
Satu bulan kemudian, Lusi sudah menetap di negara tercinta. Dirinya membantu Aji mengurus restauran cabang, meskipun pria itu menolak tetapi Lusi tetap membantunya. Bahkan, orang tua mereka juga mendukung niat baik gadis itu.
Lusi memikirkan tentang hubungan dan Ronald, mereka sudah cukup dekat dan nyambung. Namun, Lusi masih enggan untuk berhubungan serius. Dirinya meminta kepada Ronald agar memberikan waktu. Tentu saja pria itu tidak keberatan karena dia juga tertarik dengan Lusiana. Di sela-sela lamunan, Aris menatap sang tante yang sedang tadi hanya terdiam sambil menatap lurus ke depan.
"Tante!'' Aris menepuk pundak Lusi hingga wanita itu terlonjak.
"Aris, kamu mengagetkan saja." Lusi memegangi dadanya sambil tersenyum tipis.
"Tante kenapa? Kok bengong?" Aris duduk di sebelah Lusi.
"Tidak ada, kenapa kamu ingin tahu sekali? Kamu ini masih kecil, belum waktunya mengetahui tentang hal orang dewasa." jelasnya tersenyum manis.
"Oh ya, kamu pulang di jemput pak sopir? Maaf ya, Sayang. Tante tidak bisa menjemput kamu," Lusi memasang wajah melas.
"Tidak pa-pa, tante. Aris tahu kok kalau Tante itu sibuk di restauran. Pasti pengunjungnya rame ya tante?"
Lusi mengangguk. "Coba Aris lihat sendiri, banyak orang 'kan? Itu artinya restauran papa maju dan Aris harus selalu berdoa supaya usaha papa jaya. Ini semua juga untuk masa depan Aris,"
"Tapi, Aris kalau udah besar tidak mau menjadi seorang pemilik restauran, tante." tolak Aris berpikir jika Lusi memintanya agar menjadi penerus sang papa.
"Benarkah? Lalu, apa cita-cita Aris?"
"Aris ingin menjadi seorang pengusaha, punya mobil banyak, gedung besar, dan juga di hormati."
Lusi hanya mengangguk, itu adalah cita-cita seorang bocah yang mungkin nantinya mungkin dia sendiri akan lupa.
"Baiklah, sekarang kamu mau makan apa?"
__ADS_1
"Apa saja, Tante."
Lusi meminta agar Aris menunggunya dan dia pergi ke dapur untuk mengambil makanan.
****
Di tempat lain, sudah beberapa bulan ini hubungan antara Evi dan Alex sangat dekat. Pria itu tidak seperti dulu lagi yakni cuek dan masa bodoh. Entah kenapa Alex sekarang menjadi pribadi yang perhatian, murah senyum dan bertutur kata lembut. Ya, mungkin mood pria itu sedang membaik.
Tepat pukul delapan malam, Alex mengajaknya Evi untuk makan malam diluar. Tentu saja Meera mengizinkan karena dia juga ingin anaknya dekat dengan Evi. Barangkali mereka jodoh, itulah pikir Meera.
Keduanya telah tiba di restauran mewah bak bintang lima, Alex membukakan pintu untuk Evi dan di sambut hangat oleh wanita itu. Setelah turun dari mobil, Evi tersenyum manis dan mengucapkan terima kasih.
Alex langsung menyodorkan lengannya, dia meminta agar Evi menggandeng lengan tersebut. Mereka lalu jalan bersama masuk ke dalam restauran mewah itu, siapapun yang melihat Alex dan Evi pasti berpikir jika mereka adalah pasangan yang sangat serasi.
"Wah, tempatnya indah sekali, kak." ujar Evi mengagumi.
Evi mengangguk sambil terus memperhatikan dekorasi tempat itu. Beberapa menit kemudian, mereka memesan makanan lalu memutuskan untuk mengobrol sambil menunggu pesanan datang.
Saat Alex beranjak dari kursi dan berniat untuk ke toilet, tiba-tiba dia menyenggol lengan seseorang.
"Maaf," ucap seorang pria itu membuat Alex mengernyitkan dahinya.
Alex menatap pria di depannya itu, dia tersenyum lebar dengan mulut sedikit terbuka.
"Ronald?"
Ya, pria itu adalah Ronald Reagan.
__ADS_1
"Alex? Kamu Alex? Astaga, sudah lama kita tidak bertemu. Bagaimana keadaanmu?" Ronald menjeda ucapannya lalu melirik ke arah Evi. ''Hei, apa dia itu kekasihmu? Atau malah istrimu?" tanya Ronald antusias, mereka sudah berteman selama lima belas tahun dan terpisah sejak lima tahun yang lalu karena keluarga Ronald pindah ke lua negeri.
"Do'akan saja agar dia bisa cepat menjadi istriku." gurau Alex sambil terkekeh pelan, dia bicara berbisik agar tidak di dengar oleh Evi.
"Maaf, Lex. Aku sedang bersama dengan temanku dan tidak bisa berlama-lama disini."
"Tidak masalah, mungkin lain waktu kita bisa bertemu lagi. Atau bagaimana jika aku meminta nomor ponselmu? Ck, kamu ini sombong sekali, tidak pernah mengabariku." decak Alex berpura-pura kesal.
Ronald pun tertawa, dia sendiri juga tidak memiliki nomor ponsel milik Alex. Mereka bertukar nomor, lalu Ronald pamit undur diri. Dia sudah lama di restauran itu dan harus segera pulang ke rumah karena masih ada pekerjaan penting.
Alex ingin pergi, tetapi dicegah oleh Evi.
"Kak, itu tadi siapa?"
"Oh, dia itu temanku. Teman semasa sekolah, sudah lama kami tidak bertemu."
Evi hanya mengangguk.
"Astaga, aku sampai lupa mengenalkannya padamu. Maafkan aku," Alex menepuk dahinya.
"Tidak masalah, Kak. Lain kali saja,"
"Bener sekali, aku berencana meet up dengannya nanti."
Setelah selesai berbincang, Alex pun pergi ke toilet. Dia sudah tidak bisa lagi menahan hajatnya yang hendak keluar.
•••••
__ADS_1
Tbc