Dilema Dalam Pernikahan

Dilema Dalam Pernikahan
Bab. 7 Malam syahdu


__ADS_3

Malam harinya, setelah berada di dalam kamar, Evi melirik ke arah Aji yang memasang ekspresi biasa saja. Dirinya harus menjaga keutuhan rumah tangga mereka, perasaan Evi benar-benar tidak enak jika Elena berada di dekat mereka.


"Hei, ada apa?" Aji memeluk tubuh Evi dari belakang.


"Tidak ada, Mas. Aku hanya memikirkan tentang Elena saja. Dia sangat cantik, ya?'' Evi ingin melihat kesetiaan dan seberapa kuat iman Aji.


Suaminya itu mengedikkan bahu. "Bagiku, tidak ada lagi wanita cantik selain dirimu." pria itu menyelipkan anak rambut Evi di telinga, dirinya mengecup pipi wanita itu dengan lembut.


"Mas, kenapa kamu menggangguku?" Evi merasa malu.


"Lihat saja, pipimu bersemu merah. Kamu pasti malu, ya? Hm, hayo ngaku." Aji memeluk erat pinggang ramping Evi, dia sedikit memainkan kumisnya di sekitar leher wanita tersebut.


"Mas, geli."


Aji pun menghentikan gurauannya, dia memandang wajah cantik Evi yang makin hari semakin bersinar dimatanya.


"Sayang, apa kamu cemburu dengan kedatangan Elena?" tanya Aji serius.


Evi hanya tersenyum, tetapi tidak ada jawaban dari bibir mungilnya.

__ADS_1


"Kenapa? Sayang, aku dan dia itu sudah kenal lama. Ya, kamu tidak perlu khawatir karena aku menganggap Elena hanya sebatas teman biasa. Tidak lebih,"


"Tidak ada pertemanan antara pria dan wanita, Mas." Evi berkata sambil memainkan kancing baju kemeja Aji.


"Maksudnya?"


"Aku yakin jika kalian berteman dan sering jalan bersama, pasti salah satu di antara kalian akan ada yang terbawa suasana. Perasaan itu sangat sensitif, Mas. Apalagi bagi seorang wanita. Sedikit saja kamu memberikan perhatian, maka dia mengira jika dirimu menyukainya. Ya, meskipun itu hanya sebatas kepedulian biasa terhadap teman." Evi menjelaskan dengan lemah lembut dan tenang.


"No, Evi Andriana!" bantah Aji. "Itu menurut pemikiran kamu, tetapi tidak dengan kami." Aji mengacak gemas rambut Evi.


"Terserah kamu saja, Mas. Intinya, aku hanya bisa berpesan. Jangan terlalu dekat dengan wanita lain, maaf jika menurut kamu aku itu terlalu posesif. Tetapi, ini semua aku lakukan demi kebaikan kita bersama." Evi menatap manik mata Aji yang memancarkan ketenangan.


"Aku ini wanita, Mas. Dan feeling seorang istri, rata-rata benar adanya."


Aji mengangguk paham, tatapan mereka beradu dan perlahan keduanya sama-sama memejamkan mata sejenak.


Cup.


Kecupan lembut mendarat di bibir satu sama lain, Evi tidak menolak karena inilah tujuan mereka datang ke kota Bali. Ya, untuk menghabiskan waktu bersama dan berbulan madu. Wanita itu telah siap mengabdikan hidupnya untuk sang suami, dia sudah rela jika malam ini mahkotanya akan hilang di ambil oleh Aji.

__ADS_1


"Lakukanlah, Mas. Aku sudah siap lahir dan batin." ungkap Evi lembut membuat jiwa Aji terlena.


Mereka berdua saling melu*m*at bi*bir satu sama lain, perlahan kecu*pan Aji turun ke leher jenjang milik Evi. Perlahan, dia membuka kancing baju milik istrinya itu. Tangan nakalnya bergerilya memasuki bagian buah melon yang amat menggoda iman itu.


"Apa aku boleh melakukannya?" tanya Aji menatap Evi yang sudah terbuai oleh permainan.


"Ya, aku sudah siap."


Aji tersenyum lebar mendengar jawaban dari Evi, dia kembali melakukan kegiatan yang akan membawanya berada di puncak kenikmatan.


Beberapa menit kemudian, mereka berdua sama-sama sudah tidak memakai sehelai benangpun. Aji terhipnotis akan keindahan tubuh istrinya yang putih mulus tanpa noda sedikitpun. Dia menatap seluruh tubuh Evi dan tak berkedip, hal itu membuat sang empunya malu-malu kucing.


"Mas, kenapa menatapku seperti itu? Ayo lakukan saja apa yang kamu inginkan,'' bujuk Evi.


Aji tidak menolak hal itu, dia membungkukkan tubuhnya dan kembali memulai aktivitas malam ini.


****


Tbc

__ADS_1



__ADS_2