
Setelah melewati semua tahap, akhirnya Ayesha dinyatakan jika dia benar seratus persen anak dari Halimah. Wanita itu benar-benar terkejut mendengar pernyataan ini. Dia meneteskan air mata, bingung harus berekspresi apa. Jujur di dalam lubuk hati yang terdalam, dirinya sangat bahagia. Tetapi, dia sedih karena sama sekali tidak mengingat apa pun tentang masa lalunya.
Halimah memeluk tubuh Ayesha alias Evi, dia juga memegangi dadanya yang terasa sesak. Kenyataan ini membuat dirinya sangat bersyukur tetapi dia juga merasakan sesuatu yang aneh di dalam dirinya.
"Evi, akhirnya kamu kembali, Nak. Mama bersyukur kamu dalam keadaan baik-baik saja, Mama mohon jangan pergi lagi, nak." Halimah terisak sambil memeluk tubuh Evi dengan erat.
Evi hanya mengangguk, dia ikut meneteskan air mata menahan Kesedihan yang mendera. Namun, saat pelukan hendak terurai, dirinya merasakan tubuh sang ibu yang lemas.
"Ma, Mama!" Evi menggoyangkan tubuh Halimah dengan perlahan. "Mama!" teriaknya ketika melihat wajah pucat Halimah.
Keluarga yang mendengar jerit Evi langsung berlari kecil.
"Sayang, ada apa?" Aji bertanya heran.
"Mas, Mama! Mama pingsan, wajahnya juga pucat." Evi menangis dengan posisi masih memeluk Halimah.
Aji mengambil alih atas mertuanya, dia membopong Halimah ke rumah rawat dan Lusi memanggil Dokter.
Halimah mendapat pemeriksaan, tetapi sayang sekali Dokter harus menyampaikan kabar buruk untuk keluarga itu.
"Dok, bagaimana keadaan Mama saya?" Lusi bertanya sambil menatap wajah sang Dokter.
"Huft, saya harus menyampaikan kabar buruk pada kalian semua."
__ADS_1
"Ayo cepat katakan, Dok!" pinta Evi tidak sabaran.
"Mohon maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi sayangnya nyawa Ibu Anda tidak bisa di tolong."
Deg!
Kedua wanita muda beda usia itu lunglai, mereka mendadak menjadi lemas ketika mendengar pernyataan dari Dokter. Lusi berpegangan pada dinding, sementara Evi di peluk oleh Aji.
"Mama, tidak mungkin Mama pergi secepat ini." Lusi menatap Dokter dengan kecewa. "Apa yang terjadi dengan Mama saya, Dok? Setahu saya, Mama itu baik-baik saja selama ini. Dia tidak pernah mengeluh sakit atau apa pun itu."
"Dari hasil pemeriksaan, pasien mengalami stroke. Saya yakin jika beliau selama ini sangat banyak memikirkan tentang sesuatu hingga batinnya tertekan, tetapi orang tua Anda tidak mengungkapkannya pada siapapun. Dia lebih memilih menyembunyikan semuanya sendiri."
"Apa yang Mama pikiran? Kenapa Mama tidak mau bercerita," Lusi terduduk di bangku tunggu.
Evi segera masuk ke dalam ruangan itu bersama dengan Aji.
'Ma, kenapa Mama pergi ninggalin Lusi? Lusi gak bisa hidup tanpa Mama, bagaimana Lusi ingin curhat tentang masalah masa depan Lusi nantinya? Semangat dari Mama adalah mood tersendiri bagi Lusi. Kembalilah, Ma.' batin Lusi menangis terisak, dia tertunduk hingga bahunya naik turun.
****
Sore harinya, pemakaman pun di langsungkan. Terlihat Aji, Evi, dan Lusi masih berada di sana. Sementara Mama Aji, beliau sudah pulang terlebih dahulu bersama dengan Aris.
Lusi berjongkok di samping makam Halimah, sedangkan Evi masih betah berada di dalam dekapan Aji. Kedua wanita itu sama-sama menangis, jujur Aji ingin menenangkan Lusi tetapi dirinya ingat jika Evi saat ini sudah kembali.
__ADS_1
"Ma, apa Mama tidak ingin melihat aku menikah dan bahagia? Bahkan, aku belum memberikan cucu untuk Mama. Apa Mama tidak ingin menimang anakku nanti? Hidup seorang anak akan hancur ketika dia kehilangan orang tuanya, sudah banyak Kesedihan yang aku dapat dan sekarang aku lebih sedih karena Mama meninggalkan aku." gumam Lusi sambil mengelus batu nisan Halimah.
Evi tidak tega melihat sang adik, dia yang sudah tahu jika dirinya adalah kakak kandung dari Lusi, dia langsung berjongkok di sebelah wanita itu.
"Lusi, sekarang sudah ada aku. Bukankah kamu tahu jika aku adalah kakak kandungmu?"
Lusi melirik Evi sejenak, dia lalu kembali menatap batu nisan milik Halimah.
"Kamu marah denganku? Maafkan aku jika aku memiliki salah padamu." ucap Evi merendahkan diri.
Lusi tidak tahan dengan cobaan ini, jujur dia sangat merindukan Evi. Mulai sekarang dirinya harus membelakangi gengsi dan memulai semuanya dari awal seperti dulu. Tanpa berkata apa pun lagi, Lusi langsung memeluk tubuh Evi hingga membuat wanita itu hampir terjatuh kebelakang.
"Kakak," isaknya di dalam pelukan Evi.
"Kamu harus sabar, dek. Mama tidak akan tenang jika melihat kita terus-menerus bersedih seperti ini. Tabahkan hati kamu, dek. Kakak sudah ada disini untuk menemani kamu, jujur kakak sangat terpukul karena disaat kakak kembali, Mama malah yang bergantian pergi meninggalkan kita." Evi berkata panjang lebar, dia memeluk tubuh Lusi seraya mengelus rambutnya.
"Aku mohon jangan tinggalkan aku lagi, kak. Aku sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi selain kakak."
Evi mengangguk cepat, dia terisak tetapi tidak bersuara. Mereka semua larut dalam Kesedihan masing-masing.
•
•
__ADS_1
Tbc