
Enam bulan kemudian, Lusi dan Ronald berkunjung ke rumah Zakia. Ya, keduanya telah menjalin hubungan asmara dan Lusi akan mencoba membuka hatinya untuk Ronald. Dia yakin jika pria itu bisa setia bersama dengannya. Mereka berdua ingin meminta restu pada Zakia karena Ronald berniat untuk menikahi Lusi dalam jangka waktu dekat ini.
Tak terasa keduanya sudah sampai di negara Swiss. Ronald menggandeng tangan Lusi dan keduanya jalan bersama masuk ke dalam rumah mewah nan megah bak istana itu. Jujur Lusi salut dengan Ronald, dia terlihat sangat sederhana dan tidak terlalu mewah.
"Ron, apa ini rumah kakakmu?"
"Iya, tentu saja. Jika bukan rumah kakakku, lalu kenapa aku mengajakmu kesini?"
Lusi tertawa pelan, benar juga yang di katakan Ronald barusan. Sesampainya di dalam rumah, wanita itu melihat ke sekeliling dan berdecak kagum ketika dia memandangi hiasan indah yang tergantung di dinding rumah.
"Wah, sepertinya ini bukan rumah."
"Maksudnya?" Ronald yang mendengar langsung bertanya.
"Ini seperti istana, Ronald. Mewah sekali,"
"Apa kamu mau memiliki rumah seperti ini jika kita nanti sudah menikah?" Ronald bertanya membuat Lusi hampir berteriak kegirangan.
"Tidak, apa pun yang kamu berikan untukku, aku akan menerimanya."
Ronald sudah tahu jika Lusi adalah mantan istri dari Aji, pria yang dulu menjadi kakak ipar Lusi itu. Wanita tersebut sering bercerita pada Ronald jika dirinya pernah mencintai seorang Aji Pranata. Tetapi itu dulu sebelum Evi kembali.
Ronald mengerti akan semuanya, yang terpenting baginya adalah hidup bersama Lusi dan membahagiakan wanitanya itu.
Tap
__ADS_1
Tap
Tap
Suara heels terdengar menuruni anak tangga, sontak kedua mata mereka menoleh ke asal suara.
"Apa dia kakakmu?"
"Ya, kamu jangan takut dengannya. Dia itu hanya berwajah cerewet tetapi sebenarnya dia itu baik."
Lusi mengangguk paham, dia tersenyum manis ketika Zakia sudah berada di dekatnya.
"Hai, kak." sapa Lusi memberikan senyum terbaiknya.
Zakia hanya diam saja tanpa berniat membalas ucapan Lusi, dia melirik Ronald sekilas lalu menaikkan sebelah alisnya. Setelah mendapatkan jawaban dari sang adik, perlahan senyumnya terbit dan dia langsung memeluk Lusi.
"Terima kasih, kak. Kakak juga cantik sekali,'
Zakia menyelipkan anak rambut dibelakang telinga, dia tersenyum manis dan mengajak Lusi ke sofa.
"Ayo duduk,"
"Kakak apa kabar?" Lusi berbasa-basi.
"Kabarku baik. Katakan padaku, bagaimana perjalanan kalian tadi saat menuju kesini?"
__ADS_1
"Cukup menyenangkan, iya 'kan, Sayang?" Ronald menggenggam jemari Lusi.
"Benar, kak. Dulu, aku juga melanjutkan pendidikan di luar negeri."
"Oh ya? Memang kamu ambil jurusan sampai kuliah ke luar negeri?"
"Aku bersekolah di penerbangan, kak. Sebagai pramugari,''
Zakia melotot, mulutnya terbuka lebar menandakan dia kaget dan bangga.
"Jadi kamu mantan pramugari?" tanyanya antusias, seperti inilah Zakia jika dia bersama dengan orang terdekatnya. Berbeda jika bersama orang lain.
"Bukan, kak. Dulu, aku tidak melanjutkan sekolah dan cita-citaku karena ada suatu problem."
Zakia tidak ingin penasaran panjang lebar, dia hanya mengangguk lalu memberikan pertanyaan lain pada Lusi.
Beberapa saat kemudian, mereka telah selesai berbincang. Ronald mulai mengatakan niat baiknya pada sang kakak.
"Kak, kami berdua datang kesini untuk meminta restu agar pernikahan kami lancar nantinya."
"Kakak sudah merestui dan kakak akan selalu mendoakan agar kalian berdua bahagia."
"Terima kasih, kak." sahut kedua orang itu secara bersamaan.
•
__ADS_1
•
Tbc