


Tak terasa mereka sudah sampai di rumah sakit, Aris segera dibawa ke ruang rawat agar langsung dapat penanganan dari Dokter. Di luar ruangan, Willson mencoba menghubungi Pamannya yaitu Aji. Setelah panggilan tersambung, Willson langsung menceritakan semuanya pada Aji.


Di seberang sana, Aji merasa sangat khawatir sekaligus marah. Dia benar-benar tidak mengerti lagi bagaimana harus berbicara pada Aris. Anak itu sangat nakal hingga membuat Aji mengelus dada.


•••••


Tbc

__ADS_1


__ADS_2