
Saat keduanya ingin pamit menuju kamar, tiba-tiba Emily berlari kecil sambil menyebut Ronald.
"Paman!" teriaknya membuat kedua orang itu menoleh.
Ronald tersenyum manis lalu dia merentangkan kedua tangannya. Emily masuk ke dalam pelukan Ronald dengan hati riang.
"Paman, kenapa datang tidak memberitahu Emi?" tanya gadis kecil itu dengan suara cadel.
"Loh, bukannya paman sudah memberitahu Mami kamu?" Ronald sengaja memancing Emily.
"Tidak! Mami tidak mengatakan apa pun pada Emi." Emily cemberut.
Ronald tertawa melihat wajah menggemaskan itu, sementara Zakia hanya melipat kedua tangan di dada sambil menatap keduanya dengan horor.
"Emi, lihatlah Mami. Dia begitu seram, paman takut jika nanti di hajar Mami kamu. Kalau begitu, Paman dan Tante mau ke kamar dulu, ya?"
Emily melirik ke arah Lusi, dia lupa dengan wanita itu.
"Hai, Emily. Apa kamu masih mengingat Tante?"
Emily menggelengkan kepala dengan cepat.
"Baiklah, tidak perlu diingat. Perkenalkan, aku adalah Tante Lusi."
"Dan Tante Lusi sebentar lagi akan menjadi tantenya Emi." sambung Ronald secepat kilat.
Zakia dan Lusi hanya tersenyum bersamaan.
__ADS_1
Emily bersorak riang, akhirnya dia akan segera punya Tante. "Hole, belalti cebetal lagi Emi mau punya adik." ocehnya cadel karena sang Mama mengatakan jika Paman Ronald menikah, barulah Emi mempunyai adik.
Sontak keduanya langsung menatap ke arah Zakia yang hanya menampilkan gigi ratanya.
"Nanti kita akan jalan-jalan dengan Tante Lusi, tapi sebelumnya, paman dan Tante ingin beristirahat terlebih dahulu."
Emily mengangguk, dia tersenyum manis ke arah Lusi.
"Anak pintar," ujar Lusi sambil mengacak rambut Emily.
Kedua orang itu berjalan menaiki anak tangga, mereka masuk ke dalam kamar yang berbeda .
****
Sore hari pun tiba, Ronald mengajak Lusi berkeliling bersama dengannya dan Emily. Tentu saja wanita itu tidak mau menolak karena dia ingin tahu bagaimana keadaan kota tersebut. Mereka berhenti di sebuah toko ice cream. Ronald membelikan ice untuk keduanya, dia telah kembali dan menyodorkan dua jenis ice cream yang berbeda pada kedua perempuan itu.
Lusi memakan ice nya dengan santai, dia menikmati suasana disana sambil melihat ke sekeliling.
Ronald mengangguk.
Saat mereka sedang asyik mengobrol, tanpa sengaja seseorang menyenggol pundak Lusi dan hal itu membuat ice cream yang Lusi pegang terjatuh. Ronald dengan sigap berdiri dari tempat duduknya, dia menatap seorang pria itu dengan kesal.
"Lain kali hati-hati." tegur Ronald menggunakan bahasa daerah Swiss.
"Maaf, Tuan. Saya tidak sengaja," pria tersebut pergi dari hadapan Ronald setelah mengatakan maaf.
Setelah melihat sang pria menjauh, Ronald menatap wajah Lusi yang sudut bibirnya terkena ice cream. Perlahan, tangan Ronald terulur dan dia mengusap sudut bibir itu menggunakan ibu jarinya
__ADS_1
Lusi menjadi salah tingkah, dia menyelipkan anak rambut ke belakang telinga lalu berdehem pelan.
"Apa kita bisa pulang sekarang? Aku sangat lelah." ucap wanita itu.
"Baiklah, ayo."
Mereka akhirnya memutuskan pergi dari sana.
Tak terasa mereka telah sampai di kediaman Zakia, wanita itu sedang sibuk bekerja dan akan pulang malam hari. Ya, seperti itu biasanya hingga terkadang dia menyewa seorang baby sitter untuk menjaga sang putri. Namun, Kia melakukan itu semua demi masa depan putrinya. Papi Emily tidak mau tahu bagaimana keadaan putrinya, dia menelantarkan anak dan istrinya begitu saja. Sungguh Zakia sakit hati dengan perlakuan itu.
Lusi melihat ke sekeliling rumah, dia masih betah memandangi keindahan istana tersebut.
"Sayang, jika kamu ingin rumah seperti ini. Aku akan membuatkannya khusus untukmu."
Lusi kaget karena keberadaan Ronald yang tiba-tiba. "Aku hanya kagum saja melihat hiasan yang ada di rumah ini." ucap wanita tersebut sambil tersenyum manis.
Mereka berkeliling rumah dan Ronald menceritakan tentang perjalanan hidup kakaknya yang sangat menyedihkan. Lusi iba mendengar cerita itu, dibalik sikap Zakia yang ceria dan kuat, ternyata dia tetaplah wanita yang lemah. Dirinya berubah menjadi mandiri ketika di tinggal oleh suaminya. Sang suami berselingkuh dengan asisten pribadinya sendiri.
"Kenapa lelaki tidak bisa hidup hanya dengan satu wanita? Aku heran."
"Siapa yang mengatakan seperti itu? Tidak semua laki-laki itu sama, Lusi. Buktinya aku, dari kamu pergi menghilang tanpa jejak dan sampai sekarang, aku masih tetap setia pada satu hati yaitu kamu."
Lusi memicing. "Ron, kamu mendekati aku bukan untuk balas dendam 'kan?"
"Hei, mana mungkin! Apa yang kamu pikirkan?" Ronald tertawa.
Mereka akhirnya kembali masuk ke dalam rumah setelah puas berjalan-jalan di luar.
__ADS_1
••••
TBC