
Hari ini Lusi berniat untuk kembali ke negara tercinta, dia sudah memutuskan berhenti sekolah dan akan membantu Aji mengurus bisnisnya seperti yang diinginkan oleh sang Mama. Gadis itu benar-benar meminta maaf pada Almarhumah sang kakak karena tidak bisa menjadi seorang pramugari seperti yang diimpikan oleh Mama mereka. Namun, Lusi meninggalkan sekolahnya demi Mama juga.
Beberapa jam dia berada di pesawat, dan akhirnya kini telah sampai di bandara. Gadis itu langsung mencari taksi agar bisa mengantarkannya pulang ke rumah. Di sepanjang perjalanan, Lusi terus saja menguap. Jujur beberapa hari belakangan ini dirinya kurang tidur karena memikirkan sesuatu.
Saat Lusi hendak memejamkan mata, dia tak sengaja melihat anak kecil di pinggir jalan yang usianya hampir sama dengan Aris. Tetapi, gadis itu tidak memperdulikan karena dia berpikir jika anak itu sedang bersama orang tuanya.
"Aku mengantuk sekali," Lusi kembali menguap, dia menepuk pundak sang sopir. "Pak, alamatnya sudah saya beritahu. Saya ingin tidur sebentar, beritahu jika sudah sampai ke tempat tujuan." pintanya.
"Baik, Nona." sang sopir mengangguk paham.
Lusi pun memejamkan mata dan terlelap.
****
Di restauran, Aji tengah bingung karena Elena mengatakan jika putranya itu di culik oleh seseorang. Terbukti ada lebam di bagian bibir dan mata Elena, bahkan pakaian wanita itu juga sedikit compang-camping.
"Aku harus segera lapor polisi, El."
"Tunggu, Mas! Tapi kita tidak punya bukti. Bahkan belum dua puluh empat jam Aris menghilang, aku hanya takut jika polisi tidak akan menindaklanjuti permasalahan ini." cegah Elena berharap Aris sudah pergi jauh.
__ADS_1
"Tapi, El. Aku tidak bisa tenang, bagaimana keadaan putraku? Sudah cukup aku kehilangan Evi, aku tidak ingin kehilangan putraku juga." tegas Aji tetap memaksa ke kantor polisi.
Pria itu berjalan cepat ke arah mobil membuat Elena ketar-ketir, dirinya berdoa agar proses laporan Aji di perlambat. Namun, baru saja hendak masuk ke dalam mobil, pria itu mendapatkan telepon dari seseorang. Dirinya terdiam dengan tangan terkepal erat di pintu mobil.
"Baik, aku akan menunggu." ucapnya dingin lalu memutuskan sambungan telepon.
Elena penasaran mengapa Aji tidak jadi pergi, wanita itu tersenyum puas dan berlari kecil menghampiri pria tampan itu.
"Mas, kenapa kamu tidak jadi pergi?" tanyanya lemah lembut.
"Aku berubah pikiran," jawab Aji sebisanya diselingi senyum manis agar Elena tidak curiga sama sekali.
****
Masih setengah perjalanan, Lusi terbangun karena panggilan dari Sopir.
"Nona, itu ada telepon masuk." ucap sang sopir menunjuk ke arah tas yang berada di pangkuan Lusi.
Gadis itu mengucek mata, dia kembali menguap dan tersenyum malu.
__ADS_1
"Maaf merepotkan, Pak. Saya ngantuk sekali,"
"Tidak masalah, Nona."
Lusi menjawab telepon dari Mamanya, dia terdiam mendengarkan suara sang Mama yang terlihat sangat khawatir.
"Ma! Ada apa? Katakan padaku," pinta Lusi memaksa karena Mamanya seperti menangis.
Jawaban dari Mama membuat Lusi melotot, gadis itu membekap mulutnya sendiri. Kantuk yang tadi menyerang tiba-tiba hilang begitu saja.
"Baik, Ma. Aku akan mencarinya!"
Lusi meminta pada sopir agar memutar balikkan mobil.
Beberapa saat kemudian, Lusi meminta pada sang sopir agar menghentikan mobilnya di pinggir jalan, lebih tepatnya bawah pohon besar yang tadi dia melihat anak kecil seusai Aris. Dirinya mengedarkan pandangan dan mencari sosok anak kecil tadi.
••••
Tbc
__ADS_1