Dilema Dalam Pernikahan

Dilema Dalam Pernikahan
Bab. 8 Taktik pertama Elena


__ADS_3

Dua Minggu kemudian, Aji seperti biasa pergi ke restauran. Kali ini dia sendiri karena sang istri tidak di perbolehkan untuk bekerja. Pria itu hanya menginginkan istrinya duduk diam di rumah, menunggu dia pulang, menyambutnya, dan menyiapkan segala kebutuhannya. Evi pun tidak mempermasalahkan hal itu karena dia ingin menjadi istri yang patuh terhadap suaminya. Membuat suami senang? Tentu saja adalah hak bagi seorang istri, dan Evi akan melakukan itu semua untuk Aji.


Aji sedang berada di ruangannya, dia masih sibuk melihat dokumen pemasukan dan pengeluaran di restauran itu. Ya, semenjak dia ingin melangsungkan resepsi dan berbulan madu, dirinya menyerahkan semua kewajiban pada Koki bernama Amira.


Saat pria itu membaca dokumen dengan serius, tiba-tiba pintu ruangan di ketuk dari luar.


"Masuk!" teriak Aji tanpa mengalihkan pandangan.


"Permisi, Pak. Ada yang ingin bertemu dengan Anda," ucap salah satu pegawai, sampai saat ini Aji belum mencari manager sebagai pengganti Evi.


"Siapa?" tanyanya penasaran dan melirik sang waiters.


"Saya tidak tahu, Pak. Baru kali ini saya melihat Nona itu.Beliau masih ada di luar, sepertinya benar-benar ingin bertemu dengan Anda."


Aji yang merasa sangat-sangat penasaran langsung keluar dari ruangannya untuk menemui wanita itu. Sesampainya di luar, dirinya terkejut ketika melihat Elena yang sudah duduk di kursi.


"El, kamu ada disini?" tanya Aji sopan dan ramah.


Elena sontak berdiri dari tempat duduknya, dia tersenyum manis dan menatap Aji dengan lembut.


"Bagaimana bisa kamu tahu jika ini adalah restauran milikku? Dan, apa ada sesuatu?"


"Aku tahu alamat ini dari google, ternyata kamu sekarang sudah menjadi seorang pengusaha kuliner yang terkenal ya, Mas?"


"Alhamdulillah." jawab Aji tersenyum tipis. "Kamu ingin makan apa? Katakan saja pada waiters dan mereka akan segera membuatkannya untukmu." pria itu berusaha sopan pada teman masa sekolahnya sekaligus tetangganya dulu.


"Terserah kamu saja,"


Aji meminta pada pelayan agar membawakan makanan yang paling best seller di restauran itu.


"Oh ya, ngomong-ngomong ada apa kamu datang kesini?"


"Aku hanya ingin berkunjung, aku sangat merindukanmu, Mas. Waktu di Bali, kita belum puas melepas kerinduan selama dua belas tahun belakangan ini."

__ADS_1


"Kamu ini bicara apa, Elena? Aku sudah memiliki istri, jangan seperti ini. Kita harus menjaga jarak, aku tidak ingin istriku menjadi curiga dan berpikiran buruk tentang kita berdua."


"Baiklah, maafkan aku.'' Elena pun memutuskan untuk mengalah, tapi untuk kali ini saja. Dirinya pasti akan merebut Aji dari Evi. Ya, wanita itu sudah merancang semuanya dan tinggal menunggu waktu saja.


Makanan pun datang.


"Kamu nikmati saja dulu makanan ini, aku masih banyak pekerjaan." Aji ingin beranjak dari kursi tetapi di cegah oleh suara Elena.


"Mas, kamu tidak ingin menemaniku makan? Kamu kok tega sih, Mas? Aku jauh-jauh dari luar kota ke tempat ini cuma ingin bertemu denganmu, dan seperti ini sikapmu ke aku?" keluh Elena bersedih.


"El, bukan begitu. Maksudku, kamu makan saja dulu, aku harus menuntaskan pekerjaanku."


"Begitu banyak pekerjaanmu, Mas? Bukankah kamu pemilik restauran ini?"


"Ya, disini tidak ada manager dan aku harus menghandle semuanya sendirian. Maaf, El. Aku kembali dulu ke ruanganku, semoga suka dengan makanannya." Aji bergegas pergi dari hadapan Elena.


Sementara wanita itu, dia terlihat geram dan berdecak kesal melihat sikap Aji padanya. Pria itu tetap saja seperti dulu, tidak ingin lama-lama berdekatan dengannya. Elena menjadi sangat tertantang untuk kembali meluluhkan hati Aji. Dia akan mencobanya sekali lagi.


"Kita lihat saja nanti, Mas." gumam Elena sambil menancapkan garpu di piring hingga berbunyi sebuah dentingan kecil.


Waiters tersebut memberitahu Elena, dia menunjukkan ruangan Aji sang bos. Setelah itu, El mengucapkan terima kasih dan dia pergi menuju ruangan Aji.


Tok tok tok!


"Masuk!" teriak Aji tanpa bertanya siapa terlebih dahulu.


Elena masuk ke dalam, dia berjalan ke arah Aji dengan sangat anggun.


"Maaf menganggumu, Mas."


Sontak Aji langsung mendongak dan terkejut karena Elena yang masuk ke dalam ruangannya.


"El, kamu—?"

__ADS_1


Elena mengangguk.


"Aku sudah selesai makan dan terima kasih sudah diberi gratisan." Elena terkekeh pelan, tetapi di dalam tawanya itu dia seperti menyembunyikan kesedihan. Begitulah yang Aji lihat.


"El, apa kamu ada masalah?" Aji menutup dokumen yang ada di depannya.


"Mas, aku sebenarnya butuh pekerjaan. Tetapi, aku malu ingin mengatakan padamu.'' Elena menunduk.


Aji terdiam, dia berpikir apakah harus menolong Elena atau tidak.


"Mas, apa aku boleh bekerja di restauran ini? Terserah menjadi apa, yang penting aku punya penghasilan." Elena mengiba.


Aji semakin merasa kasihan terhadap temannya itu, dia terdiam sejenak.


"Apa kamu mau jadi manager di tempat ini?"


"Benarkah?" Elena langsung berbinar, satu langkah sudah Aji berhasil masuk ke dalam rencananya.


Pria itu mengangguk, dia sama sekali tidak berpikir niat buruk Elena masuk ke dalam hidupnya.


"Aku, aku mau, Mas. Terima kasih banyak, tentu saja aku tidak akan menolak. Apalagi menjadi seorang manager, aku pasti tidak akan mengecewakanmu, Mas." Elena menggenggam tangan Aji yang terletak di atas meja, tetapi pria itu dengan cepat menarik tangannya.


"Mulai besok kamu sudah boleh masuk kerja."


Elena mengangguk patuh.


"El, masalah apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu sampai mencari pekerjaan disini?"


Elena menghela napas berat, dia mulai menceritakan pada Aji tentang masalah yang dialami. Tentu saja cerita itu hanyalah karangan dan kebohongan yang sudah di rancang rapi oleh Elena, agar Aji mengasihaninya.


*****


Tbc

__ADS_1



__ADS_2