
Dua bulan kemudian, Elena sudah sangat dekat dengan Aji. Bahkan pria itu seperti ketergantungan dengan Elena yang selalu membantunya dalam segala hal. Cinta? Mungkin pria itu belum memiliki perasaan tersebut. Dia hanya menganggap Elena sebatas teman dan adik.
Saat ini Elena berada di rumah Aji, dia akan mengantarkan Aris ke sekolah dan itu semua adalah permintaan dari Aji sendiri.
"Apa Aris sudah selesai, Mas? Aku akan mengantarkannya sekarang juga."
"Sebentar, aku akan memanggil dia." Aji berteriak sambil menyebutkan nama sang putra.
Tak lama kemudian, Aris berjalan menuruni anak tangga dengan raut wajah yang datar. Dia sangat tidak suka jika Elena berada di rumah itu apalagi dekat dengan Papanya.
"Aris, hari ini kamu ke sekolah di antar oleh Tante Elena."
Aris hanya mengangguk.
"Ya sudah, Mas. Kalau begitu, kami berdua permisi." Elena menoleh ke arah Aris. "Ayo, Sayang. Nanti kamu kesiangan," lanjutnya berpura-pura baik.
Mereka berdua keluar dari rumah, sesudah berada di luar, keduanya pun langsung masuk ke dalam mobil milik Elena, Aji membelikan kendaraan untuk wanita itu karena sudah banyak membantunya.
Baru beberapa meter, Elena menghentikan mobilnya. Dia memposisikan duduk menjadi menghadap ke arah Aris.
__ADS_1
"Sayang, bagaimana kalau tante jadi Mama baru kamu? Aris mau enggak?" Elena tersenyum manis, dia berusaha mengambil hati bocah kecil itu.
Aris secepatnya kilat menggelengkan kepalanya. "Aris enggak mau!"
Seketika senyum Elena pun surut. "Enggak mau? Kenapa? Apa tante kurang baik untuk menjadi Mama Aris? Coba katakan alasannya,"
"Aris tidak suka dengan Tante Elena. Aris tau kalau tante itu jahat!" ucap Aris tanpa filter, dia sama sekali tidak peduli dengan konsekuensi ucapannya barusan.
Elena kembali tersenyum, dia mengangguk pelan lalu kembali melajukan mobil dengan raut wajah penuh arti.
Belum juga sampai di sekolah, wanita itu menghentikan mobilnya. Tentu saja Aris heran, dia melirik sekejap kearah Elena.
Elena sudah di butakan oleh cinta, dia tidak lagi memiliki mata hati dan hanya menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang di inginkan. Dirinya keluar dari mobil, wanita itu menarik lengan Aris.
"Jangan, Tante!"
Wanita tersebut tidak memikirkan permohonan dari Aris, dia tetap memaksa anak itu keluar dari dalam mobil. Tempat itu cukup jauh dari tempat tinggal Aris dan tentu saja dirinya sama sekali tidak mengetahui jalan pulang.
"Rasakan! Kamu akan menjadi gembel saat ini, semoga saja ada orang yang menculikmu dan menghabisimu." Elena tersenyum menang, dia masuk ke dalam mobil dan melaju pergi.
__ADS_1
"Tante! Jangan tinggalin Aris!" teriak bocah kecil itu tetapi tidak di hiraukan oleh Elena.
Mobil sudah menjauh hingga tidak tampak lagi.
Aris terduduk di bawah pohon rimbun, dirinya menangis meminta bantuan sambil memanggil Mamanya.
Di tempat lain, Evi yang kala itu sedang membersihkan guci, tak sengaja menyenggol benda tersebut hingga terjatuh dan pecah di lantai. Masih untung guci itu kecil hingga pecahan kacanya tidak terlalu banyak.
Dia berjongkok untuk memunguti pecahan guci yang ada di lantai.
"Astaga, kenapa bisa pecah? Perasaanku juga tidak enak, ada apa ini?" Evi merasa khawatir, dia berdoa semoga tidak terjadi apa pun dengan orang-orang terdekatnya.
Saat dia ingin mengambil pecahan terakhir, tiba-tiba satu pecahan tertancap di jari telunjuknya hingga mengeluarkan darah.
"Ssh, aw!" rintihnya merasakan perih.
Evi berdiri dan segera mencari kotak obat.
•••••
__ADS_1
Tbc