
Hari berjalan seperti biasanya, saat ini Dokter Almeera membawa Evi pulang. Meera sangat iba dengan keadaan Evi yang sedang amnesia dan tidak mengetahui tempat tinggalnya. Wanita paruh baya berusia lima puluh lima tahun itu masuk ke dalam rumah. Sudah hampir satu Minggu Evi menginap di rumah sakit dan sama sekali tidak ada yang berniat menolongnya.
"Masuklah, Nona." ajak Meera diselingi senyum tipis.
Keduanya menginjakkan kaki masuk ke dalam sana, Evi melihat ke sekeliling rumah mewah itu. Dia takjub karena di dalam sana sangat banyak barang-barang mahal dan pastinya limited edition. Gucci-gucci besar yang berjajar di atas meja memiliki harga yang fantastis. Benar-benar menakjubkan, itulah batin Evi.
"Nona, ada apa? Kamu kurang nyaman dengan rumah ini?"
Evi menoleh dan dia melirik Meera sejenak. "Bukan begitu, Nyonya. Rumah Anda sangat indah, mewah dan besar. Mungkin saya akan betah berada di rumah ini," pujinya sambil tersenyum manis.
"Syukurlah jika kamu betah. Baiklah, kalau begitu aku akan menunjukkan kamarmu." keduanya berjalan bersama menaiki anak tangga, menuju kamar saja harus melewati dua lantai terlebih dahulu.
'Ini bukan rumah, tapi istana. Mewah sekali, benar-benar indah.' batin Evi kagum.
Sesampainya di kamar, Meera masuk terlebih dahulu dan di susul oleh Evi.
"Ini kamarmu, jika butuh apa-apa jangan risau untuk memanggilku." ucap Meera menepuk pundak Evi sejenak.
__ADS_1
"Tentu, Nyonya."
Meera merasa jika panggilan Evi untuknya sangat formal, dia duduk di ranjang dan mengelus rambut Evi.
"Jangan memanggilku dengan sebutan Nyonya, Nak. Panggil saja aku Mama, sekarang aku akan menganggapmu sebagai anakku sebelum kamu bertemu keluarga aslimu. Kamu bersedia?"
Evi mengangguk, jujur dia beruntung di tolong oleh orang baik seperti Meera. Dan satu lagi, dia sangat berterima kasih serta berdoa agar rombongan yang menolongnya waktu itu selalu dalam lindungan Tuhan.
"Lalu, siapa namaku?"
"Aku akan memberimu nama, Ayesha Rahdian. Rahdian adalah nama belakang keturunan suamiku, kamu tidak keberatan bukan?"
Meera tersenyum sambil mengelus pucuk kepala Evi, dia berpamitan pergi dari kamar tersebut untuk menyiapkan makan malam. Hari ini anaknya pulang dari luar kota dan dia harus menyiapkan segalanya untuk menyambut ke datangan sang anak.
**
Malam pun tiba, Evi memakai piyama panjang yang entah sejak kapan berada di lemarinya. Dia merasa jika Meera mempersiapkan semuanya dengan cepat. Sungguh hati Evi tersentuh.
__ADS_1
Tepat pukul tujuh, Meera memanggil wanita itu untuk segera makan malam bersama. Dia juga berkata jika sebentar lagi anaknya akan segera tiba. Hal itu membuat Evi takut, dia memikirkan bagaimana jika anak Meera tidak menyukai kedatangannya di rumah ini?.
Suara Meera kembali terdengar dan membuat Evi terpaksa membuka pintu kamarnya.
"Ya, Ma?''
"Ayo, sudah pukul tujuh lewat. Kamu harus tetap menjaga kesehatan dan jangan terlambat makan. Kondisimu belum sangat fit,"
Evi mengangguk, dia berjalan beriringan dengan Meera menuju meja makan. Setelah itu, mereka mulai mengambil piring masing-masing. Tak lupa Meera menyiapkan makan untuk anaknya yang mungkin sekitar lima menit lagi akan sampai di rumah.
Benar saja, saat mereka sedang asyik mengobrol, suara seseorang mengalihkan pembicaraan kedua orang berbeda usia itu.
"Mom, i'm come back—" ucapannya terputus ketika dia melihat orang asing yang berada di dalam rumahnya.
Sementara Evi, wanita itu hanya melirik Meera dan seseorang yang baru datang tadi secara bergantian.
••••
__ADS_1
TBC