
Satu Minggu kemudian, Aji sudah memutuskan untuk mengirim Aris ke desa. Pemuda itu sempat menolak, tetapi dia tidak bisa berkutik karena papanya mengancam jika dia tidak mau pindah maka dirinya tetap kehilangan fasilitas dan kuliah.
Aji hanya memberikan Aris uang sebesar satu juta, dan itu harus di pergunakan sebaik mungkin karena Aji tidak akan memberikan uang lagi untuk Aris. Saat ini pemuda tampan itu telah sampai di desa, dia di turunkan tepat di tugu masuk ke dalam pedesaan. Dirinya hanya membawa satu ransel pakaian, uang sebesar satu juta, dan ponsel. Selebihnya dia meninggalkannya di rumah.
Dua motor biasa menjemput Aris dan Willson, pemuda berusia sembilan belas tahun itu juga di hukum menemani sang kakak karena dia ikut andil dalam masalah balap liar itu. Sungguh mengesalkan menurut Willson.
Beberapa saat kemudian, mereka telah sampai di rumah milik Bibi. Bibi adalah adik sepupu dari Evi, dan mereka memang tinggal di sana sejak dulu. Aris masuk ke dalam rumah, sang Bibi pun menyambutnya dengan ramah.
''Selamat datang keponakan bibi. Ayo masuk, Nak. Kalian lelah bukan? Istirahatlah terlebih dahulu dan bibi akan memasak untuk kalian berdua." ucap Bibi Aminah sumringah. Dia mulai pergi ke dapur dan bersiap untuk memasak makan malam. Kebetulan hari sudah sore, jam juga menunjukkan pukul empat.
Di dalam kamar, Aris dan Willson melihat ke seluruh penjuru kamar. Sangat kecil dan sangat jauh beda dengan kamarnya yang ada di kota. Mereka duduk di kasur yang sedikit kasar tidak seempuk kasur miliknya. Keduanya merebahkan diri lalu memejamkan mata sesaat.
Tak terasa satu jam sudah mereka tidur, Aris bangun dan melihat ke arah jendela. Ternyata cuaca masih terang dan membuat Aris berniat untuk berkeliling.
"Wil, Willson!" panggilnya menggoyangkan pundak Willson, anak remaja itu mendengkur kasar membuat Aris berdecak kesal.
"Gila anak ini, bisa-bisanya dia sampai mendengkur seperti itu." Aris menggeleng lalu dia berjala keluar dari kamar.
Setelah berada di ruang tamu, Aris menghampiri bibinya yang sedang sibuk memasak di dapur. Dia menegur hingga membuat Aminah terkejut dan kuali yang ada di depannya hampir saja terjatuh.
"Aris! Astaga, jantung bibi hampir saja copot." ujar Aminah sambil mengelus dadanya.
Aris hanya terkekeh pelan, dia meminta maaf lalu melirik apa yang bibinya masak.
"Bi, apa disini tidak ada AC? Panas sekali, aku tidak tahan." keluh Aris pada Aminah.
"Ya ampun, Nak. Kamu ini ada-ada saja, di desa ini hanya pak kades yang punya AC. Memangnya kenapa? Apa kipas angin di dalam kamar tidak terasa di tubuhmu?"
"Kurang, Bi." ujar Aris jujur.
Bi Aminah hanya menggeleng, dia kembali melanjutkan aktivitas memasaknya.
"Bi, apa aku boleh berkeliling di desa ini? Aku penasaran dan ingin melihat keadaan desa."
__ADS_1
"Pergilah, Bibi akan meminta pada Naina agar menemanimu." ujar Bi Minah lalu dia memanggil putri sematawayangnya.
Naina keluar dari kamar, dia menghampiri sang Ibu. "Ada apa, Bu?"
"Tolong temani kakakmu jalan-jalan, dia ingin berkeliling di desa ini."
Naina mengangguk, gadis berusia tujuh belas tahun itu mengajak Aris keluar dari rumah. Mereka berjalan santai, Naina menjelaskan tentang keadaan desa yang asri itu. Pemandangan hijau menambah kesan tersendiri disana. Aris tidak menyimak pembicaraan Naina selanjutnya karena dia melihat seorang gadis cantik sedang duduk di bawah pohon. Wajah ayu alami milik gadis itu membuat Aris langsung terpana. Langkahnya tiba-tiba terhenti, dan hal itu membuat Naina ikut menghentikan langkah kakinya.
"Kak, ada apa?" tanya Naina kemudian. Gadis itu melihat keterdiaman Aris yang sedang menatap ke suatu arah, seketika senyum di bibir Naina tersungging.
"Kak, kakak ingin berkenalan dengannya ya?" tanya Naina.
Aris melirik Naina sejenak. "Kau mengenalnya?"
"Ya, dia adalah kak Ayuna. Tempat tinggalnya tidak jauh dari rumah kita."
Aris pun hanya diam, dia terus menatap ke arah Ayuna hingga kemudian gadis cantik itu pergi dari sana. Tatapan mata Aris tetap tertuju pada Ayuna, dia sampai melupakan jika dirinya masih memiliki Hanna.
"Dia sudah pergi, kak. Apa kau masih betah berada disini?" tegur Naina membuat Aris tersadar dari lamunannya.
Mereka kembali berjalan dan berbincang, begitu banyak gadis di desa itu yang terpana akan ketampanan Aris. Tentu saja pemuda itu berbeda dari yang lainnya, karena dia adalah anak kota.
****
Malam hari, Aris tidak bisa tidur. Dia mengibaskan tangannya karena terlalu banyak nyamuk di kamar. Padahal Bi Minah sudah memasang anti nyamuk tetapi sepertinya nyamuk itu bandel dan dia ingin dekat dengan Aris.
"Kak, nyamuk saja ingin berkenalan denganmu, apalagi wanita." gurau Willson lalu mendapatkan pukulan dari Aris.
Willson memegangi tangannya yang terasa sakit akibat pukulan dari Aris. "Kau sudah melakukan kekerasan, kak. Sungguh ini benar-benar membuatku tersakiti." ejeknya dan hampir saja mendapatkan satu pukulan lagi dari Aris.
Willson terkekeh geli melihat wajah gelisah milik kakak sepupunya itu.
"Akh, aku tidak bisa tidur. Panas, banyak nyamuk, tempat apa ini? Bahkan kamarnya sangat pengap dan kecil. Berbeda dengan kamarku yang ada di kota."
__ADS_1
"Jelas saja berbeda, rumah ini sangat sederhana. Apa kakak tidak melihatnya?"
Aris berdecak mendengar penuturan dari Willson, anak kecil itu sok benar dan pintar.
"Wil, ayo kita keluar. Aku tidak tahan berada di kamar ini." Aris beranjak dari ranjang diikuti oleh Willson.
Mereka berdua keluar dari rumah untuk mencari udara segar, kebetulan jam masih menunjukkan pukul sepuluh malam. Kedua pemuda tampan itu melihat ke sekeliling rumah, sudah sepi rupanya.
"Kak, kenapa desa ini menjadi seperti desa mati, ya? Lihat saja, sepi sekali." bisik Willson membuat Aris mendengus.
"Diamlah, ini sudah malam dan jangan bicara hal-hal aneh." peringatan yang Aris berikan untuk Willson.
Saat mereka sedang mengobrol sambil minum kopi, seorang wanita melintas dari depan rumah itu. Wanita tersebut menghentikan langkahnya sejenak ketika dia melihat dua pemuda tampan yang sedang duduk di kursi.
"Itu siapa? Apa tamu Bu Minah? Tapi, kenapa tampan sekali? Masih muda lagi." ujar gadis itu, dia membenahi rambutnya dan berjalan ke arah rumah Bi Minah.
"Permisi!" sapanya hingga Aris dan Willson menoleh ke asal suara.
"Ya, ada apa, Mbak?" tanya Willson kemudian.
"Kalian siapa, ya? Aku baru melihat kalian ada disini."
"Kami pendatang baru." jawab Aris.
Gadis itu seketika terhipnotis melihat wajah Aris yang sangat tampan. Dia tersenyum tipis lalu mengulurkan tangannya.
"Hai, perkenalkan aku Clara."
"Aris."
Willson juga ikut berkenalan dengan Clara, gadis itu belum tahu saja jika Aris adalah seorang playboy dan mungkin saja nanti gadis-gadis disana akan menjadi kekasihnya semua.
•
__ADS_1
•
Tbc