Dilema Dalam Pernikahan

Dilema Dalam Pernikahan
Bab. 49 Merasa di kecewakan


__ADS_3

Ayesha melirik Aji, dia meminta penjelasan dari pria itu.


"Mas, apa maksudnya? Dia mengaku jadi istrimu?"


Lusi tersadar jika sang kakak sudah tiada dan saat ini yang ada di hadapannya, dia itu adalah wanita lain.


"Hei, aku bukan mengaku tapi itulah kenyataannya!" Lusi memegang lengan Aji. "Mas, jelaskan padanya siapa aku sebenarnya!"


Aji menjadi pusing, dia memang ingin mengatakan pada Lusi jika dirinya sudah menikah lagi. Tetapi, semua butuh waktu dan bukan saat inilah waktunya yang tepat.


"Ay, dia itu—" Aji mengambil napas dalam-dalam, lalu menghembuskan perlahan. "Dia itu istriku."


Ayesha tercengang, dia melotot sambil menatap Aji. "Istri?"


"Maafkan aku yang tidak jujur padamu, Ay. Jika aku mengatakan yang sebenarnya, maka kamu pasti tidak akan mau menikah denganku."


"Itu sudah pasti, Mas. Bagaimana mungkin aku mau menikah dengan suami orang? Kamu keterlaluan, Mas."


"Setelah ini, apalagi yang kamu sembunyikan dariku, Mas? Jangan-jangan kamu masih memiliki selingkuh lain di luar sana, iya!" teriak Lusi tidak terima di duakan.


"Apa yang kamu katakan, Lusi? Aku menikahi Ayesha karena wajahnya sangat mirip dengan Evi, wanita yang sangat aku cintai! Kamu tau itu bukan?"


"Jadi hanya karena itu? Mas, wajahnya saja yang mirip tapi sebenarnya dia itu orang lain. Jujur aku kecewa, Mas. Mungkin juga kak Evi kecewa dengan kelakuan kamu ini." Lusi menggeleng lalu pergi dari sana membawa segala luka di dalam hatinya.


Sementara Ayesha, wanita itu menatap kepergian Lusi. Dia ingin pergi juga dari sana tetapi di tahan oleh Aji.


"Ay, aku mohon jangan pergi. Jangan tinggalkan aku, Ay. Apa yang kamu minta? Kamu ingin aku menceraikan dia? Baik, aku melakukannya untukmu."


"Tidak perlu, Mas. Aku hanya heran kenapa kamu bisa setega ini dengan perempuan? Kamu sudah berkhianat, Mas." Ayesha menatap Aji penuh kesenduan.


"Maafkan aku, Ayesha."

__ADS_1


"Jangan meminta maaf padaku, minta maaflah pada istrimu. Turuti kemauannya, jika dia meminta agar kita bercerai, maka jauhi aku, Mas. Tinggalkan aku," pinta Ayesha berat hati.


"Tidak, aku tidak akan pernah menceraikan kamu, Ayesha! Cukup sudah aku kehilangan Evi, dan aku tidak mau lagi kehilangan untuk kedua kalinya." Aji memeluk tubuh Ayesha sangat erat.


Ayesha menangis dalam pelukan Aji, pikirannya sangat kacau saat ini. Dia benar-benar tidak bisa berpikir jernih untuk memecahkan masalah.


****


Di sudut lain, Lusi berlari kecil dan sekarang dia tidak memiliki tujuan. Hatinya benar-benar sakit di perlakukan seperti ini oleh Aji. Cintanya di balas dengan pengkhianatan, itulah pikirnya.


"Ini tidak adil, kenapa harus aku yang merasakan hal seperti ini? Apa salahku, Tuhan? Kenapa Engkau menghukumku? Hiks."


Lusi menghentikan langkahnya di jembatan, dia berdiri di pembatas jembatan tersebut dan melihat ke bawah dimana air sungai sedang mengalir deras.


"Aaaa!" teriaknya sekuat tenaga untuk melampiaskan kekesalan dan rasa Sesak di dada.


Di jalan itu tidak terlalu banyak pengendara yang lalu lalang karena jembatan tersebut hanyalah jalan tikus.


Dari kejauhan, terlihat seorang pria sedang mengendarai motor gede. Dia melajukan motornya karena melihat ada wanita yang sedang berdiri di pembatas jembatan itu. Pria tersebut berpikir jika sang wanita sengaja ingin mengakhiri hidupnya.


"Hei, Nona!" teriak pria itu sambil turun dari motornya.


Lusi yang memang sedang mengamati derasnya air, langsung menoleh ke belakang. Dia mengerutkan dahi karena melihat seorang pria memakai helm full face berdiri di belakangnya.


"Nona, apa yang Anda lakukan? Nona, bunuh diri itu bukanlah jalan yang tepat untuk menyelesaikan sebuah masalah. Anda harus tenang dan berpikir jernih, Nona."


Lusi heran dengan ocehan pria di depannya itu, dia menghapus air mata. Lalu, dirinya melipat kedua tangan dan memicing kesal.


"Apa maksud Anda? Siapa yang ingin bunuh diri?"


"Loh, bukannya—"

__ADS_1


"Dasar tidak waras!" tukas Lusi marah.


"Lalu, apa yang sedang Anda lakukan disini?"


"Aku—" Lusi tidak meneruskan perkataannya, dia menangis kembali dan tanpa malu langsung memeluk tubuh pria di depannya yang sama sekali tidak dia kenal itu.


"Hiks, aku korban pengkhianatan. Kenapa semua pria tidak bisa hidup dengan satu wanita? Kenapa mereka harus menyakiti hati seorang wanita? Apa wanita itu hanya ditakdirkan untuk menangis dan tersakiti?" oceh Lusi di sela-sela tangisannya.


Pria itu memejamkan mata sesaat, dia sama sekali tidak tahu cara menenangkan wanita yang tersakiti seperti ini.


"Kenapa Anda hanya diam saja? Apa Anda sama dengan mereka?" Lusi mengurai pelukan, dia menangis sesenggukan hingga wajahnya terlihat imut.


Pria itu membuka helmnya dan seketika Lusi mundur total.


"Anda!" Lusi menunjuk wajah pria itu, dia tentu saja mengingatnya.


Pria tersebut hanya tersenyum tipis. "Masih butuh pundak untuk bersandar?" godanya dengan sengaja.


"Keterlaluan!" tukas Lusi malu sekaligus kesal. Dia berlalu pergi tetapi baru beberapa jarak, telinganya menangkap jika pria itu sedang tertawa karena mendengar bunyi perutnya yang keroncongan.


"Nona, menangis juga butuh tenaga. Ya, aku tidak tahu rasanya putus cinta , maka dari itu aku tidak bisa memberikan saran padamu kecuali makan."


Lusi mengepalkan tangannya, dia bahkan memejamkan mata agar bisa bersikap sabar.


"Bagaimana, Nona? Apa Anda ingin makan sesuatu? Ayo! Aku akan mengantarmu ke restauran terdekat." ajak pria itu sekaligus mengejek.


"'Ck, sialan!" gumam Lusi sambil pergi dari saja dengan berlari kecil.


Pria itu hanya tertawa, dia adalah Ronald Reagen. Sosok pria yang sangat Lusi tidak sukai.


••••

__ADS_1


Tbc


__ADS_2