
Keesokan harinya, kebetulan malam ini Aji dan Evi akan makan bersama diluar. Ya, mereka pergi tanpa membawa Aris dan Evie menitipkan putranya pada sang Mama. Hal itu sama sekali tidak membuat Aris sedih, dia malah senang karena bisa bersama dengan neneknya.
Aji sengaja menyiapkan sesuatu yang istimewa untuk sang istri karena hari ini tepat tanggal jadi pernikahan mereka. Anniversary yang ke enam tahun. Evi juga mengingatkan hal itu, maka dari itu mereka pergi hanya berdua. Tetapi, wanita tersebut sama sekali tidak mengetahui jika Aji menyiapkan surprise untuknya.
"Mas, apa masih lama?" tanya Evi, entah kenapa hatinya merasa gelisah.
"Sebentar lagi, Sayang. Memangnya kenapa?" Aji melirik sang istri sejenak.
"Aku kepikiran dengan Aris, biasanya kita pergi selalu mengajak dia, tapi sekarang kita hanya pergi berdua. Aku merasa ada yang kurang di antara kita saat ini," Evi menunduk sedih.
Aji hanya tersenyum tipis, dia mengelus pucuk kepala sang istri lalu bergantian menggenggam jemari tangan Evi.
"Kenapa kamu berpikir seperti itu? Aku melihat reaksi Aris sangat bahagia jika di tinggal bersama dengan neneknya. Sayang, tidak perlu ada yang di khawatirkan karena —" ucapan Aji terputus, ketika tanpa sadar sebuah mobil truk besar sudah muncul di depannya.
__ADS_1
Pria itu langsung membanting stir ke kanan, dan berketepatan dengan itu mobil truk tersebut menghantam mobil mereka sangat kencang. Mobil Aji masuk ke dalam jurang karena jalanan yang mereka lewati seperti perbukitan dan berbelok-belok. Ya, pria itu sengaja mencari tempat yang indah, terbuka namun masih bisa romantis, dan itu ada di salah satu pedesaan yang tak jauh dari kota.
Naasnya, musibah tidak bisa mereka hindari. Keduanya berteriak secara bersamaan, sementara mobil truk itu tetap melaju sangat kencang. Mungkin, inilah jawaban dari kegelisahan yang Evi alami tadi.
****
Seluruh keluarga besar Pranata dan Anggara terkejut serta syok karena berita yang mereka dapat dari kantor polisi. Para orang tua segera pergi ke tempat kejadian untuk membuktikan benar atau tidaknya itu anak mereka.
Beberapa jam kemudian, sampailah Mama Evi dan Mama Aji di tempat itu. Mereka segera mendatangi polisi yang berjaga di tempat kejadian itu. Kedua wanita tersebut tidak sabar untuk melihat siapa korban kecelakaannya, benar atau tidak itu keluarga mereka.
"A—aji," gumam sang Mama memanggil.
Polisi datang menghampiri keduanya, mereka mengatakan jika Aji masih selamat dan hanya trauma saja hingga membuat pria itu pingsan. Ketika mobil terasa oleng ke samping, Aji langsung membuka pintu mobilnya. Dia berharap jika dirinya dan Evi bisa selamat dari kejadian itu, mereka akan melompat bersama-sama. Tidak masalah terluka yang penting nyawa mereka selamat.
__ADS_1
Tetapi, pikiran Aji salah. Evi keliatan sulit membuka pintu hingga wanita itu ikut terjun bersama sang mobil yang jatuh ke dalam jurang. Sementara Aji, pria itu bergelantungan di akar pohon yang cukup kuat, dia berteriak meminta bantuan hingga keselamatan masih berpihak padanya.
"Pak Aji di selamatkan oleh ojek online, sang ojek langsung menghubungi kami ketika dia berhasil menarik tangan Pak Aji agar beliau bisa naik ke atas. Setelah kami datang, kami sudah menemukan keadaan pak Aji yang pingsan."
Mama Evi berdiri, dia menatap polisi itu dengan tajam dan melotot. "Lalu dimana anak saya, Pak? Dimana Evi?" tanyanya memakai nada tinggi.
"Untuk saat ini kami belum bisa menemukannya, Nyonya. Mungkin yang karena hari sudah malam, Nyonya. Besok pagi-pagi sekali kami pasti langsung melanjutkan pencarian putri Anda."
"Pak, apa ada kemungkinan kalau putri saya akan selamat?" Mama Evi meneteskan air mata.
"Kita tunggu saja hasilnya besok, Nyonya. Kami semua berharap seperti itu, tetapi Nyonya juga harus mendoakan yang terbaik untuk putri Nyonya. Kami menemukan beberapa pecahan badan mobil, bisa di pastikan jika mobil itu meledak sebelum mendarat ke tanah."
Mama Evi syok, dirinya menangis sekuat mungkin sambil memanggil nama Evi. Berharap putrinya itu bisa mendengar dan selamat.
__ADS_1
••••
Tbc