
Keesokan harinya, Evi memutuskan untuk berkunjung ke restauran guna melihat-lihat kondisi disana. Setelah sampai di restauran tersebut, Evi melihat suaminya sedang berbincang dengan seorang wanita. Dia seperti mengenal wanita tersebut, dirinya mendekat dan berjalan tanpa mengalihkan pandangan.
"Mas?" panggil Evi membuat Aji dan Elena menoleh.
Evi terdiam sesaat, dia memberikan senyum tipis kepada Elena kala wanita itu telah menatapnya. Sementara Elena, dia hanya terdiam tanpa membalas senyuman dari Evi. Dia merasa jika kedatangan Evi akan menghancurkan rencananya.
'Sial! Kenapa sih dia harus datang kesini? Menyebalkan.' batin Elena geram.
Dia terpaksa mengembangkan senyum kala menyadari jika Aji melirik dirinya.
"Hai, Evi. Apa kabar?" tanya Elena berbasa-basi.
"Hai, kabarku baik." jawab Evi diselingi senyum tipis. "Mas?" lanjutnya sambil melirik Aji yang peka akan pertanyaan Evi.
"Sayang, maaf aku lupa mengatakan padamu. Mulai hari ini, Elena akan bekerja di restauran ini. Sebagai penggantimu, yaitu manager. Dia sedang dalam musibah dan membutuhkan pekerjaan, maka dari itu aku menolongnya. Kamu tidak keberatan bukan?" jelas Aji dengan suara pelan.
Elena sedikit mendengar percakapan keduanya, dia tersenyum sinis dan menyibakkan rambut ke belakang dengan angkuh.
'Saat ini aku sudah menjadi penggantimu di restauran, dan suatu saat nanti, aku juga akan menggantikanmu sebagai Ratu Pranata. Lihat saja!' tekad Elena dalam hati.
__ADS_1
Elena segera menghampiri pasangan suami istri yang terlihat sudah selesai berbincang itu. Dia berpura-pura baik dan memasang wajah lugunya.
"Maaf, apa kalian berdua sudah selesai berbicara? Mas, kamu tidak lupakan, kalau kita hari ini akan pergi ke restauran cabang yang ada di kota sebelah?" Elena sengaja menyebut perkataan kita, supaya Evi cemburu.
Evi melirik Elena dengan tatapan tidak suka, lalu dia bergantian menatap Aji.
"Sayang, kamu ingin ikut atau tidak?"
"Aku—" belum selesai Evi berbicara, Elena sudah menyelanya dengan cepat.
"Kenapa Evi harus ikut, Mas? Bukankah aku yang akan menemanimu? Begini, bagaimana jika Evi memantau keadaan di restauran ini saja? Sementara kamu dan aku, pergi ke restauran cabang?" tawar Elena yang memiliki pikiran licik.
'Aku harus lebih berhati-hati, Elena bukan wanita baik. Tapi bagaimana mungkin? Mas Aji dan wanita itu sudah berteman lama. Bahkan, mereka lebih dulu saling mengenal di bandingkan aku.' batin Evi bingung.
"Ya sudah. Aku pergi dulu, ya, sayang?" Aji mengecup dahi Evi membuat Elena memutarkan bola matanya malas. "Kamu hati-hati disini," lanjutnya sambil tersenyum.
"Salsa!" teriak Aji memanggil nama salah satu pegawai lamanya.
"Ya, Pak?"
__ADS_1
"Tolong jaga Ibu, saya ingin melihat situasi di restauran cabang. Sementara saya pergi, Ibu yang akan menghandle semuanya disini."
"Baik, pak." jawab Salsa.
Aji melepaskan genggaman tangannya, dia tersenyum dan melambaikan tangan pada Evi.
****
Dua hari kemudian, Lusiana pulang ke Indonesia. Dia sangat rindu dengan Mama dan kakaknya. Sesampainya di bandara, gadis itu tersenyum lega dan melihat ke sekeliling.
"Akhirnya, aku sampai juga di tanah air tercintaku ini." Lusi memejamkan mata sesaat dan tanpa sengaja seseorang menubruknya hingga gadis itu terjatuh.
"Aw," keluhnya sambil memegang pundak sebelah kanan.
"Maaf," ujar pria itu singkat lalu pergi meninggalkan Lusi tanpa rasa bersalah, dia terlihat sedang menelepon seseorang sambil berjalan cepat.
"Ck, dasar pria yang tidak tahu tanggungjawab! Bukannya membantu aku, malah langsung pergi. Menyebalkan! Jangan sampai aku bertemu dengan pria sepertinya lagi." gerutu Lusi kesal, dia berdiri dan menggeret kopernya untuk segera pergi dari bandara.
*****
__ADS_1