
Elena marah dan kesal ketika dia mengetahui keadaan Evi yang baik-baik saja. Dirinya mendapat kabar karena menghubungi Aji, lalu bertanya alasan apa yang membuat pria itu tidak datang ke restauran. Disitulah Aji mengatakan jika istrinya baru saja melahirkan dan saat ini perlu di jaga dengan ketat. Jahitan operasi milik Evi belum kering hingga wanita itu tidak boleh kemanapun.
Elena merasa iri pada Evi karena wanita itu sangat beruntung mendapatkan suami seperti Aji. Dia geram, harusnya dialah yang hidup bersama dengan Aji dan bukan Evi.
"Kenapa dia bisa selamat?" Elena meremas rambutnya secara kasar. "Baik, rencana pertama gagal. Suatu hari nanti, aku pasti akan melakukan hal lain untuk melenyapkanmu, Evi. Lihat saja?" ungkapnya menatap lurus ke depan dengan tajam.
Dia berdecak lalu berjalan menuju keluar rumah. Hari ini dia harus tetap bekerja, siang nanti dirinya berencana menjenguk Evi agar tidak menimbulkan rasa curiga di hati Aji.
****
Berbeda dengan Elena, pasangan suami-istri yang baru saja menyandang status Ayah-Ibu, kini terlihat tampak bahagia. Mereka sangat bersyukur telah di karunia putra tampan nan menggemaskan seperti Aris. Ya, Aris Pranata, bayi mungil dengan berat sekitar 3,5kg saat lahir waktu itu.
Evi sudah di perbolehkan pulang ke rumah, hal itu membuat Aji merasa lega. Meskipun uang Aji banyak, tetapi pria itu belum berniat untuk menggunakan jasa baby sitter. Dia hanya ingin mengurus sang bayi bersama dengan istrinya saja. Mereka berdua harus merasakan nikmatnya menjadi orang tua yang merawat bayi menggunakan kedua tangan sendiri. Tidak merepotkan orang lain.
"Eum, anak Papa udah wangi." Aji mencium pipi bayinya sejenak karena baru saja selesai mandi. Dokter lah yang memandikan baby A.
"Mas, jangan sering di cium seperti itu." pinta Evi sangat posesif kepada sang bayi.
"Iya, Mama. Nah, kalau Aris tidak boleh di cium, bagaimana jika aku mencium Mamanya saja?" Aji mengedipkan sebelah matanya.
"Apa-apaan sih, Mas? Bahkan jahitan operasiku saja belum kering."
Mereka tertawa bersama.
Beberapa menit kemudian. Pintu kamar diketuk saat mereka sedang asyik mengobrol.
"Siapa?" tanya Aji dengan suara teriakan.
__ADS_1
"Bi Nani, Pak!" jawab sang asisten rumah tangga.
Aji berjalan menuju ke arah pintu. "Ada apa?" tanyanya setelah berhadapan dengan Bi Nani.
"Di depan ada tamu, Pak. Katanya dia ingin menjenguk Nyonya."
"Tamu? Perempuan atau laki-laki?"
"Perempuan." jawab Bi Nani.
Aji merasa penasaran, dia meminta kepada Bi Nani agar mengatakan pada tamu itu jika dirinya akan turun ke bawah sebentar lagi. Pria itu meminta izin kepada istrinya untuk melihat siapa yang datang. Setelah mendapatkan persetujuan, dia segera pergi ke lantai bawah.
Saat sudah sampai di lantai akhir, Aji seperti mengenal wanita itu.
"Elena?" sapanya membuat Elena menoleh, wanita itu mengembangkan senyum manisnya.
"Tidak masalah. Kalau begitu, kita langsung ke kamar saja. Kebetulan Evi baru selesai mandi dan dia sedang bermain dengan Aris."
Elena mengangguk setuju, mereka berdua berjalan menaiki anak tangga. Sesampainya di kamar, wanita itu tersenyum manis ke arah Evi. Namun, orang yang dia berikan senyuman itu hanya diam tak bereaksi.
"Apa kabar, Evi?" tanya Elena ketika sudah berada di dekat Evi.
"Aku sehat dan baik-baik saja." jawab Evi diselingi senyum tipis.
"Oh ya, aku membawakan ini untukmu dan ini untuk putra kalian." Elena menyodorkan paper bag berwana putih berisi dua pasang baju bayi dan satu kotak roti untuk Evi.
"Terima kasih, seharusnya tidak perlu repot-repot begini."
__ADS_1
Elena hanya tersenyum. "Wah, dia sangat tampan sekali. Persis seperti Mas Aji,"
Perkataan Elena barusan mampu membuat Evi melihat wanita itu dengan tatapan tidak suka. Entah kenapa hatinya merasa tak tenang jika berada di dekat Elena. Mungkin karena Evi sudah mengetahui kebusukan wanita itu dan juga sifat liciknya.
"Kapan aku bisa memiliki Putra seperti ini? So cute." Elena mengelus pipi Aris menggunakan punggung jari telunjuknya.
Pandangan mereka teralihkan karena bunyi ponsel milik Evi. Sang pemilik ponsel segera mengambil benda pipih berbentuk segi empat panjang itu. Dia menjawab panggilan video dari Lusi dengan senyum manis.
"Halo, adikku." sapa Evi berbinar ketika wajah Lusi muncul di layar ponselnya.
📱"Halo, kakakku. Dimana keponakanku yang comel itu? Apa dia sudah mandi?"
"Dia baru saja tidur," Evi mengarahkan kameranya pada Aris yang terlelap.
Di seberang sana, senyuman Lusi mendadak hilang karena dia sekilas melihat Elena yang berada di kamar sang kakak.
📱"Kak, kenapa nenek lampir itu berada di kamar kakak?"
Evi menutup kamera dan mengecilkan volume di ponselnya, dia menatap Elena dengan senyum geli. Jujur saja dia ingin tertawa mendengar nama panggilan yang Lusi berikan untuk wanita itu.
"Maaf, Lusi memang suka asal bicara. Aku mohon jangan dimasukkan ke dalam hati," ucap Evi meminta maaf kepada Elena demi adiknya.
Sementara Elena, dia terdiam sambil menatap ponsel di tangan Evi dengan kesal. Aji yang berada jauh dari mereka, tentu saja tidak mengetahui hal yang terjadi saat ini.
••••
Tbc
__ADS_1