
Kelopak mata milik Evi berkedut dengan perlahan, cahaya matahari yang bersinar terang masuk ke dalam biliknya. Wanita itu membuka kelopak mata hingga dia dapat melihat indahnya sinar mentari pagi ini. Suara burung pun berkicau diiringi dengan kokokan ayam di sekitar.
Evi menegakkan tubuhnya sambil merentangkan kedua tangan ke atas. Dia melihat ke samping dan tidak mendapati Aji di kamar itu. Pikiran wanita tersebut semakin melayang, dia khawatir jika suaminya berubah dan menjauhinya. Apalagi, belakangan ini dia jarang berdandan karena mungkin bawaan dari sang bayi.
Saat Evi hendak turun dari ranjang, dia mengerutkan dahinya.
"Apa ini?" Evi mengambil buket bunga mawar yang ada di atas meja lampu. Disana ada sepotong kertas kecil dan itu adalah surat dari Aji.
Evi segera membuka surat tersebut, dia membacanya dengan perlahan di dalam hati.
'Morning, My Wife. Maaf karena tadi malam aku terlambat pulang ke rumah, pelanggan di restauran sangat ramai dan aku tidak mungkin membiarkan anak buahku bekerja sendirian. Oh ya, Sayang. Kenapa rujak yang aku belikan untukmu tidak kamu makan? Bukankah itu permintaanmu? Apa aku punya salah? Aku merasa tidak enak karena tadi malam melihat bungkusan rujak itu ada di atas meja. Jika aku mempunyai salah, maka bicaralah. Permasalahan tidak akan selesai kalau kedua belah pihak hanya diam saja. Aku menunggumu di bawah. Eits, aku minta jangan marah atau tersenyum setelah membaca surat dariku. Kamu tau kenapa? Karena senyumanmu bisa mengalahkan indahnya matahari di pagi ini. Love Evi Andirana.'
Seketika senyum Evi langsung mengembang, suaminya itu benar-benar sangat sulit untuk berkata romantis. Ya, wanita itu cukup senang karena Aji merasa bersalah seperti ini.
"Berarti pikiranku salah, aku seharusnya tidak boleh berburuk sangka pada suamiku sendiri. Percayalah, Mas Aji tidak sejelek itu." gumam Evi pelan sambil mencium wangi aroma bunga mawar yang ada di hadapannya.
Pandangan matanya langsung teralihkan ketika dia mendengar suara benda jatuh dari arah dapur. Wanita itu segera turun dari ranjang dan berjalan cepat keluar kamar. Dia pun sangat berhati-hati menuruni anak tangga karena memikirkan janinnya.
"Astaga, Mas!" teriak Evi sambil berlari kecil ke arah Aji, yang berjongkok di depan tungku kompor sambil memegangi kakinya.
"Ya ampun, Mas. Apa yang kamu lakukan?" Evi membantu suaminya berdiri, dia menuntun Aji pelan untuk duduk di kursi.
Evi melihat kaki Aji yang sedikit melepuh, dia menatap suaminya itu dengan perasaan khawatir.
__ADS_1
"Kenapa harus repot-repot berada di dapur? Bukankah ada Bi Nani?" tanya Evi sedikit kesal.
"Maaf, Sayang. Tadi aku berencana ingin memasak sup untukmu."
"Astaga, Mas. Aku bisa memasaknya sendiri atau tidak meminta bantuan Bi Nani." Evi berjalan mengambil kotak obat.
Wanita itu kembali dengan membawa apa yang dia cari, dirinya berjongkok untuk mengobati luka melepuh di kaki Aji. Namun, pria tersebut dengan cepat menahan pundak Evi agar tidak membungkuk.
"Bangunlah," pinta Aji lembut diselingi senyum manis.
"Tapi, Mas. Ini—"
"Sst! Aku bilang bangun, kamu jangan melakukan hal itu."
"Kita bisa mengobatinya di sofa nanti, kamu tidak perlu membungkuk dan berjongkok seperti tadi. Aku kasihan dengan bayi kita dan juga dirimu."
Evi merasa alasan Aji itu sangat berlebihan, tetapi dia tidak ingin mengomentari karena inilah pertama kalinya Aji memiliki anak. Mungkin hal itu membuat dia terlalu posesif dan mengkhawatirkan Evi serta bayinya.
"Kenapa?" tanya Aji menangkup wajah Evi, mata mereka saling bersitubruk.
"Kenapa, maksudnya?" Evi bertanya balik.
"Sayang, kemarin kamu yang meminta Rujak, tetapi kenapa kamu tidak memakannya? Apa ada yang salah?"
__ADS_1
Evi terdiam, jujur dia sangat malas membahas masalah ini.
"Huft, lupakan saja, Mas." pinta Evi menurunkan pandangan.
"Tatap mataku, Evi. Aku punya salah? Atau rujaknya tidak sesuai dengan apa yang kamu inginkan?"
"Aku kecewa karena bukan kamu yang memberikan rujak itu padaku." Evi terlihat sedih dan lesu.
Aji tersenyum lucu, dia menarik gemas hidung mancung milik Evi. "Sayang, maafkan aku. Semua itu karena aku ada pertemuan penting dengan pemasok bebek di restauranku."
"Sepenting itu? Bahkan, lebih penting daripada kami? Aku dan anakmu,"
Aji menggeleng cepat. "Kenapa kamu berpikiran seperti itu?" lanjutnya sambil menjelaskan pada Evi, apa saja yang pemasok itu katakan hingga pada akhirnya Elena mengantarkan rujak pesanan Evi.
Wanita itu mendengarkan dengan seksama, dia bahkan terdiam sambil berpikir dan mencerna ucapan demi ucapan yang Aji katakan.
"Jadi aku benar-benar minta maaf. Baiklah, aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku janji, sepenting apa pun pertemuan itu, aku akan menundanya demi kalian berdua." Aji mengelus perut Evi dengan sebelah tangan, sementara tangan satunya lagi, dia mengacungkan jari kelingking guna membuat janji.
Evi tersenyum tipis dan membalas acungan dari Aji. Mereka saling berpelukan dan pria itu menciumi perut Evi yang sudah tampak membuncit.
••••
Tbc
__ADS_1