
Alex sontak mencengkram lengan pria yang tadi menubruk Evi, tatapannya sangat tajam seakan menghujam ke ulu hati.
"M—maaf, Tuan. Saya tidak sengaja," ucap sang pria seperti tahu apa yang Alex pikirkan.
"Lain kali kalau jalan itu hati-hati, pergunakan matamu."
Pria itu mengangguk cepat, lalu dia pergi dari sana setelah cengkeraman Alex terlepas. Kembalilah Alex dan Evi mencari jajanan pasar. Sesudah mendapatkan apa yang diinginkan, sekarang mereka tinggal membayar. Namun, Evi kaget karena dompet di dalam keranjang tidak ada.
Alex yang mengetahui kebingungan Evi langsung bertanya. "Ada apa?"
"Mas, dompetnya hilang!" pekik Evi tetapi dengan nada berbisik.
"Apa! Kok bisa? Coba cari yang benar, barangkali ke selip."
Evi mengulangi mencari dompet itu di dalam keranjang tetapi hasilnya nihil. Dompetnya telah hilang entah kemana.
"Aku ingat! Jangan-jangan pria yang tadi menubrukku itu hanya modus, padahal sebenarnya dia ingin mencopet." Evi menepuk dahinya begitupun dengan Alex yang tampak kesal.
__ADS_1
"Kenapa kamu ceroboh sekali?"
"Loh, kok kamu jadi menyalahkan aku? Kalau tau disini itu banyak copet, pasti aku tidak akan menaruh dompet di dalam keranjang." Evi pun menjadi kesal, memang di dompet tersebut hanya ada beberapa lembar uang kertas, tidak ada barang berharga lainnya.
Ibu-ibu penjual makanan menyimak obrolan Alex dan Evi, beliau pun angkat bicara.
"Tuan, disini itu memang rawan copet. Makanya harus hati-hati,"
Alex menghela napas, dia mengeluarkan dompetnya yang berada di kantong celana depan. Untung saja pria itu tidak menyimpan dompetnya di kantong belakang, jika saja dia melakukan hal tersebut, mungkin saja benda berharganya itu juga akan raib di ambil oleh copet.
Alex membayar kue tersebut, lalu mereka pun segera pergi dari sana.
Meera yang memang belum ada jadwal ke rumah sakit, langsung segera keluar menghampiri Alex dan Evi.
"Loh, Alex! Kenapa kamu tidak membantu Evi? Apa kamu tidak melihat jika Evi kesulitan membawa barang belanjaannya?"
Alex melirik Evi sejenak. "Biarkan saja, Ma. Itu hukuman karena dia sudah berani menghilangkan dompet yang masih berisi uang."
__ADS_1
Meera cukup bingung, dia tidak paham dengan apa yang Alex katakan.
"Maaf, Ma. Tadi aku kecopetan."
"Apa!" Meera melotot kaget, hal itu membuat Evi terlonjak. Wanita itu berpikir jika Meera saat ini pasti marah.
"Kecopetan? Lalu, kamu baik-baik saja 'kan? tanya Meera khawatir, sungguh diluar dugaan Evi.
Wanita itu mengangguk dengan senyum tipis. "Maaf, Ma."
"Hei, kamu tidak bersalah, Nak. Kenapa harus minta maaf? Itu semua musibah, tidak ada yang bisa lari dari sebuah musibah."
Alex sangat malas melihat wajah sok polos yang Evi tunjukkan, dia masuk ke dalam rumah tanpa mengatakan sepatah kata pun.
"Biarkan saja, dia memang seperti itu. Dirinya sangat kesal jika uangnya hilang, karena dia memikirkan jika mencari uang itu sangat sulit. Tapi tidak ada yang tahu kapan musibah datang pada kita, jadi kamu jangan terlalu khawatir dengan sikap Alex barusan." jelas Meera panjang lebar.
Evi mengangguk paham, mereka pun masuk ke dalam untuk membereskan barang belanjaan itu.
__ADS_1
••••
Tbc