
Enam bulan berlalu dengan cepat, saat ini perut Evi sudah terlihat membuncit. Dirinya bahkan sedikit sulit untuk berjalan atau melakukan aktivitas apa pun. Perkiraan Dokter, sekitar dua Minggu lagi Evi melahirkan. Namun, itu bisa jadi mundur atau maju.
Saat ini Evi bersama dengan Aji sedang berada di Mall, mereka membeli kebutuhan bayi yang sekiranya masih kurang. Sepasang suami-istri tersebut terlihat sangat bahagia kala mereka memilih pakai berwarna biru yang sangat imut dan juga lucu.
"Mas, aku lelah. Bisa kita istirahat sebentar?" pinta Evi merasakan kakinya yang pegal.
Aji mengangguk dan meminta maaf. Keduanya duduk di bangku panjang, pria itu memijat kedua kaki istrinya.
"Setelah ini kita langsung pulang saya, ya? Atau, kamu mau aku gendong?"
Evi menggeleng dengan cepat. ''Tidak perlu, Mas. Aku bisa belajar sendiri, pelan-pelan saja."
"Huft, padahal harusnya lebih enak belanja online di bandingkan turun ke Mall seperti ini."
"Tidak apa, Mas. Sekalian jalan-jalan, aku juga merasa suntuk berada di rumah terus." ujar Evi sambil tersenyum manis.
Dari kejauhan, sepasang mata menatap keduanya dengan pancaran kebencian. Kedua tangannya terkepal erat dan hatinya berniat untuk menghabisi Evi. Dia adalah Elena, wanita itu mengikuti kemanapun pria kesayangan pergi.
"Kenapa kamu harus secepat ini menikah, Mas? Padahal aku selalu memikirkanmu setiap menit dan setiap hari sampai dua belas tahun lamanya. Aku merasa, jika penantianku sia-sia." Elena menatap keduanya tanpa berkedip. Hingga pada akhirnya, pasangan suami-istri itu pergi dari sana. Tentu saja Elena mengikuti mereka karena dia sudah memiliki rencana licik.
__ADS_1
"Aku berharap, kamu dan bayimu tidak selamat, Evi." gumam Elena penuh kejahatan.
Setelah berada di luar Mall, Evi menunggu Aji yang mengeluarkan mobilnya dari parkiran karena kendaraan mereka berada di bagian dalam. Saat Aji keluar dari mobil hendak menghampiri Evi, tiba-tiba dia dikagetkan karena ada seorang wanita yang memakai masker dan sweater hitam full penutup kepala tengah mendorong sang istri dari belakang.
Tentu saja gerakan wanita itu tidak bisa di hindari oleh Evi. Dia syok dan langsung jatuh tersungkur ke tanah.
"EVI!" teriak Aji panjang sambil berlari cepat ke arah istrinya.
Sementara wanita itu yang tak lain adalah Elena, dia berlari pergi agar tidak di tangkap oleh warga sekitar ataupun Aji.
"Evi! Bangun, Sayang." Aji menepuk kedua pipi Evi dengan perlahan. Napasnya tersengal, dia kebingungan ketika melihat ada air yang mengalir di paha Evi.
****
Tiga jam sudah Aji menunggu di ruang operasi dengan hati gelisah. Dia mondar-mandir tidak tentu arah, di dalam hati pria itu terus berdoa untuk keselamatan istri dan anaknya. Pintu ruangan sama sekali belum terbuka dari tadi.
Beberapa saat kemudian, barulah pintu itu terbuka dan Dokter keluar dari dalam sana. Aji segera menghampiri Dokter tersebut.
"Dok, bagaimana keadaan istri saya? Apa dia dan bayinya baik-baik saja?"
__ADS_1
Dokter menghela napas dengan pelan. Dia menepuk pundak Aji, seketika senyumnya terbit membuat hati Aji sedikit tenang.
"Bayi Anda lahir dengan selamat, tidak kekurangan apa pun, dan sangat tampan. Tetapi, istri Anda masih dalam keadaan pingsan karena suntikan yang kami berikan padanya. Kemungkinan beberapa jam lagi dia akan sadar." jelas sang Dokter membuat Aji bisa bernapas lega.
"Terima kasih, Dokter. Apa saya bisa bertemu dengan bayi saya sekarang?"
"Tentu, tunggu sebentar." Dokter masuk ke dalam dan mengambil bayi Aji yang baru saja selesai di bersihkan.
Aji sangat terharu, dia menatap bayinya sangat lekat. Senyumnya terbit dan dia mengecup dahi sang bayi. Tidak terasa sekarang dia sudah menjadi seorang Ayah. Hatinya benar-benar bahagia dan bersyukur.
"Sayang, sekarang kita tinggal mendoakan kesehatan Mama. Semoga Mama cepat sadar dan bisa melihat kamu." Aji mengelus pipi bayinya dengan pelan.
Dokter meminta agar bayi tersebut di letakkan pada ruangan khusus tempat semua bayi yang baru saja lahir. Aji mengiyakan, dia meminta izin untuk melihat istrinya yang sudah di pindahkan ke ruang rawat.
••••
Tbc
__ADS_1