
Aji yang kala itu sedang membeli es kelapa muda sontak menoleh karena suara seorang wanita, yang tiba-tiba muncul di sampingnya. Dia tidak mengenal wanita itu, tetapi wajahnya sangat familiar di mata Aji. Pria menautkan kedua alis, dia heran karena wanita itu mengenal dirinya.
"Apa kita pernah bertemu?" tanya Aji pada Elena.
"Hei, kamu melupakan aku? Ck, ayolah, Mas. Apa kamu benar-benar tidak mengingat aku?"
"Ya, saya merasa jika wajahmu tidak asing. Tetapi, saya lupa kita pernah bertemu dimana."
"Mas, tentu saja kita pernah bertemu. Bahkan sering. Aku Elena, adik kelas kamu sewaktu SMA."
Aji terdiam sembari mengingat nama Elena, dia menepuk dahinya dan tertawa kecil.
"Astaga, maaf aku melupakanmu, Elena." ucap Aji tidak enak hati.
"Kali ini aku maafkan, tapi untuk lain kali tidak akan." gurau Elena membuat Aji tertawa.
Dari kejauhan, Evi memicing ke arah Aji dan wanita cantik nan seksi yang ada di sebelah suaminya itu. Dirinya penasaran karena interaksi keduanya terlihat sangat akrab. Hati kecil Evi mulai merasa tidak enak, dia pun bergegas menghampiri suaminya.
Sesampainya di dekat Aji, Evi langsung menggandeng lengan pria tersebut dan mendapat tatapan tidak suka dari Elena.
"Mas," sapa Evi menatap Aji.
__ADS_1
"Eh, sayang. Maaf, kamu menunggu lama ya?"
Evi menggeleng. "Tidak terlalu, aku hanya penasaran dengan siapa kamu berbicara." ucapnya jujur.
"Oh iya, perkenalkan ini Elena. Dia teman masa sekolahku dulu sewaktu SMA." Aji mengatakan pada Evi. "Dan Elena, dia ini Evi. Istriku," pria itu bergantian melirik Elena yang raut wajahnya berubah masam.
Kedua wanita cantik itu saling berjabat tangan dan mengumbar senyum tipis, Elena terpaksa memberikan senyuman itu agar Aku tidak curiga.
"Jadi kalian sudah saling mengenal? Pantas saja terlihat akrab." ujar Evi tanpa ingin menyinggung siapapun.
"Bahkan kami dulu sering main dan jalan bersama. Benarkan, Mas?" Elena seakan-akan mengatakan, jika dia sudah dekat terlebih dahulu dengan Abi dibandingkan Evi.
"Nah, berhubung kita bertemu disini. Bagaimana jika kita minum es bersama dan mengobrol? Hm," tawar Elena menatap Aji.
Aji sendiri melirik sang istri, dia seperti meminta izin kepada istrinya itu
"Mas, kamu takut dengan istrimu? Astaga," ejek Elena memutarkan bola matanya kesal.
"Bukan begitu, El. Aku hanya—"
"Kakak ipar, aku dan Mas Aji sudah lama berpisah. Ya, selama dua belas tahun, baru sekarang kami bertemu kembali. Lalu, apa kamu tega menolak tawaran baikku ini?"
__ADS_1
Sejujurnya Evi tidak mau melihat Aji dekat dengan Elena, entah mengapa hatinya merasa gelisah. Tetapi, dia juga tidak boleh egois menolak tawaran yang wanita itu pinta.
"Baiklah, tapi mungkin tidak akan lama."
"No problem! Ayo, Mas." Elena tersenyum bahagia sambil menarik lengan Aji, sementara pria itu menggenggam erat jemari sang istri.
Di perjalanan menuju bangku, Elena kesal karena kedua orang di sampingnya sangat mesra. Bahkan, Aji terlihat tidak mau lepas dari istrinya itu.
'Sial! Kenapa Mas Aji begitu mencintai wanita ini? Ya, memang wajahnya sangat cantik dan bodynya juga oke. Tapi, aku juga tidak kalah cantik dan seksi dari wanita itu.' ketus Elena kesal di dalam hati.
Dirinya duduk bersebrangan dengan sepasang pengantin baru itu, dia melirik Evi yang juga menatapnya.
'Aku yakin jika wanita itu pasti tahu, kalau diriku mengagumi Mas Aji. Huh, biarkan saja. Aku sama sekali tidak peduli,' batin Elena tanpa rasa bersalah jika dia mengagumi suami orang.
****
Tbc
Perasaan Evi jadi gak enak nih guys 🙂
__ADS_1