Dilema Dalam Pernikahan

Dilema Dalam Pernikahan
Bab. 51 Kehadiran yang tidak di hargai


__ADS_3

Satu Minggu kemudian, keberadaan Lusi tidak lagi di pedulikan. Wanita itu benar-benar merasa sedih, jika seperti ini terus, maka dia memutuskan untuk bercerai. Untuk apa bertahan dengan orang yang sama sekali tidak menghargai dirinya.


Saat ini Lusi berada di taman, dia menatap lurus ke depan dan sedang memikirkan sesuatu. Sepanjang malam beberapa hari ini dirinya tidak bisa tidur dengan nyenyak karena kedatangan Ayesha.


"Huft, kenapa semuanya jadi begini? Aku benar-benar tidak menyangka jika perjalanan cintaku akan serumit ini." Lusi bergumam sendiri.


Dari kejauhan, ternyata ada seorang pria yang memperhatikan wanita itu. Pria tampan tersebut berlari kecil ke arah Lusi, dirinya berada di tempat ini karena melakukan aktivitas lari pagi. Ya, seperti inilah kebiasaan jika hari weekend.


"Ehem." pria tersebut berdehem setelah dia berada sebelah Lusi.


Lusi pun memutarkan bola mata jengah, dirinya ingin beranjak tetapi di tahan oleh Ronald.


"Nona, kenapa Anda selalu menghindar dari saya? Apa Anda malu karena kejadian tempo lalu?" Ronald masih mengingat kejadian yang membuat Lusi pasti sangat malu.


"Diamlah, kenapa harus membahas hal yang tidak penting?" ujar Lusi.


Ronald terkekeh pelan, tanpa meminta izin terlebih dahulu, dirinya langsung duduk di sebelah Lusi. Sementara Lusi, wanita itu menjaga jarak dan tetap menatap lurus ke depan.


"Apa Anda punya masalah?" tiba-tiba pertanyaan konyol itu terlontar begitu saja.

__ADS_1


"Kenapa Anda bertanya seperti itu? Tidak penting bagi saya untuk menjawabnya." Lusi berkata ketus.


"Baiklah, tapi setidaknya beritahu jika Anda ada masalah. Curhat itu bisa membuat hati kita lega."


"Tapi saya juga tidak akan curhat dengan sembarang orang." Lusi melirik wajah Ronald.


Pria itu menggedikkan bahu, dia merogoh kantong celana training karena ponselnya bergetar. Setelah mengobrol beberapa saat dengan orang di seberang sana, Ronald langsung beranjak dari bangku.


"Saya permisi karena ada hal penting yang harus saya selesaikan."


"Pergilah! Tidak ada yang meminta Anda tetap berada disini." tukas Lusi cuek tetapi mendapat tanggapan senyum manis dari bibir Ronald.


"Ronald Reagan?" ejenya pelaj tetapi penuh makna. Lusi segera menatap ke arah jalan Ronald, pria itu sudah tidak lagi terlihat.


"Jadi, ternyata dia—? Astaga, apa selama ini dia tahu kalau aku adalah gadis yang ada di aplikasi jodoh online itu?" Lusi menutup wajahnya menggunakan telapak tangan. Wanita tersebut berdoa agar dia bisa kembali bertemu pria itu.


••••


Tepat pukul delapan, Lusi seperti biasanya melakukan ritual malamnya yaitu menemani Aris tidur. Meskipun bocah itu sekarang lebih dekat dengan Ayesha, tetapi dia tetap meminta Lusi agar membacakan dongeng sebelum tidur dan menemaninya hingga terlelap.

__ADS_1


"Ma, Mama kenapa tidak pernah ikut jalan-jalan dengan aku dan papa?"


"Bukannya Mama tidak mau ikut, Mama itu ada pekerjaan lain, Sayang. Mungkin, lain kali kita bisa jalan bersama-sama." ujar Lusi bersedih, jujur dia merindukan masa itu sebelum ada Ayesha. Namun, semuanya sudah terjadi dan Lusi hanya mampu bertahan.


'Aku sangat ingin bercerai, tetapi aku tidak tega meninggalkan Aris bersama dengan wanita itu. Dia memang tidak pernah membuat masalah selama disini, namun aku takut jika itu hanyalah topeng belaka karena ada aku di rumah ini.' batin Lusi bingung, sifat Ayesha sama seperti Almarhumah sang kakak.


Selesai membacakan dongeng, Lusi langsung pergi keluar dari kamar Aris. Tak lupa dia mengecup dahi bocah kecil itu dan menyelimutinya. Sesampainya di luar, Lusi melihat Ayesha bersama dengan Aji sedang duduk di sofa ruang tamu. Keduanya seperti tidak memiliki beban apa pun, sungguh hati Lusi benar-benar terluka.


Dia bergegas menuju ke dalam kamar, dadanya tidak tahan merasakan sesak yang mendera. Rasanya sangat sakit bagaikan tertusuk ribuan duri. Setelah berada di kamar, wanita itu menghempaskan dirinya di kasur. Dia memukuli bantal sekuat mungkin untuk melampiaskan amarahnya.


"Benci, benci, benci! Aku membencimu, Mas!" teriak Lusi tertahan agar tidak di dengar oleh Aji.


"Kamu keterlaluan, kamu benar-benar sudah berubah. Baiklah, jika satu bulan ke depan sikapmu masih sama seperti ini dan tidak adil, maka aku akan meminta cerai. Itu keputusanku, untuk apa aku bertahan dalam rumah tangga yang sudah hancur seperti ini? Percuma, rasanya sia-sia aku mempertahankan cintaku sementara kehadiranku saja tidak di hargai. Bodoh! Itulah sebutan untuk diriku saat ini." Lusi menangis sesenggukan, dia memejamkan mata hingga akhirnya tertidur pulas.


Selama Ayesha tinggal disini, Aji tidak pernah tidur di kamar Lusi. Bahkan untuk menyapa saja jarang, pria itu tidak adil membagi waktu antara kedua istrinya. Sementara Ayesha, dia sudah berulangkali meminta pada Aji agar sesekali tidur di kamar Lusi. Namun, pria itu menolak dan memaksa tetap berada di kamar Ayesha.


••••


Tbc

__ADS_1


__ADS_2