
Satu bulan kemudian, butik milik Evi sudah dikenal oleh banyak orang. Wanita itu memanggil perancang busana dari luar kota yang tentunya sangat berpengalaman dan profesional. Dia sendiri tidak pernah belajar tentang tata busana sehingga dirinya harus menggaji seseorang sebagai perancang busananya. Namun, ternyata semua itu di luar ekspektasi. Baru berjalan dua bulan butiknya sudah sangat ramai dan banyak pengunjung kelas atas yang datang kesana.
Evi sangat bersyukur, mungkin ini semua adalah rezeki putranya. Dia juga sempat melakukan syukuran atas kenaikkan yang pesat di dalam usahanya.
"Sayang, apa kamu tidak berniat untuk membuka cabang butik lagi? Aku melihat butikmu sangat ramai,"
"Aku tidak kepikiran untuk membuka cabang baru, Mas. Menurutku ini saja sudah cukup,"
"Ya sudah, aku tidak akan memaksamu." Aji memeluk tubuh Evi, saat ini mereka ada di dalam kamar. Sebelum pergi ke tempat kerja masing-masing, mereka menyempatkan diri untuk mengobrol sejenak.
"Ma, Aris sudah selesai!" teriak Aris berlari kecil mendekati kedua orangtuanya.
"Sudah selesai, ya? Ayo kita berangkat, Mama juga lima belas menit lagi ada pertemuan dengan salah satu desainer dari luar negeri. Mereka ingin melihat-lihat rancangan dari desainer Mama. Jika sudah oke, maka mereka akan mengajak kerjasama dengan butik Mama. Bahkan, sebentar lagi akan diadakan fashion show di kota B." jelas Evi pada putranya.
__ADS_1
"Ma, Aris boleh ikut tidak?"
Evi terdiam. "Jika seandainya jadi ikut fashion show, maka Mama pasti akan mengajak Aris." lanjutnya sambil tersenyum.
"Yeay, asyik!" sorak bocah kecil itu dengan sangat antusias.
Mereka pun keluar dari rumah bersama-sama, lalu masuk ke dalam mobil yang berbeda. Setelah itu, kendaraan pun melaju meninggalkan pekarangan rumah tersebut.
****
"Huft, jika Mama dan kakak tahu aku begini, pasti mereka akan memintaku segera menikah dan tidak perlu melanjutkan pendidikan." gumam Lusi sambil tertawa lebar.
Dia terus menggeser layar ponsel ke bawah, setelah menemukan nama yang unik dan seperti kebarat-baratan, gadis itu segera mengkliknya.
__ADS_1
"Ronald Reagan? Nama yang bagus, ternyata juga tampan. Eh, ini foto asli atau bukan, ya? Jangan-jangan dia mengambilnya dari google lagi." kekehan kecil keluar dari bibir gadis itu, dia kembali melihat album milik Ronald. Disana ada dua buah video yang memperlihatkan pria itu sedang gym.
"Apa memang benar dia orangnya? Wah, tampan sekali." kekaguman muncul di benak gadis itu, dia iseng-iseng memfollow akun Ronald dan tinggal menunggu balasan.
"Huft, semoga dia bisa menjadi selinganku. Selama ini aku belum pernah merasakan yang namanya berpacaran, itu semua karena Mama dan kakak melarangku. Ya, aku tahu jika semua itu demi kebaikanku, tapi sesekali aku juga ingin merasakan punya kekasih. Tidak masalah 'kan?" gumamnya berbicara sendiri.
Tak lama kemudian, balasan dari Ronald terpampang jelas di layar ponsel Lusi. Disana, pria itu mengenalkan namanya, asal, dan usia. Sungguh Lusi terpesona dengan ketampanan pria tersebut, di tambah Ronald juga berasal dari keluarga kaya raya.
"Ternyata dia tinggal di luar negeri," Lusi berdecak kagum, dirinya menatap postur tubuh Ronald yang ada di album.
"Kenapa aku seperti mengenal postur tubuh ini, ya? Tapi dimana? Apa aku salah orang? Mungkin saja mereka hanya mirip." Lusi mengedikkan bahu asal, dia pun merebahkan diri dan mulai melakukan komunikasi dengan Ronald.
•••••
__ADS_1
**Tbc
MOHON DUKUNGANNYA 🌹**