
Pagi harinya, wajah sepasang suami-istri itu sangat berseri. Tadi malam mereka menyelesaikan hingga lima ronde dan membuat Lusi berakhir tidak bisa berjalan. Bagaimana tidak, dirinya sangat kewalahan mengimbangi permainan Aji. Tentu saja, Aji sudah berpengalaman sementara Lusi baru mencobanya tadi malam. Gadis itu sangat malu, tetapi dia membuang gengsinya itu. Saat ini dia sudah tidak lagi gadis dan telah menjadi milik seorang Aji Pranata.
Lusi menggeliatkan tubuhnya, dia membuka kelopak mata lalu segera menegakkan badan. Dirinya menoleh ke samping dan ternyata Aji masih terlelap dengan nyaman. Pria itu bahkan tidak memakai baju, hanya berbalutkan selimut. Lusi tersenyum manis ketika dia mengingat kejadian tadi malam, dirinya menggigit bibir bawah karena gemas dengan Aji.
"Huft, aku tidak menyangka kita akan bersama, Mas. Aku pikir kehidupan kita akan seperti itu-itu saja, tidak ada kepastian entah sampai kapan. Tapi pada akhirnya, aku bisa bernapas lega karena kamu sudah menerimaku setulus hati." gumam Lusi, dia membelai wajah Aji secara perlahan.
Lusi kaget ketika tiba-tiba Aji membuka mata. "M—mas, kamu udah bangun? Sejak kapan?" tanyanya gugup.
Aji memiringkan badan, dia menopang kepalanya menggunakan tangan sebelah kiri, lalu dirinya tersenyum manis menatap Lusi.
"Sejak tadi,"
"Jadi, kamu—"
Grep!
Aji mengangguk, dia memeluk tubuh Lusi. "Aku mendengar apa yang barusan kamu ucapkan."
"Ck, dasar nakal!" Lusi memukul dada bidang Aji.
__ADS_1
"Aw," Aji meringis lucu, keduanya pun tertawa bersama. "Lusi, apa pagi hari ini kita akan mengawalinya dengan olahraga seperti tadi malam?"
Seketika mata Lusi melotot dan dia menjauhkan tubuhnya. Secepat kilat wanita itu menggelengkan kepala.
"Tidak, Mas! Rasa sakitnya saja belum hilang, dan kamu ingin menggempurku lagi? Tidak-tidak." Lusi ingin turun dari ranjang, tetapi bagian limbahnya terasa sakit. Wanita itu merintih menahan perih.
Aji sadar apa yang Lusi rasakan, dia dengan sigap memegang pundak wanita itu. "Maafkan aku yang sudah terlalu kasar bermainnya, dan mengakibatkan kamu berakhir seperti ini." ucap Aji meminta maaf setulus hati.
"Tidak masalah, Mas. Ini baru pertama kali, wajar saja jika aku merasakan hal seperti ini."
Aji turun terlebih dahulu, dia hanya memakai celana pendek saja dan roti sobeknya terpampang jelas di depan mata Lusi. Pria itu memegang pundak Lusi dan menuntunnya dengan perlahan ke kamar mandi.
"Wow, kamu memasak, Mas? Kenapa tidak beli sarapan diluar saja?"
Aji yang kala itu sedang menggoreng hanya tersenyum manis.
"Masak apa?" Lusi mendekati Aji.
Cup.
__ADS_1
Pria itu memberikan kecupan terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan sang istri.
"Omelette saja dan ada beberapa menu lainnya di meja makan." Aji menunjuk ke arah meja. "Oh ya, dimana Aris? Apa dia belum bangun?"
"Aku juga tidak mengerti, Mas. Masih sepi, aku rasa dia memang belum bangun. Biar aku periksa," Lusi berjalan pelan menuju kamar Aris.
Sesampainya di depan kamar, wanita itu langsung mengetuk pintu.
"Aris! Sayang bangun!'' teriaknya sambil terus mengetuk pintu.
Tak lama kemudian, Aris keluar dari dalam kamar dengan sudah bersiap untuk pergi ke sekolah.
"Wah, anak Mama sudah tampan. Waktunya sarapan, ayo!" Lusi menggenggam jemari Aris setelah anak itu menjawab pujiannya dengan senyuman.
Mereka berdua berjalan menuruni anak tangga.
••••
Tbc
__ADS_1