
Malam harinya, Aji baru saja pulang dari restauran. Hari ini sangat ramai pengunjung dan pria itu cukup keteteran membantu para pelayannya. Dia berniat untuk menambah pelayan agar dirinya bisa sedikit santai di rumah. Ya, sebagai orang tua tentu saja Aji ingin selalu berada di samping putranya, melihat perkembangan anaknya setiap hari dan mengetahui aktivitas apa saja yang di kerjakan.
Terkadang jika Aji pulang dari restauran, Aris sudah tidur hingga mereka tidak sempat berbincang. Pria itu takut jika dirinya dan sang putra akan sedikit memiliki jarak karena jarang berkomunikasi. Sedangkan Lusi, gadis itu tetap berada di rumah. Namun, sesekali dia berkunjung ke restauran milik Aji.
Kriet.
Bunyi pintu rumah setelah Aji membukanya, pria itu masuk ke dalam dan mendapati Lusi sudah tertidur di sofa. Dirinya mendengus kesal, sudah berapa kali mengingatkan agar jangan menunggu, tetapi sepertinya gadis itu keras kepala. Aji berjalan menghampiri Lusi, terlihat napasnya berhembus teratur menandakan dia tertidur pulas.
"Dia menungguku tapi tidur? Sudah berulangkali aku katakan tidak perlu menunggu, tetapi dia keras kepala. Huft, menyusahkan saja!" tukas Aji, lalu dia membopong tubuh Lusi berjalan menaiki anak tangga.
"Kalau begini namanya dia hanya membuatku susah, bukan senang. Dia tertidur lalu aku menggendongnya ke kamar, enak sekali. Harusnya aku biarkan saja dia tidur di sofa," gumam Aji.
Sesampainya di kamar, pria itu meletakkan tubuh Lusi di atas ranjang. Saat dia hendak pergi, kancing bajunya tersangkut di rambut gadis itu . Dia duduk di pinggir ranjang, perlahan dirinya mencoba melepaskan rambut tersebut. Setelah berhasil, Aji pun berniat bangkit. Namun, matanya menatap ke wajah Lusi.
"Dia sangat mirip dengan Evi," Aji tersenyum hambar, dia benar-benar merindukan Almarhumah istinya.
Beberapa saat kemudian, pria itu mengedipkan mata berulangkali.
"Jangan konyol, Aji! Evi sudah tidak ada dan dia bukanlah orang yang kamu cintai." Aji berkata pada dirinya sendiri, dia bergegas pergi dari kamar tersebut sebelum hatinya berpikir lain.
****
__ADS_1
Pagi hari, Lusi terbangun dari tidurnya. Dia menggeliatkan tubuh dan meraba sekitar. Seketika matanya langsung membulat sempurna. Dia ketiduran lagi saat menunggu Aji pulang.
"Astaga, kebiasaan buruk apa ini? Bisa-bisanya aku ketiduran disaat ingin menyambut Mas Aji pulang bekerja." gadis itu menepuk dahinya.
Hari ini weekend dan Lusi tidak terlalu buru-buru menyiapkan sarapan, dia yakin jika kedua jagoannya itu pasti masih tertidur pulas. Dirinya beranjak dari ranjang dan berjalan menuju ke kamar mandi.
Setelah selesai berpenampilan biasa saja ala ibu rumah tangga, Lusi pun keluar dari kamar. Dia akan memasak rendang daging pagi ini. Jujur saja sebenarnya gadis itu tidak terlalu pintar memasak, ini kali keduanya dia mencoba sesudah masakan gosong tempo lalu. Malu? Jangan di tanya lagi, bagaimana mungkin seorang perempuan tidak bisa memasak.
Di dapur.
Lusi mulai mencari bahan yang dia butuhkan, dirinya mengambil cabai, bawang, kunyit dan lain-lain. Ketika semua bumbu selesai, Lusi pun langsung memasak.
Di dalam kamar, Aji sudah bangun bahkan dirinya telah selesai membersihkan diri. Pria itu berjalan menuruni tangga, dia mencium aroma aneh dari arah dapur. Setelah dilihat, ternyata di sana ada Lusi yang sedang berkutat di depan meja kompor.
Lusi menoleh, dia tersenyum kikuk sambil berdiri membelakangi kompor. Dia seperti menyembunyikan sesuatu dari Aji.
"Kenapa kamu berada disitu? Apa kamu sedang memasak? Biar aku lihat hasilnya, aku tadi mencium aroma aneh dari sini."
"Mas, ja—"
Terlambat, Aji menyingkirkan tubuh Lusi dan dia melotot ketika melihat rendang daging berwarna hitam. Ingin sekali tertawa tetapi dia menahannya sekuat tenaga. Aji menghirup napas dalam-dalam, dia memejamkan mata sesaat lalu membalikkan badan menghadap Lusi.
__ADS_1
"Kamu masak apa ini?"
"Itu, daging, Mas."
"Apa seperti ini cara memasak rendang?" tanya Aji santai namun penuh makna.
"Maaf, aku sudah mencobanya bahkan aku juga melihat cara memasak dari YouTube. Tapi hanya ini yang bisa aku praktekkan, dan kamu lihat sendiri hasilnya."
"Sangat menggelikan." Aji tersenyum miring. "Warnanya saja sudah seperti ini, bagaimana lagi dengan rasanya?"
Lusi menggedikkan bahu.
"Jika ingin belajar memasak, harusnya katakan saja padaku. Tidak perlu sok pintar seperti ini dan pada akhirnya membuang-buang makanan."
Gadis itu menunduk, dia sadar jika dirinya salah. "Maaf, Mas. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku hanya ingin membuatmu senang karena memakan masakan dariku, aku juga bisa menjadi istri yang berguna untukmu."
"Sudahlah, lain kalai aku akan mengajarimu memasak. Kamu sekarang pergilah panggil Aris, aku akan membuat sarapan."
Lusi menjadi malu, dia mengangguk lalu pergi dari hadapan Aji.
••••
__ADS_1
Tbc