
Kedekatan antara Aji dan Ayesha semakin menjadi, bahkan pria itu sering sekali mengatakan pada Lusi jika dirinya ada urusan di luar kota. Padahal sejujurnya dia ingin menemui Ayesha. Sementara wanita tersebut, dia tidak tahu jika Aji sudah memiliki seorang istri. Begitupun dengan Alex, pernikahan antara Aji dan Lusi di adakan secara tertutup hingga banyak yang tidak mengetahui pria itu sudah menikah.
Saat ini Aji berada di rumah Alex, dia ingin mengatakan tentang masa depannya dan Ayesha.
Meera yang kala itu kebetulan tidak ada jadwal hanya menyambut tamunya dengan sopan dan ramah. Jujur saja dia keberatan jika Ayesha harus menikah dengan pria lain dan bukan Alex putranya. Namun, dia harus sadar tentang siapa dirinya. Dia itu hanyalah seorang ibu angkat dan tidak berhak menentukan masa depan Ayesha. Baginya, yang terbaik bagi Ayesha, itu juga akan baik untuknya.
"Nak Aji, tumben malam-malam datang kesini. Ada keperluan apa? Ayesha mengatakan jika kamu ingin berbicara hal penting, tapi Tante tidak tahu kalau kamu datang malam begini."
"Maaf menganggu waktunya, Tante. Begini, saya datang kesini untuk mengatakan niat baik saya."
"Katakan, Nak." Meera tersenyum.
"Tante tahu jika saya dan Ayesha sudah dekat selama dua bulan ini 'kan? Kami berdua memutuskan untuk menjalin hubungan ke jenjang yang lebih serius, yaitu pernikahan."
"Lalu? Tante akan merestui kalau memang itu yang terbaik untuk kalian berdua."
"Saya akan menjaga Ayesha, Tante. Dan—" ucapan Aji terhenti karena Meera menyelanya.
"Tapi, Nak Aji. Ada sesuatu hal yang mungkin akan menjadi masalah untuk ke depannya nanti."
__ADS_1
Aji mengerutkan dahinya.
"Sebenarnya Ayesha itu bukan anak kandung Tante, dia di temukan pada saat kecelakaan dan saat ini dirinya mengalami amnesia. Tante takut, jika ingatannya sudah kembali dan ternyata dia sudah memiliki pasangan, lalu bagaimana nantinya?" jelas Meera panjang lebar.
"Begini, Tante. Saya dan Ayesha akan menikah siri terlebih dahulu sebelum ingatannya pulih kembali. Dan jika dia ternyata sudah memiliki pasangan, maka saya akan mengembalikan dia pada pasangannya. Tetapi, jika dia masih singel, maka saya akan segera menikahinya secara sah." ucap Aji membuat Meera kembali berpikir.
"Tante tidak akan memaksa atau pun menghalangi, kuncinya ada di Ayesha sendiri. Dia setuju atau tidak? Intinya, Tante tidak ingin di salahkan dalam hal apa pun di kemudian hari."
Ayesha mengangguk setuju. "Aku janji tidak akan menyalahkan siapapun, Ma. Aku setuju untuk menikah dengan Mas Aji. Entah mengapa hatiku juga mengatakan hal yang sama."
"Baiklah, kalau begitu Mama akan merestuinya. Kapan pernikahan kalian di langsungkan?"
"Satu Minggu lagi, Tante. Setelah itu, bolehkah saya membawa Ayesha ke rumah saya?"
****
Di sudut lain, entah mengapa hati Lusi merasa tidak enak. Bahkan, ponsel milik Aji tidak aktif sedari pagi tadi. Dirinya mondar-mandir di dalam kamar, dia bertanya-tanya dalam hati apa yang sedang terjadi dengan suaminya? Sikap pria itu sedikit berbeda, tidak seperti biasanya.
"Apa Mas Aji memiliki wanita lain di belakangku?" Lusi dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak-tidak, Mas Aji bukan tipe pria yang seperti itu. Dia setia, mana mungkin dia berselingkuh. Tapi, kenapa hatiku merasa tidak tenang?" gumamnya memejamkan mata sesaat.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Lusi menoleh ke arah meja dimana ponselnya berada. Benda tersebut bergetar hingga membuat Lusi berjalan cepat mengambilnya. Dia tersenyum lega setelah melihat nama yang muncul di layar ponsel itu. Secepat kilat wanita tersebut menjawabnya.
"Halo, Mas. Kenapa dari tadi pagi ponsel kamu tidak bisa dihubungi? Apa ada masalah?" Lusi segera bertanya karena merasa khawatir.
📱"Maafkan aku, Lusi. Kebetulan tadi aku bertemu dengan teman lamaku. Kami mengobrol cukup lama hingga pada akhirnya aku tidak sadar jika baterai ponselku habis. Nah, tadi pagi aku ada pertemuan jadi tidak mungkin mengaktifkan ponsel."
Lusi pun percaya, dia hanya mengangguk dan menghela napas lega.
"Ya sudah, intinya kamu baik-baik saja 'kan, Mas? Jaga kesehatan dan jangan telat makan."
📱"Tentu saja. Besok sore aku akan pulang, apa ada pesanan?" tanya Aji tetap baik agar Lusi tidak curiga dengannya.
"Tidak ada, aku hanya ingin kamu pulang dengan selamat."
📱"Tunggulah aku, kalau begitu aku tutup dulu sambungannya. Kamu jangan memikirkan hal apa pun, tidurlah dan sampaikan salamku pada jagoan kita."
Lusi mengucapkan salam penutup lalu panggilan pun terputus. Akhirnya dia bisa tidur tenang malam ini, jika belum mendengar suara sang suami, maka Lusi tidak bisa tidur dengan nyenyak. Dia mulai merangkak ke atas tempat tidur dan memejamkan matanya.
Jujur saja sepanjang malam dia sering memikirkan mengapa dirinya belum juga hamil, sementara dia dan Aji sering berhubungan badan selama dua bulan ini.
__ADS_1
••••
Tbc