
Tepat pukul sebelas malam, Aji baru sampai di rumah. Dia masuk ke dalam dan ternyata tidak mendapati Lusi yang biasanya tidur di sofa. Pria itu tersenyum tipis sambil menggedikkan bahunya, dia cukup heran karena Lusi tidak keras kepala lagi seperti kemarin.
Dirinya berjalan menaiki anak tangga, tujuannya saat ini adalah kamar, tetapi entah mengapa ketika tiba di depan pintu kamar Lusi, kakinya berhenti melangkah. Otak pria itu mengajaknya ke masuk kesana, tetapi dia masih bimbang dan bingung.
Kriet.
Bunyi pintu terbuka, Aji sudah masuk ke dalam kamar Lusi. Dia berjalan ke ranjang dan duduk di tepinya. Perlahan, tangan pria itu terulur. Dia tersenyum sendiri ketika mengingat kejadian konyol yang Lusi lakukan. Meskipun sering tidak di anggap, tetapi gadis tersebut tetap berusaha menjadi istri yang baik.
"Apa aku salah karena tidak mencoba membuka hati untukmu? Jika aku menerimamu sebagai istriku, apa itu tidak akan membuat Evi bersedih dan menganggapku berpaling darinya? Aku bingung, Lusi. Entah mengapa belakangan ini aku mulai tertarik padamu, kamu adalah gadis yang baik dan tidak pantas di sakiti." gumam Aji sambil mengelus rambut Lusi.
Pemilik rambut itu merasa terganggu, karena Aji yang sama sekali tidak menghentikan aktivitasnya. Tubuhnya menggeliat dan perlahan kedua matanya berkedut pelan. Ketika dia membuka mata, dirinya langsung menangkap sosok Aji yang sudah berada di dekatnya. Lusi berharap itu hanyalah mimpi, dia tersenyum tipis sambil memiringkan kepalanya.
"Bahkan dalam mimpiku pun kamu muncul, Mas. Sangat lucu bukan? Kamu berkata jika kamu tidak akan pernah mencintaiku, kamu sangat menghargai cinta dari kak Evi hingga sulit untuk membuka hati. Tapi aku? Aku yang bo*d*oh ini malah berharap kamu mencintaiku dan kita bisa membangun rumah tangga yang bahagia." curhat Lusi tanpa sadar jika saat ini dia tidaklah bermimpi.
Aji mendengar keluh kesah sang istri, ada rasa kasihan di dalam hatinya. Dirinya hanya diam saja tanpa berniat untuk mengatakan sepatah kata pun.
"Hanya memandangmu saja, rasanya aku sudah sangat bahagia, Mas."
Pria itu tiba-tiba mengulurkan jari telunjuk dan hal tersebut langsung membuat Lusi melotot.
__ADS_1
"Sejak kapan kamu bersikap seperti ini di dalam mimpi, Mas? Biasanya kamu hanya diam sambil menatapku saja." tanya Lusi masih belum sadar.
"Ini bukan mimpi, Lusi. Bangunlah dan lihat, aku ini nyata."
Lusi terdiam sesaat, sejenak kemudian dirinya langsung menegakkan tubuh dan melongo.
"M—mas," gugupnya malu.
"Aku sudah mendengar semuanya. Apa benar yang kamu katakan itu, Lusi? Kamu ingin agar aku bisa mencintaimu? Dan apakah kamu juga mencintaiku?"
"A—aku, itu tadi —" ucapan Lusi terputus.
"Sst, jangan berbohong." Aji menempelkan jari telunjuk di bibir Lusi. "Katakan saja yang sejujurnya, Evi. Bisa saja aku juga mencintaimu suatu saat nanti. Aku sadar jika tidak boleh hidup seperti ini selamanya, aku tidak mungkin mengharapkan Evi agar kembali padaku. Aku harus bisa melanjutkan hidupku dengan membuka lembaran baru, tanpa melupakan Evi." Aji berkata jujur, semua ini benar dari dalam hatinya yang terdalam.
Aji mengangguk. "Lusi, hatiku berkata jika mulai saat ini aku harus belajar mencintaimu." ujarnya yakin.
Lusi tersenyum, dirinya langsung masuk ke dalam pelukan Aji. Sementara Aji, pria itu tidak menolaknya, dia mengusap punggung sang istri dengan lembut.
"Aku sangat bahagia mendengar ini, Mas. Setelah beberapa bulan kita menikah, akhirnya kamu mau belajar mencintaiku."
__ADS_1
Hati Aji terasa tenang dan nyaman, dia memejamkan mata sesaat untuk mengikuti suasana yang syahdu malam hari ini.
Pelukan pun terurai, keduanya saling tatap penuh cinta. Aji menyelipkan anak rambut Lusi di belakang telinga.
"Lusi, maukah kamu menemaniku selamanya? Dalam keadaan susah maupun senang?"
Lusi mengangguk cepat, dia tersenyum manis membuat Aji terhipnotis.
Keduanya memejamkan mata, perlahan bibir mereka saling menempel satu sama lain.
'Maafkan aku, Evi. Aku tidak melupakanmu atau pun membagi cintaku, tetapi inilah jalannya, ini takdir untuk masa depanku. Hatiku tidak mungkin terus-menerus menjadi batu, aku yakin kamu pasti memahami dan tidak akan marah jika aku bersatu dengan adikmu.' batin Aji sambil mencoba membuka mulut Lusi agar lidahnya bisa leluasa masuk ke dalam sana.
'Kak, aku tidak bermaksud untuk merebut suamimu. Aku tidak berniat menggeser posisimu, tetapi ini semua demi kehidupan kami di masa depan. Tidak mungkin pernikahan ini selalu di gantung tanpa ada kepastian rasa cinta. Buah dari penantianku selama ini, akhirnya aku mampu meluluhkan hati Mas Aji.'
Keduanya saling *******, mengecap setiap inci rongga mulut masing-masing. Malam ini akan menjadi saksi jika keduanya sudah berkomitmen serius untuk membangun masa depan bersama.
Aji sudah lama tidak di sentuh, sebagai pria normal tentu saja dia merindukan kehangatan dari seorang wanita.
••••
__ADS_1
Tbc