Dilema Dalam Pernikahan

Dilema Dalam Pernikahan
Bab. 37 Tidak ada paksaan


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


Flashback off:


Sudah dua Minggu ini Aris terus saja merengek agar Aji menikahi Lusi, bocah itu sangat menginginkan seorang Ibu agar bisa menjadi temannya ketika tidur malam. Namun, sayang sekali Aji menolak permintaan Aris meski anak itu menangis. Bukan apa, Aji benar-benar belum bisa membuka hati untuk wanita manapun.


Saat ini, Halimah dan Marwah berada di rumah Aji. Disana juga ada Lusi, mereka semua ingin membahas masalah hubungan antara Aji dah Lusi.


"Bagaimana, Aji? Apa kamu tetap menolak untuk menikah dengan Lusi? Dia itu gadis yang baik, dan lagi dirinya adalah adik kandung dari Almarhumah istrimu. Kamu bisa tenang meninggalkan Aris bersama dengan Lusi,"


"Maaf, Ma. Aku masih belum bisa memutuskan untuk menikah lagi."


"Apa karena cinta? Kami tidak memintamu untuk melupakan Evi, tetapi kami hanya ingin ada yang mengurus Aris dan membantumu dalam usaha. Jika kalian terus bersama tanpa ikatan sakral, maka orang di luar sana bisa berpikiran jelek tentang kalian berdua." ujar Marwah membujuk sang putra.


"Bener, Nak Aji. Jika fitnah di luar sana terjadi, maka orang tua juga yang akan malu." sambung Halimah, dia lalu melirik putrinya. "Lusi juga sudah setuju jika dia harus menikah denganmu, benarkan, Nak?" lanjutnya bertanya pada Lusiana.

__ADS_1


"Iya, Mas. Aku akan menerima kamu apa adanya, aku tidak memaksa kamu untuk mencintaiku. Bagiku yang terpenting adalah bisa menemani Aris setiap hari." ucap Lusi jujur, dia hanya memikirkan tentang Aris.


"Mama juga tidak selalu bisa menjaga Aris, kamu tahu 'kan kalau kakak kamu butuh bantuan dari Mama untuk menjaga anaknya yang baru saja lahir." ucap Halimah pada Aris.


"Begitupun dengan Mama, Aji. Mama tinggal jauh dan tidak bisa menetap disini."


Aji terdiam mendengar ucapan dari para orang tuanya, dia berpikir lalu sejenak kemudian menganggukkan kepalanya.


"Baik, aku sudah mengambil keputusan."


"Aku akan menikahi Lusi, tapi maaf jika aku tidak bisa mencintai dia."


Semuanya tersenyum puas, tidak masalah jika saat ini Aji belum bisa mencintai Lusi. Tetapi suatu saat nanti, pria itu pasti bisa mencintai gadis tersebut. Lusi adalah gadis yang baik, cantik, sopan, dan sedikit bar bar, tidak seperti Almarhumah Evi. Itulah yang para orang tua harapkan, mereka tetap mengingat Evi tetapi masa depan Aris dan Aji masih panjang. Maka dari itu harus membuka lembaran baru tanpa melupakan kenangan lama.


Flashback on:

__ADS_1


Disinilah Lusi berada, di rumah Aji yang sangat mewah dan megah. Namun, dirinya memang tidak pernah mendapatkan cinta ataupun perhatian meski mereka sudah tiga Minggu menikah. Sedih? Tentu saja, tetapi Lusi mengingat perkataannya tempo lalu.


"Mas, aku membuatkan kopi untukmu." Lusi tetap bersikap menjadi istri yang baik.


"Terima kasih, harusnya kamu tidak perlu repot-repot seperti ini, Lusi. Bukankah kamu berada disini hanya untuk Aris?" ujar Aji sambil menyeruput kopi panas buatan Lusi.


Gadis itu tersenyum hambar. "Benar, Mas. Tapi saat ini aku sudah sah menjadi istrimu, dan inilah tugasku. Meski kamu tidak mencintaiku, namun aku akan tetap berusaha menjadi istri yang baik untukmu."


Hati Aji tersentuh dengan perkataan Lusi, ternyata mantan adik ipar yang kini menjadi istrinya itu sangat menghargai pernikahan ini. Padahal, bagi Aji semuanya hanya demi kebahagiaan Aris.


"Hari sudah siang, aku akan mengantar Aris ke sekolah terlebih dahulu. Oh ya, kemungkinan aku akan pulang terlambat nanti. Jadi, aku mohon jangan menungguku."


Lusi seketika mengangguk, memang setiap malam dia selalu menunggu Aji sampai tertidur di sofa.


••••

__ADS_1


TBC


__ADS_2