
Kejadian malam itu benar-benar tidak bisa Lusi lupakan, dia telah menjadi seorang wanita yang cuek dan tidak terlalu dekat dengan siapapun. Bahkan Mamanya sendiri. Halimah ikut mengaku salah karena dia lebih mendukung wanita yang mirip dengan Almarhumah Evi dibandingkan Lusi Putri kandungnya sendiri. Padahal, dulu Lusi selalu diam dan tidak pernah cek-cok dengan Ayesha. Tetapi, semua orang memiliki batas kesabaran hingga pada akhirnya Lusi pun menjadi emosi.
Sudah hampir satu bulan dia bercerai dari Aji, dirinya tidak pernah mendengar kabar apa pun lagi tentang keluarga itu bahkan tidak pernah bertemu dengan Aris. Jujur saja dia sangat merindukan bocah kecil nan menggemaskan itu. Namun, apa boleh buat? Jarak yang tidak mengizinkan mereka untuk bertemu.
Saat ini Lusi bekerja di kantor cabang milik Ronald. Sewaktu itu dia sedang mencari lowongan kerja dan saat melewati perusahaan, dirinya mampir ke sana hanya dengan membawa berkas-berkas sekolah SMA. Untungnya, Lusi memiliki otak yang encer atau disebut pintar hingga dia dengan mudah mengerti apa saja yang harus di kerjakan.
Sejujurnya Ronald mencari pegawai yang memiliki tamatan minimal S1. Namun, dia menerima Lusi secara langsung karena dirinya masih memiliki perasaan istimewa untuk wanita itu. Apalagi, sekarang Ronald sudah tahu jika Lusi telah menjanda.
"Lusi?" panggil Ronald membuat wanita itu menoleh.
"Ya, pak?"
"Sudah waktunya jam istirahat, apa kamu tidak makan siang terlebih dahulu?"
"Em, sebentar lagi. Saya harus menyelesaikan tugas saya terlebih dahulu. Pak Ronald duluan saja, nanti saya akan menyusul." ujar Lusi tanpa mengalihkan pandangan.
Ronald mendekati Lusi, dia berdiri tepat di belakang kursi wanita itu. Beberapa karyawan saling berbisik dan menatap ke arah sang bos yang terlihat sedang memperhatikan Lusi.
"Pak, tolong jangan seperti ini. Malu dilihat banyak orang, saya tidak ingin mereka berpikiran jelek tentang kita."
"Biarkan saja, kamu singel dan saya juga singel, jadi jangan hiraukan mereka." ucap Ronald enteng tanpa beban.
Lusi menyelesaikan tugasnya sangat cepat, dia menutup laptop lalu berdiri dari tempat duduknya.
"Apa sudah selesai?"
Lusi mengangguk. "Ayo, saya harus mengerjakan tugas yang lain lagi." ucapnya tidak menolak tawaran Ronald untuk makan siang bersama, dia hanya ingin menghargai niat baik pria itu.
Sejujurnya Lusi malu karena dia pernah memaki Ronald dan pada akhirnya, dirinyalah yang bekerja untuk pria itu. Mereka berdua cukup dekat meskipun Lusi baru masuk di perusahaan tersebut, dan masih bekerja kurang lebih dua Minggu disana.
"Lusi, apa kamu masih kesal denganku?" tanya Ronald menatap wajah Lusi, saat ini mereka duduk di sebuah cafe yang tak jauh dari kantor.
"Lupakan saja apa yang pernah terjadi, Pak."
"Aku sudah berusaha untuk melupakannya, tetapi sulit. Aku juga bingung kenapa bisa susah seperti ini."
"Anda mungkin tidak niat, Pak."
"Kenapa memanggilku bapak? Jika jam istirahat seperti ini, panggil saja aku menggunakan nama. Dan kamu, tidak perlu menggunakan bahasa saya, Anda. Sangat formal sekali, Lusi." pinta Ronald keberatan.
"Baiklah, pak—, maksudnya Ronald."
__ADS_1
"Itu lebih baik." pria itu menyeruput kopinya.
"Ronald, kenapa kamu tidak bisa melupakan aku?" Lusi akhirnya bertanya karena dia merasa penasaran.
"Entahlah, aku selalu saja mengingatmu. Itu aneh bukan? Mungkin karena aku terlalu mencintaimu." ucap Ronald tanpa filter.
Lusi hanya menggeleng mendengar perkataan dari pria itu.
"Aku masih trauma menjalin hubungan dengan seseorang. Hancurnya rumah tanggaku menjadi kesedihan tersendiri di dalam hatiku, dan aku takut jika semua itu akan terulang kembali nantinya."
"Sebenarnya itu tergantung, Lusi. Jika pemikiran kita satu tujuan dan tidak menyeleweng, maka hubungan itu pasti akan berjalan lancar."
Lusi hanya tersenyum tipis, dia enggan untuk membalas ucapan dari Ronald. Dirinya takut jika permalasahan ini akan panjang nanti.
*******
Waktu berjalan begitu cepat, terlihat beberapa mobil berhenti di depan rumah Aji. Bahkan, disana sudah banyak orang yang berkerumun seperti hendak demo. Ya, mereka adalah keluarga dari seorang gadis bernama Della. Gadis itu meninggal akibat kecelakaan dan waktunya hampir sama dengan kecelakaan Aji dan Evi waktu itu.
Mereka semua datang untuk mengatakan jika yang selama ini keluarga Aji makamkan itu bukanlah jenazah Evi. Tentu saja Aji beserta keluarganya terkejut, dia benar-benar syok mendengar semua ini. Para keluarga Della meminta agar jenazah gadis itu di ambil lalu di pindahkan ke rumah mereka. Namun, Aji menolak karena dia merasa jika itu adalah jenazah istrinya.
"Pak, polisi memang mengatakan jika mereka menemukan jenazah anak saya di dekat hancurnya mobil kalian. Dan mereka berpikir jika itu adalah jenazah istri Anda. Tapi, beberapa Minggu yang lalu, kami baru saja pulang dari luar negeri dan hanya inilah waktu yang sempat untuk kami datang kesini."
"Karena mereka sudah bicara pada kami terlebih dahulu, mereka menemukan gelang anak saya di sekitaran letak jenazahnya waktu itu. Saya bingung bagaimana menjelaskannya lagi, ini semua diluar dugaan. Kita tidak kepikiran untuk melakukan autopsi saat jenazah di temukan." ucap Ayah Della.
Aji menjadi bingung, kenapa semuanya harus serumit ini? Dia melirik ke arah Ayesha yang terdiam sambil menyimak pembicaraan. Sebuah ide terlintas di benak Aji, entah mengapa dirinya memikirkan jika wanita yang ada di dekatnya saat ini adalah Evi. Meskipun niatnya ini konyol, namun dia akan tetap mencobanya.
"Ma, sebagai orang tua Evi, pasti Mama tahu apa saja yang ada di dalam diri Evi. Maaf, Ma. Aku dulu tidak terlalu memperhatikan tanda yang ada di bagian tubuh Evi. Barangkali ada salah satu tanda yang bisa membuat kita percaya jika jenazah itu bukanlah Evi."
Halimah mengangguk. "Ya, Mama ingat jika di bagian kepala Evi ada jahitan karena dulu dia pernah terjatuh dari sepeda dan kepalanya mengalami robekan sedikit."
Aji melirik Ayesha kembali, semuanya mengikuti arah mata Aji.
"Ayesha, boleh Mama lihat bagian kepala kamu?"
Ayesha kebingungan, dia ingin menolak tetapi tidak enak dengan semua yang ada disana.
"Untuk apa, Mas?"
"Agar kami bisa membuktikan, kamu Evi atau bukan." ucap Aji jujur.
"Mas, aku sudah mengatakan jika aku bukanlah Evi. Kenapa kamu memaksa?"
__ADS_1
"Aku mohon Ayesha, ini bukan masalah kecil."
Pada akhirnya, Ayesha mau dan Halimah mulai mencari tempat jahitan itu. Setelah beberapa detik kemudian, wanita paruh baya itu melotot, dia memegangi dadanya yang terasa sesak bercampur bahagia.
Aji menyadari sikap Mama mertuanya, dia memberikan minum terlebih dahulu pada Halimah lalu dirinya pun mulai bertanya.
"D—dia .... Dia adalah, Evi."
Deg!
Seketika jantung semua orang yang ada disana serasa ingin berhenti berdetak, mereka menatap ke arah Evi yang syok dan hanya diam mematung. Mulutnya terbuka sendiri karena dia merasa terkejut atas pengakuan yang Halimah katakan.
Halimah memegangi dadanya yang masih terasa sesak, dia tersenyum haru sambil menatap Ayesha.
"Tuhan benar-benar penuh keajaiban, putriku kembali, dia masih hidup dan sehat." ucap Halimah tersenyum tetapi diiringi oleh tangisan bahagia.
"Ma, Mama tenang dulu. Mama tidak salah 'kan?"
Halimah menggeleng. ''Dia memang Evi, Mama adalah ibunya yang melahirkan dan membesarkan dia. Bagaimana mungkin Mama bisa salah mengenali anak Mama sendiri?"
Lusi yang ikut hadir disana hanya mampu terdiam, kakinya terasa berat untuk melangkah dan dia hanya menatap Ayesha dari kejauhan.
Aji menoleh ke arah Ayesha, dia mendekati wanita itu sambil memegang kedua pundaknya. Tanpa berkata apa pun lagi, Aji langsung memeluk tubuh wanita itu dan hal tersebut membuat Lusi memalingkan wajahnya. Biar bagaimanapun dia pernah menjadi bagian dari hidup Aji.
"Evi, kamu adalah Evi istri tercintaku."
"Nak Aji, jika kalian masih perlu bukti yang akurat. Kita bisa melakukan tes DNA, kebetulan golongan darah Mama dan Evi itu sama yaitu AB."
"Sayang, bagaimana? Kamu mau ya melakukan tes DNA? Kita semua akan lebih yakin jika terbukti hasil tes DNA nya positif."
Ayesha terus terdiam, dia benar-benar tidak menyangka dengan semua ini. Dunia seperti sedang mempermainkan dia, dirinya sama sekali tidak bisa mengingat apa pun meski sudah berusaha sekuat mungkin.
"Pak, kalian semua bisa membongkar makam itu jika terbukti dia adalah Evi." Aji memegang pundak Ayesha.
"Baiklah, kami akan menunggu kabarnya." Ayah Della memberikan nomor ponsel agar Aji bisa dengan mudah memberikan kabar padanya.
Setelah itu mereka pergi dari sana. Sementara Aji, dia sangat bahagia begitupun dengan kedua wanita paruh baya tersebut. Sedangkan Lusi, dirinya hanya terdiam sambil sesekali melirik ke arah Ayesha yang terus-menerus dipeluk oleh Aji dengan erat.
••••
Tbc
__ADS_1