
Pagi hari yang cerah ini, Aris awali dengan mencoba untuk tersenyum. Dia membuka tas yang berisi pakaian juga uang, dirinya mengambil satu gepok uang berwarna merah itu lalu menghitungnya kembali.
"Ternyata bener hanya satu juta, papa benar-benar tega. Lalu bagaimana jika uang ini habis? Aku harus bekerja? Astaga, kerja apa?" Aris menjadi frustasi, tidak ingin galau di pagi hari, akhirnya pria itu memutuskan untuk pergi ke kamar mandi. Ini adalah hari pertamanya ke kampus baru, Aji mengatakan jika dia sudah mendaftarkan Aris ke universitas di kota.
Setelah selesai, mereka berdua keluar dari kamar. Di meja makan ternyata sudah ada Bibi dan Naina. Mereka tersenyum tipis lalu mempersilahkan kedua pemuda tersebut untuk makan bersama.
Aris duduk begitupun dengan Willson. Mereka heran melihat menu makanan yang ada di meja tersebut, disana tidak ada roti bakar, buah, atau sereal.
"Bi, apa ini?" Aris menatap semua menu masakan.
"Beginilah jika kamu sarapan di desa, Aris. Kalian berdua pasti heran karena tidak ada sereal disini. Ya, mulai saat ini kalian berdua harus membiasakan diri dengan kehidupan di desa."
Aris dan Willson hanya bisa pasrah. Mereka pun akhirnya memakan menu masakan itu, keduanya terlihat lahap karena ternyata rasanya tidak seburuk yang mereka pikirkan. Selesai sarapan, Aris berpamitan untuk pergi ke Kampus. Dia keluar dari rumah dan menatap ke sekeliling.
"Bi, kami harus pergi naik apa?" tanyanya bingung.
"Kebetulan jarak antara sekolah Naina dan kampus kalian tidak terlalu jauh, jadi kalian berdua bisa pergi bersama dengan Naina yaitu naik angkutan umum."
"Apa!" teriak Aris dan Willson bersamaan.
"A—angkutan umum?" tanya Aris mengulangi.
"Iya, jika kalian ingin naik taksi maka bayarannya lebih mahal, apalagi kalau taksi online." ucap Naina
Kedua pria itu saling tatap, mereka pasrah dan akhirnya ikut berjalan bersama dengan Naina menuju gang untuk menunggu angkutan umum.
Setelah sampai di ujung gang, mereka bertiga langsung mendapatkan kendaraan. Naina meminta agar keduanya naik tetapi mereka hanya diam di tempat.
__ADS_1
"Kak, ayo! Angkutannya sebentar lagi jalan, apa kalian mau ketinggalan sampai ke kampus?" ajak Naina sedikit kesal pada dua laki-laki itu.
Mau tidak mau keduanya masuk ke dalam angkutan itu, disana sangat sempit dan bahkan baunya tidak karuan karena banyak orang di dalamnya. Kedua pemuda itu menutup hidung dan perbuatan mereka mendapat tanggapan tidak suka dari para penumpang.
"Kak, tolong jaga sikap kalian. Banyak yang merasa tersinggung dengan tingkah kalian ini. Turunkan tangan kalian, kak. Tolong hargai para penumpang yang ada disini." bisik Naina.
Kedua pemuda itu menurunkan tangannya, mereka mencoba menahan segala bau yang menjadi satu di dalam sana.
Beberapa saat kemudian, akhirnya mereka telah sampai di kampus. Mereka bisa bernapas lega karena terbebas dari bau-bau aneh di dalam angkutan umum tadi. Aris dan Wilson menatap ke universitas yang ada di depan mereka, keduanya pun langsung masuk ke dalam sana. Tak sedikit mata yang menatap ke arah mereka, ada yang kagum karena ketampanan dan ada yang menganggap remeh karena gaya berpakaian mereka.
Ya, Aji sengaja membawakan pakaian sederhana untuk putranya begitupun dengan Willson. Intinya, mereka terlihat seperti anak desa biasa, hanya saja ketampanan keduanya yang tidak bisa menipu.
"Hei, apa mereka anak baru?"
"Sepertinya begitu, lihat saja penampilannya, sangat kampungan." ejek salah satu geng ketika Aris dan Willson lewat di depan mereka.
Setelah berada di dalam kelas, dosen meminta pada Aris untuk memperkenalkan diri. Sementara Willson, dia berbeda jurusan dengan Aris. Disana mata Aris terhenti ke sebuah kursi yang berada di bagian tengah. Dia melihat gadis yang waktu itu di temuinya tanpa sengaja. Gadis itu sama sekali tidak menatap ke arah Aris, dia sibuk mengamati buku yang berada di tangannya.
Sesudah melakukan sesi perkenalan, akhirnya Aris duduk dan tak jauh dari kursi Ayuna. Mereka mulai melakukan sesi belajar - mengajar.
****
Pukul tiga sore, Aris keluar dari kelas bersama dengan Willson. Tak terasa waktu dengan cepat berlalu dan mereka pun akhirnya keluar dari kampus. Ketika melewati parkiran, tanpa sengaja mata Aris menatap ke suatu arah. Disana ada Ayuna yang sedang berbincang dengan seorang pria. Aris mulai penasaran, entah kenapa dirinya tertarik dengan gadis itu.
Aris mulai menghampiri Ayuna, sementara gadis itu terkejut ketika dia membalikkan tubuhnya. Yuna memegangi dada, dia menatap Aris dengan rasa heran.
"Maaf, ada apa, ya?" tanyanya dengan suara lembut.
__ADS_1
"Tidak, aku hanya penasaran saja dengan apa yang kamu bicarakan pada pria tadi." Aris melirik ke arah pria yang sudah menjauh.
"Oh, dia itu hanya temanku. Dan, apa kita pernah bertemu atau kenal?'' Ayuna menatap wajah tampan Aris, tetapi bukan wanita itu yang salah tingkah melainkan Aris.
"A—aku, perkenalkan namaku Aris. Aku stay kelas denganmu, bahkan tempat duduk kita tidak terlalu jauh." ujar Aris mengingatkan.
Ayuna benar-benar lupa jika di kelasnya ada Mahasiswa baru, dia tertawa dan tawanya bisa menghipnotis seorang playboy seperti Aris.
"Astaga, maafkan aku. Aku melupakanmu, Aris." ujarnya ramah, dia memang sangat mudah berbaur dengan siapapun. Selain sederhana, dia juga baik dan penyabar.
"Tidak masalah. Tapi, aku belum tahu siapa namamu."
"Aku Ayuna."
"Nama yang bagus."
"Terima kasih,"
Keduanya pun berbincang hingga membuat Willson yang melihat dari kejauhan hanya menggelengkan kepala.
"Sepertinya aku harus mencari seorang gadis." Willson mengedarkan pandangan dan dia menghampiri gadis yang sedang berdiri di dekat tangga.
•
•
Tbc
__ADS_1