Dilema Dalam Pernikahan

Dilema Dalam Pernikahan
Bab. 41 Mulai terbuka


__ADS_3

Keesokan paginya, Aji sengaja bangun lebih pagi dibandingkan Lusi. Dia sudah berniat untuk mengajari gadis itu memasak. Sementara di dalam kamar, Lusiana terbangun. Dia mengucek kedua mata karena ada yang mengetuk pintu kamarnya.


"Siapa sih?" gumamnya pelan, dia dan Aji tidur di kamar yang terpisah. Mereka seperti itu ketika Aris sudah tertidur lelap.


Lusi bangkit dari ranjang, dirinya berjalan gontai ke arah pintu.


Ceklek.


Pintu terbuka dan gadis itu terlonjak kaget. Dia memundurkan langkah sambil memegangi dadanya.


"Astaga, Mas Aji! Kenapa pagi-pagi sudah berada di depan kamarku?" tanya Lusi pelan agar tidak di dengar oleh Aris.


"Bukankah hari ini kamu ingin belajar memasak? Ayo, aku akan mengajarimu." Aji ingin menarik tangan Lusi tetapi gadis itu mencegahnya.


"Mau apa?''


"Mengajakmu turun."


"Aku baru saja bangun, Mas. Bahkan belum mencuci muka atau pun sikat gigi, kamu turunlah dulu, aku akan menyusul nanti."


Aji menatap penampilan Lusi, meskipun baru bangun tidur, gadis itu tetap terlihat cantik dan mempesona dengan wajah polos tanpa makeup nya.


"Baiklah, aku akan menunggumu di dapur." ujar Aji pergi dari kamar Lusi.


Di tengah perjalanan menuju tangga, Aji menggelengkan kepala karena entah kenapa mulai kemarin hatinya tertuju pada Lusi. Dia seperti tertarik dengan gadis itu, namun Aji masih mengingat jika dia tidak ada yang bisa menggantikan Evi.


Beberapa menit kemudian, Lusi sudah berada di dapur. Mereka berdua akan membuat pastel goreng hari ini.


"Em, sepertinya mudah. Biarkan aku mencobanya." Lusi mulai membentuk pastel tersebut, saat sudah dapat banyak, gadis itu merasakan hidungnya gatal. Dia hanya menyentuh hidung itu menggunakan ujung jari kelingkingnya.

__ADS_1


Aji yang baru saja kembali dari dari kamar mandi, langsung berjalan mendekati Lusi.


"Bagaimana?" tanyanya setelah berada di dekat Lusi.


"Lihat hasilnya, bagus 'kan? Aku sudah bisa, dan bahkan aku sudah mengetahui resepnya. Em, lain waktu aku akan membuatnya sendiri tanpa bantuan dari siapapun." ucap gadis berusia dua puluh empat tahun itu.


Tanpa sengaja mata Aji terhenti di hidung bangir milik Lusi. Dia mendekatkan wajahnya hingga gadis itu kebingungan.


"M—mas, apa yang kau—" ucap Lusi terbata saat napas Aji terasa berhembus di kulit wajahnya.


Perlahan, tangan Aji terulur. Keduanya saling tatap dan Lusi menelan ludah dengan kasar. Jantungnya berdegup kencang, napasnya terasa tercekat. Ingin berbicara namun tak mampu.


'Ya ampun, Mas Aji sangat tampan sekali jika dilihat dari dekat begini.' batin Lusi serasa ingin pingsan.


Lusi memejamkan mata, dia pikir Aji ingin menciumnya.


Beberapa detik kemudian, Lusi kembali membuka mata saat dia merasakan sesuatu mengenai hidungnya.


"Tadi ada sedikit tepung di hidungmu, tapi sudah aku bersihkan."


Lusi merutuki kebodohannya, dia benar-benar malu. Seharusnya gadis itu sadar jika Aji tidak akan pernah mau menciumnya atau menyentuhnya. Di dalam hati pria itu masih ada Evi yang tidak akan pernah terganti.


'Kamu terlalu berlebihan, Lusi. Mana mungkin dia mau menciummu,' ucapnya dalam hati.


Mereka bertiga pun kini berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama.


"Lusi, malam ini aku akan pulang terlambat."


"Bukankah sudah biasanya seperti itu, Mas?" Lusi memicing.

__ADS_1


"Ya, maksudku kamu tidak perlu menungguku seperti biasanya. Tidurlah di kamar jika kamu mengantuk, jangan menambah pekerjaanku dengan cara menggendong ke dalam kamar."


Lusi cengengesan, dia melirik Aris sekilas yang ternyata hanya fokus ke sarapan paginya.


"Hari ini aku akan pergi ke luar kota bertemu dengan salah satu pengusaha, yang akan memesan menu di restauran kita. Cukup banyak jumlahnya, jadi aku ingin dia memberi DP terlebih dahulu."


"Ke kota mana, Mas? Dan berapa banyak yang dia pesan?"


"Kota S, mereka memesan kurang lebih enam ratus porsi."


"Wah, sangat banyak, Mas. Syukurlah jika restauran kamu maju seperti ini, semoga saja semakin banyak yang berlangganan di restauran kita." ucap Lusi sambil tersenyum.


"Ya, aku juga berharap seperti itu. Aku mohon tolong jaga putraku dengan baik selagi kesibukanku padat seperti ini."


"Meskipun kamu tidak mengingatkannya, pasti aku akan menjaga Aris dengan baik. Dia itu sudah ku anggap seperti anak kandungku sendiri, kamu tidak perlu khawatir jika dia bersamaku."


Aji mengangguk sambil tersenyum, tidak biasanya dia seperti ini. Mengobrol lama, berkata lembut dan tersenyum.


"Kalau begitu, aku pergi dulu." Aji berdiri dari tempat duduk begitupun dengan Aris yang baru saja selesai memakan buah anggur.


"Ma, Aris pergi sekolah, ya?"


"Hati-hati ya, Sayang. Belajar yang pintar dan jangan nakal. Nanti siang, Mama akan menjemput kamu disekolah."


Aris mengangguk diiringi senyum manis, dia pergi bersama dengan Aji.


•••


VISUAL LUSIANA ANDRIANI 🔥

__ADS_1



__ADS_2