Dilema Dalam Pernikahan

Dilema Dalam Pernikahan
Bab. 47 Tempat tinggal baru


__ADS_3

Tak terasa waktu berjalan dengan cepat, saat ini Ayesha sudah menjadi istri dari seorang Aji Pranata. Pria tersebut sangat bahagia karena dia merasa Almarhumah istrinya sudah kembali. Dia benar-benar telah melupakan Lusi yang selalu setia menunggunya di rumah. Bahkan, Lusi sama sekali tidak tahu jika suaminya akan menduakan dia.


Tepat pukul delapan malam, Aji membawa Ayesha ke kotanya. Mereka langsung pindah karena pria itu mengatakan jika dirinya ada pekerjaan di restauran. Aji sudah hampir tiga hari tidak pulang ke rumah dan itu karena pria tersebut sedang repot menyiapkan pernikahan dengan Ayesha.


Pernikahan tersebut cukup tertutup, karena Meera tidak ingin nama baiknya diterpa isu miring.


Kembali pada Aji, mobil yang keduanya kendarai sudah sampai di rumah. Pria itu sengaja membeli rumah baru untuk tempat tinggalnya dan Ayesha. Dia belum ingin keberadaan wanita itu diketahui oleh keluarganya.


"Ayo, Sayang." Aji mengulurkan tangan dan langsung di sambut baik oleh Ayesha.


"Ini rumah kamu, Mas? Bagus sekali, mewah dan megah." Ayesha melihat ke sekeliling.


"Kamu menyukainya?"


Ayesha mengangguk. "Aku selalu suka, asalkan kamu yang memilihnya."


Deg.


Jantung Aji seakan ingin berhenti berdetak, ucapan Ayesha barusan mengingatkan dia pada kejadian beberapa tahun yang lalu, dimana dirinya membawa Evi ke rumah dan wanita tersebut berkata sama seperti Ayesha.

__ADS_1


'Mungkin ini hanya kebetulan.' batin Aji menggelengkan kepala.


Mereka masuk ke dalam kamar, Aji mempersilahkan sang istri agar istirahat terlebih dahulu.


Beberapa saat kemudian, dirinya kembali dengan membawa beberapa pakaian dan bingkai foto. Lalu, Aji duduk di sebelah Ayesha yang kala itu sedang bersantai di atas ranjang.


"Apa itu, Mas?"


"Ayesha, aku ingin kamu berpenampilan seperti almarhumah istriku."


Seketika senyum di bibir Ayesha memudar. "Maksudnya?"


"Mas, ini—" Ayesha menunjuk bingkai.


"Itu almarhumah istriku. Bukankah wajahnya sangat mirip denganmu? Benar-benar persis dan tidak ada perbedaan sama sekali."


'Tenyata benar, di dunia ini ada satu orang yang bisa saja sangat mirip dengan kita. Tapi, kenapa dia begitu sama persis denganku? Bahkan, sepertinya tidak ada perbedaan sekalipun." Ayesha masih menatap foto di dalam bingkai tersebut. Itu memanglah dirinya, tetapi dia tidak saat ini mengalami amnesia dan lupa akan segalanya.


"Ayesha, apa kamu mau menuruti permintaanku? Aku sangat merindukan Almarhumah istriku. Aku ingin kamu berpenampilan dan bergaya seperti dia, aku mohon." pinta Aji memelas.

__ADS_1


'Apa yang dia katakan? Dirinya menikahiku hanya karena aku mirip dengan almarhumah istrinya?' Ayesha menggelengkan kepala, baru juga menikah tetapi dia sudah diberikan kejutan pahit seperti ini.


"Kenapa kamu diam? Kamu tidak mau menuruti perkataanku?" tukas Aji penuh penekanan.


"B—bukan begitu, Mas. Tapi—"


Aji beranjak dari ranjang, dia berdiri sambil menatap Ayesha penuh kekesalan. "Apa segitu sulitnya kamu mengubah penampilan seperti Evi? Kamu tinggal mengubah gaya rambutnya dan cara berpakaian, itu saja!" Aji memaksa dan membuat Ayesha menganggukkan kepalanya.


"Aku, aku akan menurutinya. Mulai besok, aku pasti sudah menjadi seperti yang kamu inginkan."


Aji tersenyum manis, dia kembali duduk lalu memegang dagu Ayesha alias Evi.


"Bagus sekali, Sayang. Inilah jawaban yang aku inginkan." Aji mengecup dahi Ayesha.


Sementara wanita itu, dirinya tersenyum terpaksa. Dia ingin melawan dan menolak, tetapi hatinya tidak berani mengatakan penolakan.


••••


Tbc

__ADS_1


__ADS_2