
Tak terasa sudah dua minggu Evi berada di rumah Meera, meksipun dia merasa kesal dengan sikap Alex yang semena-mena, tetapi dirinya mencoba untuk menahannya. Evi enggan untuk menegur pria itu agar bersikap sopan padanya. Ya, wanita tersebut ingat akan kebaikan yang Meera lakukan untuknya. Saat ini Evi berada di kamar, lebih tepatnya berdiri di atas balkon. Dia menatap ke arah langit, cuaca terlihat cerah tidak seperti suasana hatinya.
Entah mengapa dia sangat merindukan masa-masa dulu, namun dia tidak ingat sama sekali tentang itu. Sejenak matanya terpejam, dia menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Lalu, Evi melirik ke jam dinding. Ternyata sudah pukul sepuluh tetapi Meera belum juga pulang dari rumah sakit.
"Ya Tuhan, aku ingin ingatanku bisa cepat pulih kembali." gumamnya sebelum pergi dari balkon.
Selesai mengatakan keinginannya, Evi keluar dari kamar. Dia berniat untuk menunggu Meera di ruang tamu. Dirinya sangat kesepian karena tidak memiliki teman. Sesampainya di ruang tamu, wanita itu langsung duduk di sofa. Tak lupa dia menyalakan televisi agar tak terlalu sepi.
Seiring berjalannya waktu, mata Evi terasa berat. Dia menguap lalu menyandarkan kepalanya di sofa sambil memejamkan mata. Tak lama kemudian, dirinya tertidur pulas.
Tepat pukul setengah dua belas malam, Alex baru saja pulang menjemput Meera. Keduanya masuk ke dalam dan terkejut melihat Evi yang tertidur di sofa.
"Astaga, kenapa dia bisa tertidur disini?" pekik Meera sambil berjalan menghampiri Evi. Dia menepuk kedua pipi wanita itu sembari memanggil namanya.
"Ayesha, bangun. Kenapa kamu ada disini? Hei, ayo ke kamar."
Nihil, Evi tetap memejamkan mata dengan napas yang sudah teratur. Dia sama sekali tidak mendengar panggilan dari Meera.
"Bagaimana? Apa dia tidak mau bangun? Seret aja, Ma." ucap Alex asal.
__ADS_1
Meera menepuk pundak putranya cukup kencang, dia melirik tajam ke arah Alex. "Jaga bicaramu! Cepat gendong dia, mungkin Ayesha kelelahan."
"Lelah kenapa? Dari tadi dia itu hanya diam saja di rumah, rebahan di kamar." bantah Alex.
"Sst! Sudahlah, tidak perlu bicara panjang lebar. Sebaiknya kamu turuti perkataan Mama, angkat dia dan bawa ke kamar. Anggap saja dia itu adikmu,"
Alex mendegus kesal, mau tidak mau, dirinya pun menggendong Evi dan melangkah menuju kamar wanita itu.
****
Evi terbangun dari tidurnya, dia merasakan sinar matahari menyorot masuk dari celah tirai jendela. Dirinya kaget karena sudah mendapati tubuhnya berada di dalam kamar. Sejenak wanita itu mengucek kedua mata, dia melihat ke seluruh penjuru ruangan bernuansa biru tersebut.
Evi segera bergegas turun dari ranjang, dia menyibakkan tirai jendela dan langsung berlalu ke kamar mandi. Setelah beberapa menit berada di dalam sana, dia pun keluar untuk berganti pakaian.
Setelah selesai berpakaian dan merapikan rambut, saat ini Evi sudah berada di meja makan bersama dengan Meera dan Alex. Dia sangat segan karena bangun kesiangan seperti ini.
"Ma, maaf jika aku bangunnya kesiangan."
"Tidak pa-pa, Nak. Mama tahu kalau kamu pasti ngantuk berat, jangan terlalu di pikirkan."
__ADS_1
Evi tersenyum sungkan lalu melirik ke arah Alex yang sudah menyantap sarapan tanpa rasa bersalah. Evi merasa lelah karena Alex mengerjainya, pria itu menyuruhnya membersihkan gudang, kolam renang, dan menyapu halaman belakang. Sementara Meera mengatakan, jika dua hari sekali akan ada yang datang ke rumah itu untuk membantu mengerjakan tugas rumah.
"Kenapa tadi malam kamu bisa ketiduran diluar?"
Evi tersenyum malu. "Aku berniat menunggu Mama pulang, tetapi entah mengapa mataku sulit di ajak berteman dan akhirnya aku pun tertidur."
"Merepotkan saja." sela Alex secepat kilat.
Meera berdehem menegur ucapan Alex barusan. "Tadi malam Mama ada pasien mendadak, untung saja Mama belum pulang."
"Aku saja tidak tahu kenapa aku bisa ada di kamar."
"Alex yang menggendong dan membawamu ke kamar."
"Uhuk." Evi langsung terbatuk, roti yang hendak masuk ke dalam tenggorokannya seperti mengganjal di jalan.
Dia melirik Alex yang tampak santai.
•••
__ADS_1
Tbc