
Sepulang kuliah, Aris pun memulai pekerjaannya. Ini adalah hari pertamanya bekerja dan dia tidak bisa mengecewakan sang bos, dirinya masuk ke dalam toko, dia melayani pembeli dengan baik dan senyum ramah. Ya, jujur saja ini bukanlah diri Aris Pranata yang sebenarnya. Dia adalah tipe pria yang cool, sedikit cuek dan tidak suka melayani orang lain. Kurang lebih seperti itulah dia dulunya, tetapi sekarang semuanya terbalik, dunia ini seperti terbalik baginya.
Aris sedikit memiliki kesalahan sewaktu di bekerja. Ya, maklum saja ini adalah hari pertamanya dia bekerja. Di sana dia memiliki dua teman yang bernama Jono dan Eko. Temannya itu sangat baik, dan sang bos yang bernama Miko meminta kepada kedua anggota lamanya itu agar membantu Aris mengerjakan pekerjaannya dan memberitahu apa-apa saja yang harus harus di lakukan.
Sore harinya, Clara datang dengan membawa cemilan untuk Aris. Dia melihat pria itu sedang mengangkat semen dan menaikkannya ke dalam mobil. Wajah Aris semakin cool dengan keringat yang menetes di wajahnya.
"Selamat sore," sapa Clara diiringi senyum manis.
Aris menoleh, dia menyeka keringat dan menatap Clara.
"Clara, cari apa disini?"
"Aku mencarimu." goda Clara dan hanya mendapatkan gelengan kepala dari Aris.
"Aku sebentar lagi juga pulang," Aris berlalu masuk ke dalam karena di panggil oleh Eko.
__ADS_1
Clara merasa jika Aris seperti tidak tertarik dengannya, dia heran kurang apa dirinya ini? Cantik, seksi, dan memukau. Tetapi sepertinya jiwa playboy Aris sudah sembuh hingga dia tidak terlalu dekat dengan gadis manapun.
Beberapa saat kemudian, mereka pulang ke rumah bersama-sama. Clara tidak mengenal lelah untuk mendapatkan Aris. Dia berpura-pura terjatuh agar di tolong oleh Aris. Dan bener saja, pria itu dengan sigap menopang tubuh Clara yang lunglai ke samping, dirinya memegang lengan dan pundak Clara.
"Astaga, ada apa, Clara?"tanya Aris keheranan.
Clara memegangi lututnya, dia mengatakan jika kakinya tergelincir akibat tersandung batu dan Aris pun berjongkok melihat kaki Clara. Bukan dianya ingin modus, tetapi dia merasa kasihan wanita itu. Sementara Clara, dia tersenyum senang dengan perhatian yang Aris berikan untuknya.
Setelah di rasa lumayan, akhirnya mereka melanjutkan perjalanan.
****
"Selamat malam."
Ayuna menoleh, dia meletakkan bukunya di meja. "Aris, silakan duduk. Ada keperluan apa, ya?" tanyanya penasaran.
__ADS_1
Aris mengeluarkan buku yang dia bawa. "Yun, aku tidak paham dengan pelajaran ini. Apa kamu bisa membantuku untuk mengerjakannya? Tapi, maaf aku tidak bisa memberikan upah padamu seperti yang lainnya. Kamu tau 'kan jika aku baru saja dapat pekerjaan dan belum gajian."
Ayuna tersenyum manis. "Aku akan membantumu. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan tentang bayaran, aku menolong ikhlas jika memang kamu sungguh-sungguh ingin belajar." jawabnya.
Dia adalah gadis yang pintar, karena kepintarannya itu, banyak yang meminta padanya agar mengerjakan tugas dan membayar dengan upah besar. Tentu saja Yuna tidak menolak, karena hanya itulah penghasilannya untuk tambah-tambahan pengobatan sang Ibu.
Mereka berdua belajar bersama, Yuna menjelaskan pada Aris dengan detail dan dia sabar mengajari pemuda itu. Dari kejauhan, Clara melihat keduanya saling berdekatan karena memang Ayuna harus memberikan pemahaman pada Aris.
Clara berjalan menghampiri mereka berdua, setelah itu dia berdehem tegas. Keduanya menoleh, mereka kaget karena ada Clara disana.
"Ra, kamu disini?" tanya Aris sambil menutup buku dan jaraknya dengan Ayuna juga sudah jauh.
"Ya, apa boleh aku bergabung dengan kalian? Kebetulan tadi aku ingin bermain ke rumah bibimu, Ris." ucap Clara.
Ayuna mempersilahkan Clara duduk, gadis itu langsung mengajak Aris mengobrol tanpa memikirkan sang pemilik rumah.
__ADS_1
•••••
Tbc