
Sore hari ini cuaca terlihat mendung, bahkan air hujan mulai jatuh ke bumi. Sementara Aji, dia masih setia berjongkok di depan makam sang istri yaitu Evi. Dia benar-benar membenci dirinya sendiri. Jika saja malam itu dia tidak mengajak Evi makan malam di luar, mungkin semuanya tak akan terjadi seperti ini. Namun, semuanya sudah terlambat. Menyesal juga percuma, dia sudah kehilangan wanita yang sangat dia cintai.
"Maafkan aku, Evi. Andaikan waktu bisa berputar kembali, maka aku tidak akan mengajakmu pergi. Aku benar-benar bodoh, aku bodoh!'' Aji menggenggam tanah yang masih basah itu.
Pria itu di temani oleh Lusi yang setia berdiri di sampingnya, sementara para orang tua sudah pulang terlebih dahulu karena kondisi tubuh yang tidak memungkinkan untuk berada di sana terlalu lama. Aris juga ikut bersama dengan Oma dan eyangnya.
"Mas, sepertinya akan turun hujan. Hari juga sebentar lagi Maghrib, bagaimana jika kita pulang terlebih dahulu? Besok kamu bisa datang kesini lagi,"
"Jika kamu ingin pulang, maka pulanglah sendiri. Aku masih ingin berada disini menemani istriku."
Seketika air mata Lusi menetes, dadanya sangat sesak mendengar ucapan Aji barusan. Berat? Tentu saja, pria itu pasti sangat berat kehilangan Ibu dari anaknya.
"Mas, aku mohon jangan berlarut-larut dalam kesedihan seperti ini. Tidak baik, Mas."
"Pergilah, Lusi! Aku ingin sendiri, jangan menggangguku." Aji menempelkan pipinya di batu nisan milik Evi, air matanya menetes dengan perlahan tetapi dia segera menghapusnya secepat mungkin.
Lusi memejamkan mata, hatinya sungguh tidak tega melihat Aji seperti ini. Bahkan, dia sejujurnya juga merasa sangat terpuruk kehilangan saudari yang sangat menyayanginya.
__ADS_1
"Mas, bukan kamu saja yang sedih dan merasa kehilangan. Kami semua sama sepertimu, kita merasakan hal yang sama. Tetapi, ini semua sudah kehendak Yang Maha Esa. Kita tidak bisa melawan maut, Mas. Bukan ini yang kak Evi inginkan, ketegaran, keikhlasan, dan doa darimu lah yang dia butuhkan." Lusi berjongkok di sebelah Aji yang ternyata sudah menangis dalam diam, pria itu sudah menahannya sekuat mungkin tetapi tidak bisa.
Aji hanya diam, dia memeluk nisan Evi sambil menciuminya. "Aku sangat merindukanmu, Evi. Aku mohon kembalilah, kenapa kamu tega meninggalkan aku dan anak kita? Mana janjimu? Kamu berkata ingin hidup denganku selama-lamanya, kamu ingin kita mengurus Aris bersama. Tapi kenapa kamu pergi secepat ini?" Aji menangis sesenggukan, ini tidak bisa dia terima.
"Mas, aku mohon jangan menangis. Sudahlah, kamu harus kuat. Ada Aris yang masih butuh semangatmu," Lusi mengelus pundak Aji secara lembut.
Mereka saling menangis di depan makam Evi.
****
Malam harinya, hujan baru saja berhenti. Aris terlihat berlari menuruni anak tangga, dia mencari sosok yang biasa membacakan dongeng untuknya ketika ingin tidur seperti ini.
"Sayang, kamu belum tidur?" Lusi bertanya sambil berjalan menghampiri Aris.
"Tante, Mama Aris," bocah tersebut menangis di dalam pelukan Lusi.
Lusi memeluk tubuh mungil itu dengan erat, dia mengecup dahi Aris dan kemudian melerai pelukan.
__ADS_1
"Sayang, dengerin tante. Mama Aris sekarang sudah tenang bersama Tuhan, dia melihat kita dari atas sana. Nah, maka dari itu, ganteng tante ini tidak boleh menangis. Jika Aris menangis, bagaimana kalau Mama juga ikut bersedih? Aris tidak mau Mama menangis 'kan?"
Aris menggeleng cepat.
"Good boy." Lusi mencium pipi keponakannya itu. "Aris harus menjadi anak laki-laki yang kuat, tegar, dan tidak boleh cengeng. Mengerti?"
Aris sekarang menganggukkan kepalanya.
"Anak pintar." Lusi mencoba memberikan semangat kepada Aris, bocah sekecil itu tentu saja sangat kasihan karena di tinggal oleh Mamanya.
"Kenapa Aris belum tidur? Apa Aris menginginkan sesuatu?"
"Aris mau tidur, tante. Tapi, biasanya Mama yang bacain Aris dongeng." keluhnya memelas.
"Oh, jadi kamu mau di bacain dongeng? Oke, let's go. Kita ke kamar, dan tante akan membacakan dongeng kesukaan Aris." Lusi menggenggam jemari bocah Lima tahun itu. Mereka berjalan menaiki anak tangga menuju kamar Aris.
••••
__ADS_1
Tbc