Dilema Dalam Pernikahan

Dilema Dalam Pernikahan
Bab. 35 Pengakuan


__ADS_3

"Bagaimana jika aku mengatakan kalau Aris ada bersama denganku? Dia baik-baik saja,'' ucap Lusi membuat Elena mundur teratur.


'Apa? Bagaimana mungkin dia bisa bertemu dengan bocah itu? Tidak, ini tidak mungkin!' batin Elena, dia mencoba untuk tetap tenang meskipun hatinya sudah was-was.


Lusi membalikkan badan, dia berjalan ke mobil lalu menggenggam jemari Aris dan membawanya masuk ke dalam restauran. Setelah berada di dalam, Elena yang melihat itu langsung terkejut. Kakinya terasa lemas dan sulit untuk di gerakkan, wanita itu memundurkan tubuh, dia berpikir jika dirinya akan hancur hari ini juga.


'Habislah aku,' batin Elena memegangi ujung meja.


Aji menatap sang putra, dia berjalan perlahan mendekati putranya itu. Sesampainya di dekat Aris, pria itu mengulurkan tangannya. Dia menyentuh pipi bocah berusia lima tahun tersebut.


"Sayang." panggil Aji sambil memeluk Aris sangat erat. "Nak, Papa sangat mengkhawatirkan kamu. Papa bersyukur karena kamu sudah di temukan dan dalam keadaan baik-baik saja. Maafkan papa yang sudah lalai menjagamu, Aris."


Aris terisak, dia menatap Elena dengan rasa takut di dalam hati. Dirinya semakin mencengkram pundak Aji sangat kencang, hal itu disadari oleh sang papa dan pelukan pun terurai.


"Nak, ada apa? Kenapa kamu seperti ketakutan begini?" Aji menangkup wajah Aris.


"Jelas saja dia ketakutan, karena penjahat yang sudah meninggalkan dia ada di depannya!" jelas Lusi cepat.


Aji tidak paham akan maksud dan ucapan Lusi, dirinya menatap Aris meminta sebuah penjelasan.


"Apa yang terjadi, Aris?" tanya Aji serius.

__ADS_1


"P—pa, dia, tante itu jahat." Aris menunjuk ke arah Elena yang hampir saja melarikan diri.


"A—apa maksud kamu, Aris? Siapa yang jahat? Tante bukan orang seperti itu."


"Bohong!" sela Lusi geram. "Mas, coba kamu tanyakan saja padanya apa yang terjadi, dan kenapa dia tega meninggalkan Aris sendirian di jalanan seperti itu?"


Elena gugup, lidahnya terasa keluh dan sulit untuk bicara. Dia sudah terbukti salah, tidak ada cara lain untuk mengelak.


"Elena, apa yang kamu sembunyikan dariku?"


Elena menggeleng cepat. "Mas, kamu jangan percaya dengan ucapannya! Dia itu hanya ingin memprovokasi kamu."


Aji tidak semudah itu percaya pada ucapan Elena, dia penuh mempercayai perkataan putranya.


"Hiks, tante Elena meninggalkan Aris di tempat yang Aris sama sekali tidak tahu itu dimana, Pa. Letaknya sangat jauh dari rumah kita, Aris bahkan sampai kebingungan memikirkan bagaimana caranya untuk pulang. Aris takut, Pa." bocah itu menangis di dalam pelukan Aji.


Sebagai orang tua, tentu Aji tidak terima putranya di perlakukan seperti itu. Dia memeluk tubuh Aris dan menenangkan. Dada Aji sangat sesak mendapati kebenaran ini. Setelah itu, dia berdiri di hadapan Elena.


"Jadi begini sikapmu yang sebenarnya, Elena? Dasar tidak tahu malu! Kamu tega meninggalkan putraku dan berbohong kalau dia menghilang karena di culik? Aku tidak menyangka jika kamu memiliki hati sekejam ini, Elena. Apa motivasimu menyakiti putraku? Apa salah kami, Elena?" teriak Aji dengan nada tinggi.


Elena memejamkan mata, dia menatap Aji seberani mungkin.

__ADS_1


"ITU SEMUA DEMI KAMU, MAS! AKU SANGAT MENCINTAIMU DAN AKU INGIN KAMU MENJADI MILIKKU." teriak Elena hingga urat lehernya menegang.


Aji menggeleng. "Gila, benar-benar gila! Kamu menghalalkan cara hanya demi cinta? Tindakan bodoh apa itu, Elena? Aku sama sekali tidak mencintaimu, meski kamu berusaha sekeras apa pun, aku tetap tidak akan pernah menikahimu!" Aji menuding wajah Elena.


"Kamu keterlaluan, Mas. Kamu jahat!" teriak Elena tidak terima.


Aji mengambil ponsel dan dia segera menghubungi polisi, hal seperti ini tidak boleh di anggap remeh karena bisa saja suatu saat nanti Elena melakukan tindakan yang sama lagi.


"Mas apa yang kamu lakukan? Kamu ingin memasukkan aku ke penjara? Tega kamu, Mas! Apa kamu lupa jika aku yang selalu ada di sampingku selama ini? Aku menyiapkan semua kebutuhanmu, aku memperhatikanmu."


"Tapi aku tidak meminta semua itu! Kamu sendiri yang memberikannya untukku. Aku pikir kamu ikhlas membantuku, namun ternyata tidak. Kamu harus diberi pelajaran, Elena. Semoga saja kamu bisa jera dan tidak akan pernah mengulangi hal yang sama lagi."


Dua laki-laki pegawai restauran Aji perintahkan untuk memegangi tangan Elena sebelum polisi datang. Restauran tersebut sengaja di tutup karena Aji kehilangan Aris.


Tak berselang lama, mobil polisi telah sampai dan anggota polisi langsung turun dari sana. Mereka masuk ke dalam restauran untuk menemui Elena. Setelah berbincang sesaat, mereka pun akhirnya membawa Elena ke kantor polisi untuk dimintai keterangan lebih lanjut.


"Lepaskan aku, aku tidak mau masuk penjara! Kamu jahat, Mas. Lihat saja pembalasan dariku nanti!" teriak Elena ketika polisi menyeretnya pergi.


Aris memeluk tubuh Aji dari samping, dia sangat takut dengan Elena.


•••••

__ADS_1


Tbc


__ADS_2