Dilema Dalam Pernikahan

Dilema Dalam Pernikahan
Bab. 48 Terbongkar


__ADS_3

Satu Minggu kemudian, Ayesha sudah berpenampilan seperti yang Aji inginkan. Saat ini mereka berdua sedang berbelanja di Mall, wanita itu memakai masker karena perintah dari Aji. Dia menjadi istri yang penurut dan tidak membangkang perkataan suami. Ya, begitulah sifat Evi dulunya menurut Aji.


Kejadian tak terduga pun timbul, ketika Aji dan Ayesha ingin masuk ke dalam mobil karena mereka sudah selesai berbelanja. Dari kejauhan, seorang wanita berjalan cepat menghampiri mobil Aji.


"Itu benar mobilnya, tapi dia dengan siapa?" gumamnya perlahan dan terus menatap mobil itu.


"Mas!" teriak wanita tersebut ketika sudah berada di dekat mobil Aji.


Sontak, kedua orang yang ingin masuk ke dalam mobil itu pun menoleh. Terlihat raut wajah Aji sangat gugup, dia melirik Ayesha yang hanya diam mematung di depan pintu mobil.


Lusi berdiri di hadapan Aji, dia menatap kedua manusia itu dengan aura kemarahan.


"Apa ini, Mas?" tanyanya dengan nada suara meninggi.


"Lusi, kenapa kamu ada disini? Bukannya kamu hari ini ada rapat di sekolah Aris?" Aji pun gugup.


"Ya! Aku memang ada rapat di sekolah Aris dan aku berada disini karena ingin bertemu dengan temanku. Lalu, aku mendapatkan sesuatu yang membuat jantungku terkejut." Lusi melirik ke arah Ayesha yang saat itu sedang bingung.

__ADS_1


"Lusi, sebaiknya kamu pulang dan kita akan berbicara di rumah saja." Aji ingin memegang pundak Lusi tetapi wanita itu dengan cepat menghempaskannya.


"Diam!" bentak Lusi emosi. ''Kamu keterlaluan, Mas. Jadi begini kelakukan kamu di belakangku, hm?"


Lusi berjalan mendekati Ayesha dan diikuti oleh Aji yang saat ini berada di dekat kedua wanita tersebut.


"Siapa dia, Mas?" Lusi menunjuk Ayesha menggunakan dagunya.


Aji pun terdiam, dia ingin mengatakan yang sebenarnya tetapi lidahnya keluh tidak bisa di ajak kerjasama.


"Dia, dia itu —" Aji gugup.


"Suami? Apa maksudnya? Dia itu suamiku."


Mata Lusi melotot, kedua tangannya terkepal erat dan dia melayangkan sebelah tangan lalu menampar pipi Ayesha dengan kencang.


"LUSI!" teriak Aji kaget, pria itu segera mendekati Ayesha.

__ADS_1


"Jangan gila kamu!" bentak Aji menunjuk wajah Lusi. Sementara Ayesha, dia memegangi pipinya dan menatap Lusi sangat dalam.


"Dasar perempuan murahan!" Lusi kembali menatap Aji. "Tega kamu, Mas! Kamu jahat! Apa salah aku, hah? Kenapa kamu menduakan aku dan diam-diam menikah dengan wanita lain, kenapa?" teriaknya seperti kesetanan, bahkan saat ini air matanya pun sudah menetes.


"Apa kurangnya aku, Mas? Aku sudah menerima kamu apa adanya, aku berusaha memperjuangkan cinta kamu dan pada akhirnya aku menang. Aku mendapatkan cintamu, tetapi hanya sekejap. Apa seperti ini balasan untuk perempuan seperti aku, hm? Sakit, Mas! Dada ini terasa nyeri dan sesak. Aku mendapatkan kenyataan yang benar-benar membuatku terkejut. Aku tidak menyangka kamu seperti ini, Mas."


"Lusi, dia itu —" sebelum Aji menjelaskan, wanita itu dengan cepat menarik masker yang menutupi wajah madunya.


Grep.


Deg!


"K—kakak," gumam Lusi spontan sambil menutup mulutnya, dadanya semakin sesak ketika melihat kenyataan di hadapannya saat ini.


Lusi memundurkan langkahnya, dia menatap Ayesha tanpa berkedip dan diiringi tetesan air mata. Dirinya berharap jika semua ini hanya mimpi, tetapi ketika dia menepuk pipinya, ternyata terasa sakit dan berarti ini semua adalah nyata.


"Tidak mungkin, ini mustahil. Kakakku sudah meninggal, lalu dia? Kenapa bisa wajahnya bisa sangat mirip dengan kak Evi?"

__ADS_1


••••


Tbc


__ADS_2