Dilema Dalam Pernikahan

Dilema Dalam Pernikahan
Bab. 44 Memenuhi undangan penting


__ADS_3

Dua Minggu kemudian, Aji di undang oleh salah satu pelanggannya yang sewaktu itu memesan ratusan porsi dengan menu makanan yang berbeda. Tentu saja dia akan hadir, mana mungkin dirinya menolak undangan dari orang penting seperti itu. Namun, pria itu hanya akan pergi sendirian. Sementara Lusi dan Aris, keduanya memilih untuk diam di rumah. Berjalan-jalan ke luar kota seperti itu bukanlah kebiasaan mereka. Meskipun Aji mengatakan jika dirinya bukan hanya sekedar jalan-jalan saja.


Tiba saatnya Aji sudah sampai di tempat tujuan, dia membenahi pakaiannya dan menata kembali rambutnya. Setelah itu, pria tersebut segera masuk ke dalam gedung perusahaan.


Sesampainya di dalam, ternyata sudah banyak orang dengan memakai pakaian formal disana. Minder? Tidak, karena saat ini Aji juga sudah terlihat seperti seorang pengusaha terkenal. Dirinya menatap ke seluruh penjuru gedung itu, dia sedang mencari sang CEO perusahaan ALE GROUP.


"Halo, Pak Aji," sapa seorang pria yang datang dari belakang Aji.


"Halo, pak." Aji menjabat tangan pria itu yakni sang pemilik perusahaan.


"Akhirnya Anda sampai juga disini, bagaimana perjalanan Anda tadi? Apakah ada kendala?" pria tersebut bersikap ramah pada tamunya.


"Semuanya berjalan lancar," jawab Aji seadanya.


Keduanya duduk di salah sofa, mereka berbincang mengenai masalah pekerjaan dan makin lama semakin ke pribadi.


"Bagaimana restauran Anda, Pak Aji?"


"Ya, saya bersyukur karena pelanggan bertambah banyak dan pendapatan setiap bulannya naik pesat."

__ADS_1


"Wah, pasti ada wanita hebat yang selalu memberikan semangat dan doa untuk Pak Aji,"


"Tentu saja, Ibu saya adalah penyemangat bagi saya."


"Benarkah, hanya Ibu? Bagaimana dengan istri Anda?"


Seketika wajah Aji berubah menjadi sendu, tetapi sejenak kemudian dirinya kembali biasa saja.


"Istri saya—" suara seseorang menghentikan perkataan Aji, dia menoleh karena sangat mengenali suara itu.


"Kak Alex!" teriak wanita yang tak jauh dari sofa.


Kedua pria yang duduk di sofa itu sama-sama menoleh, tetapi raut wajah mereka sangat berbeda. Aji syok karena dia melihat seorang wanita yang wajahnya sangat mirip dengan almarhumah sang istri. Sementara Alex, dia tersenyum manis sambil melambaikan tangan.


Setelah wanita tersebut berada di sofa, Aji masih menatapnya tanpa berkedip. Sungguh ini sangat mustahil, bagaimana mungkin ada wanita yang wajahnya sangat mirip dengan Evi? Ingin sekali rasanya Aji menangis sambil memeluk tubuh wanita itu, dia sangat merindukan Almarhumah istrinya meskipun sudah ada Lusi, tetapi bagi Aji, almarhumah sang istri tidak akan pernah tergantikan.


"Kak, ada apa dengannya? Kenapa dia menatapku seperti itu?"


Alex menggedikkan bahu. "Pak! Pak Aji!" panggilnya penuh penegasan.

__ADS_1


Aji langsung tersadar, dia mengusap wajah dan mengedipkan matanya berulangkali.


"Apa ada masalah? Kenapa Anda menatap adik saya seperti itu?''


"Adik?" ulang Aji sangat pelan hingga suaranya tidak di dengar oleh siapapun.


"Perkenalkan, dia Ayesha, adik saya." Alex tersenyum sambil merangkul pundak Evi dari samping.


Aji susah payah menelan ludah ketika Ayesha tersenyum. Dia mengingat senyum itu yang sangat mirip dengan almarhumah Evi. Dirinya mencoba menerima uluran tangan wanita tersebut meskipun gemetaran.


"Aji,"


"Ayesha."


Keduanya berjabat tangan hanya sebentar, Aji memalingkan wajah sesaat karena dia harus sadar jika Evi sudah tiada.


'Dia itu hanya mirip dengan istrimu, Aji. Pastinya dia bukan Evi, wanita yang sangat kamu cintai telah tiada. Mana mungkin dia hidup kembali?' batin Aji masih tidak habis pikir akan kesamaan wajah keduanya.


Aji menatap Ayesha yang sedang berbincang dengan Alex, suaranya, bentuk tubuh, senyum, tingkah, semua sangat mirip dengan Evi. Hanya gaya berpakaian saya yang berbeda.

__ADS_1


••••


Tbc


__ADS_2