Dilema Dalam Pernikahan

Dilema Dalam Pernikahan
Bab. 33 Menemui Aji


__ADS_3

Lusi mencari bocah yang dia lihat tadi, tetapi dirinya tidak mendapati anak tersebut.


"Apa mungkin anak itu sudah pergi dan dia memang bukan Aris?" Lusi memijit pelipisnya. "Ya Tuhan, lalu dimana Aris sekarang?" dirinya bingung dan hampir menangis.


Saat Lusi hendak kembali ke mobil, dia melihat ada kerumunan di sebuah warung kecil. Rasa penasaran mendorong gadis itu untuk datang kesana, dirinya melangkah perlahan dan memicing sejenak.


"Aris!" pekik Lusi sambil membekap mulutnya. Sementara Aris, bocah itu menatap Lusi dengan nanar.


Aris berlari dan dia langsung menghambur ke dalam pelukan sang tante. Dirinya masih menangis karena rasa takut yang melanda.


"Sayang, apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa ada disini? Tempat ini sangat jauh dari rumah kamu, nak." Lusi memeluk tubuh Aris sangat erat.


Salah satu warga mendekati Lusi, ibu itu menjelaskan apa yang mereka ketahui.


"Maaf, apa Anda keluarga dari anak ini?"


Lusi mengangguk. "Apa yang terjadi pada ponakan saya, Bu? Saya baru saja pulang dari luar negeri dan tidak mengetahui hal apa pun."


"Kami juga tidak tahu pasti apa yang terjadi dengan ponakan Anda. Tetapi, suami saya tadi menemukan anak ini sedang menangis di bawah pohon sana. Kami semua juga berencana membawa dia ke kantor polisi agar membantu anak ini menemukan keluarganya." jelas sang Ibu.


"Sayang, siapa yang membawamu ke tempat ini?" Lusi ingin mencari tahu kebenarannya.


"Hiks, tante Elena. Dia meninggalkan Aris sendirian, Aris takut, Tante."

__ADS_1


Lusi ikut sedih dengan musibah yang menimpa bocah kecil itu, dia mengelus pucuk kepala Aris lalu mengecupnya.


"Kamu tenang saja, sekarang sudah ada tante dan tidak akan ada lagi yang bisa menyakiti kamu. Tante akan berikan perhitungan pada Elena."


Aris mengangguk. "Aris ingin pulang, Aris takut." lriihnya terisak.


Lusi berpamitan pada warga sekitar, dia membawa Aris ke mobil dan mereka akan pergi ke restauran. Lusi sangat geram dengan apa yang dilakukan oleh Elena. Bisa-bisanya wanita jahat itu ingin menyingkirkan anak yang tidak bersalah.


'Dasar perempuan gi*la! Apa yang dia pikirkan sampai melakukan hal setega ini? Aku yakin Mas Aji pasti tidak akan memaafkanmu, Elena.' batin Lusi tidak sabar untuk bertemu Aji.


****


Di restauran, Elena terus menenangkan Aji. Benar saja, polisi belum bisa memproses laporan pria itu karena kejadian belum melewati 1x24 jam. Padahal Aji sudah memaksa dan marah, tetapi pihak kepolisian tetap tegas menyatakan tidak bisa menindaklanjuti laporan sebelum 1x24 jam.


"Mas, minum dulu kopinya." Elena bersikap manis, dia meletakkan segelas kopi di meja. Dirinya tersenyum dalam hati, dia merasa menang karena polisi tidak langsung mencari Aris.


"Mas, kamu berdoa agar Aris baik-baik saja. Aku yakin Aris anak yang kuat dan dia bisa melewati semuanya. Tinggal menunggu beberapa jam lagi polisi akan membantu kita untuk mencari Aris. Aku menyesal, kenapa bukan aku saja yang mereka bawa?" Elena menunduk.


"Jangan bicara seperti itu, Elena. Kamu terluka karena menolong Aris, aku tidak akan menyalahkanmu." Aji menggenggam jemari Elena hingga membuat wanita itu berbunga-bunga.


'Astaga, jantungku hampir saja copot. Apakah Mas Aris sudah membuka hati untukku? Ya ampun, senangnya. Rencanaku selama ini tidak sia-sia.' batin Elena berpikir jika dia sudah menang.


Saat mereka masih mengobrol, tiba-tiba Lusi masuk ke dalam restauran dan menegur keduanya.

__ADS_1


"Oh, jadi begini kelakuan kalian meskipun anak kamu hilang, Mas?" tuduh Lusi membuat Aji menoleh, begitupun dengan Elena. Raut wajah El sudah memerah dan dia menatap Lusi tidak suka.


Aji berdiri, dia mendekati Lusi dan bertanya. "Lusi, kamu ada disini? Sejak kapan kamu pulang dari luar negeri?''


"Aku baru saja pulang dan langsung mendapat kabar jika keponakanku hilang. Tetapi, kamu sebagai Ayah bukannya mencari malah duduk sambil mengobrol dengan wanita ini!" Lusi menunjuk Elena.


"Hei, jangan berani menunjukku seperti itu!" balas Elena tidak terima.


"Memangnya kenapa, wanita ular? Bermuka dua!'' tekan Lusi agar Elena sadar.


"Kamu—"


"Cukup, Elena! Kenapa kalian jadi bertengkar?" Aji menatap Lusi kembali. "Lusi, siapa bilang aku tidak mencari putraku? Aku sudah mencarinya bahkan aku sudah melaporkan kejadian ini ke polisi. Tapi kamu tahu jawaban dari polisi bukan? Mereka akan menindaklanjuti masalah Aris setelah 1x24 jam."


"Heh, hanya lapor polisi? Kamu tidak berusaha mencari anakmu dimana gitu? Wah, wah sekali, Mas! Aku sangat salut denganmu." Lusi tertawa hambar dan sedih. "Usaha bukan hanya lapor polisi saja, Mas. Kamu bisa mencari Aris tanpa bantuan dari polisi, jika kamu memang niat." lanjutnya membuat Aji terdiam.


"Sudahlah, Lusi. Kamu hanya akan membuat Mas Aji down saja. Bukannya menyemangati kamu malah memojokkannya!" marah Elena berusaha membela Aji.


"Benarkah? Aku tidak memojokkan, tetapi ini memang kenyataannya. Dia salah, kenapa tidak berusaha mencari putranya?" Lusi memicing ke arah Elena. "Oh, atau jangan-jangan kamu sengaja mencegahnya ya, Nona Elena?" tuduhnya membuat air wajah wanita itu berubah panik.


"A—apa yang kamu katakan?"


"Upss, benarkan ucapanku tadi? Soalnya, aku sudah menemukan Aris." Lusi menaikkan sebelah alisnya, dia ingin sekali tertawa melihat wajah kebingungan dari Elena.

__ADS_1


••••


Tbc


__ADS_2