Dilema Dalam Pernikahan

Dilema Dalam Pernikahan
Bab. 12 Kelicikan harus dibayar dengan kelicikan


__ADS_3

Di restauran Jamis cabang, terlihat Lusi sedang bersantai duduk di kursi ruangan pemilik restauran yaitu Aji. Dia bahkan tidak memperdulikan Elena yang sibuk melakukan pekerjaan disana. Membantu? Tentu saja Lusi tidak sudi, dia sengaja mengerjai wanita itu.


"Rasain, emang enak?" ejek Lusi melihat Elena mondar-mandir di dalam restauran sambil membawa dokumen.


Setelah beberapa jam kemudian, Elena masuk ke dalam ruangan Aji. Dia menatap Lusi dengan tidak suka, apalagi ketika mendapati gadis itu sedang merapikan kukunya menggunakan gunting kuku. Emosi Elena sudah mencapai di ubun-ubun, dia benar-benar merasa di bohongi oleh Lusi. Dirinya menghampiri gadis itu, dia menggebrak meja hingga membuat Lusi terkejut.


"Hei, apa kamu tidak punya sopan santun?" bentak Lusi marah.


Bukannya meminta maaf, Elena malah mencengkeram lengan Lusi dengan kencang hingga gadis itu menatapnya tajam.


"Lepaskan tanganku! Kamu sudah gila, ya?" Lusi mencoba melepaskan tangan Elena.


"Aku tau jika kamu sengaja mengerjai aku 'kan, gadis ingusan?"


Lusi tidak terima di panggil dengan sebutan gadis ingusan, dia menghempaskan tangan Elena dengan kasar. Lalu, dirinya bergantian memelintir tangan wanita itu.


"Kamu belum tahu siapa aku, jadi jangan gegabah dalam melakukan apa pun!" ucap Lusi dengan penuh penekanan.


"Lepaskan!" Elena mendorong tubuh Lusi hingga gadis itu terhuyung ke samping.


Mereka saling menatap tajam satu sama lain, bahkan saat ini ingin sekali rasanya Lusi menjambak rambut wanita itu. Menurutnya, wajah Elena pas-pasan dan lugu. Tetapi, itu semua hanyalah topeng belaka. Nyatanya wanita itu berusaha merebut hati Aji dari istrinya.


"Nona Elena yang terhormat, aku tahu rencanamu! Kamu terlihat lugu dan baik, tapi nyatanya kamu adalah wanita yang sangat licik."


Elena paham dengan apa yang Lusi katakan, dia tersenyum tipis dan mengibaskan rambutnya ke belakang.

__ADS_1


"Memangnya kenapa? Kamu itu tidak lebih pintar dari aku, jadi diem saja dan jangan ikut campur." Elena mengacungkan jari telunjuk tepat di depan wajah Lusi.


"Turunkan jari kotormu itu! Baiklah, kita akan lihat sampai mana kamu berusaha keras menggoda kakak iparku, aku tidak akan tinggal diam karena ini menyangkut kehidupan kakakku." Lusi pergi berlalu dari hadapan Elena setelah selesai mengatakan hal itu.


Elena hanya menatap kepergian Lusi dengan perasaan benci yang mendalam, dia mengepalkan kedua tangannya dengan erat dan ingin menghabisi gadis cantik itu.


***


Mereka telah kembali ke restauran utama, disana Elena langsung mencari Aji. Sementara Lusi, dia tahu jika wanita itu pasti ini mengadu. Namun, bukannya takut. Gadis itu malah terlihat santai karena dia sudah memikirkan jawaban untuk fitnah yang akan El layangkan.


"Pak," Elena berada di hadapan Aji yang kala itu masih mengontrol dapur.


Aji menoleh, dia tersenyum tipis karena melihat Elena yang sudah pulang dari restauran cabang.


"Bagaimana, El? Restauran cabang baik-baik saja bukan?" Aji berkata sambil berjalan ke ruangannya, tentu saja diikuti oleh Elena yang berjalan di belakangnya.


"Ada apa, El?" Aji duduk di kursi.


"Aku sangat lelah, adik iparmu itu benar-benar kurang ajar. Dia mengerjai aku dan sengaja membebankan semua pekerjaan disana padaku. Dia sama sekali tidak mau membantuku. Lebih parahnya lagi, saat aku mengajaknya agar membantuku mengecek pemasukan disana, dia malah mencakar tanganku. Lihat ini," Elena menunjukkan bekas cakaran di tangannya, itu semua adalah akal-akalannya. Dialah yang melukai dirinya sendiri.


Aji terkejut, dia tidak menyangka jika Lusi akan bertindak seperti ini


"Panggil Lusi sekarang juga! Dia harus bertanggungjawab dan aku akan memberikan peringatan padanya." pintanya pada salah satu pegawai yang dia panggil untuk masuk ke dalam ruangannya tadi.


Tak selang berapa lama, Lusiana datang. Tanpa rasa takut, dia berjalan mendekati meja Aji. Disana juga ada Evi yang ingin mengetahui kejadian sebenarnya.

__ADS_1


Aji kaget melihat wajah Lusi yang memiliki lebam dan ada juga beberapa bekas cakaran. Bukan hanya Aji, Evi dan Elena juga heran karena bekas cakaran itu.


'Apa yang gadis itu rencanakan? Ternyata dia benar-benar pintar,' batin Elena kesal.


"Mas, kamu memanggilku?" tanya Lusi dengan suara serak.


"Dek, apa yang terjadi? Kenapa, kenapa wajahmu seperti ini?" Evi terlihat sangat khawatir, dia mendekati Lusi dan memegang wajah lebam adiknya itu secara perlahan.


"Aw,"


"Maaf, apa sangat sakit? Siapa yang berani melakukan ini padamu?" Evi menatap manik mata adiknya, sementara Lusi, dia melirik Elena yang kala itu susah payah menelan ludahnya.


"Apa ini? Lusi, ada apa denganmu? Kenapa wajahmu seperti itu?"


"Kenapa kamu menanyakan hal itu padaku, Mas? Kamu tanyakan saja semuanya pada managermu itu." Lusi melayangkan segala tuduhan pada Elena.


"A—aku, tapi aku mengetahui apa pun." jawab Elena kebingungan.


"Bohong! Kamu yang sudah melakukan ini padaku, Nona Elena." Lusi meneteskan air matanya.


Semua bingung dengan kejadian ini, mereka tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Tetapi, Evi lebih percaya dengan perkataan sang adik di bandingkan Elena.


'Kamu pikir aku itu bodoh, Nona Elena? Jika kamu licik, maka aku akan membalasnya dengan hal yang sama pula.' batin Lusi tertawa puas


••••

__ADS_1


Tbc



__ADS_2