Dilema Dalam Pernikahan

Dilema Dalam Pernikahan
Bab. 22 Waktu yang berjalan cepat


__ADS_3

Tak terasa waktu berjalan dengan cepat, saat ini usai Aris sudah menginjak lima tahun dan dia telah masuk ke taman kanak-kanak. Tentu saja itu membuat pasangan suami-istri yakni Aji dan Evi sangat bahagia melihat putra mereka tumbuh dengan cepat dan pintar.


Pagi hari ini, Evi akan mengantar Aris ke sekolahnya karena ini hari pertamanya masuk sekolah. Dia akan menunggu sang putra terlebih dahulu, kemungkinan selama tiga hari setelah itu dirinya akan meninggalkan Aris agar bersekolah sendirian.


Beruntung letak sekolah itu hanya berjarak kurang lebih satu kilo dari rumah Evi, hingga dia tidak terlalu jauh untuk mengantar-jemput anaknya itu.


"Aris, sekolah yang pintar, ya? Mama udah mencarikan tempat duduk untuk kamu, patuhi ucapan guru dan jangan nakal." peringatan yang Evi berikan pada Aris, bocah berusia lima tahun itu tersenyum manis.


Cup!


Evi mengecup kedua pipi putranya. Mereka saling melambaikan tangan dan Evi bergegas duduk di bangku panjang bawah pohon. Tempatnya cukup sejuk, sambil menunggu Aris, dia pun membuka media sosial.


Wanita itu tersenyum kala mendapatkan apa yang dia inginkan, setelah ini dirinya akan pergi ke tempat itu.


"Aku yakin kalau usaha ini pasti lancar." Evi tersenyum manis lalu dia kembali melihat-lihat bangunan nan mewah tersebut.


Beberapa jam kemudian, Aris sudah keluar dari sekolahnya. Dia berlari kecil dan menghampiri sang Mama.

__ADS_1


"Mama," panggil Aris masuk ke dalam pelukan Evi.


"Anak Mama sudah pulang. Bagaimana belajarnya, nak? Apa yang guru Aris ajarkan tadi?" Evi bertanya seraya berjalan ke dalam mobil.


"Ibu belum mengajarkan apa pun, tadi hanya memperkenalkan diri dan juga tempat tinggal. Lalu pekerjaan orang tua, dan cita-cita kami.''


"Nah, Aris kalau udah besar cita-citanya mau jadi apa?" tanya Evi sambil masuk ke dalam mobil.


"Aris mau jadi pengusaha! Seperti Uncle Jerry."


Jerry Alberto, dia sepupu dari Aji. Lebih tepatnya, adik ipar dari Papa Aji. Dia adalah seorang pengusaha terkenal, bisnisnya ada dimana-mana hingga membuat pria itu memiliki istri dua. Tetapi yang di heran 'kan, kedua istrinya itu sangat akur dan tidak pernah terdengar isu miring dari keluarga kecil mereka. Mungkin harta yang membuat semuanya menjadi aman.


Tak berselang lama, sampailah mereka di sebuah gedung mewah nan elegan itu. Aris heran kenapa Mamanya membawa dia ketempat itu.


"Ma, kenapa kita ke tempat ini? Aris pikir kita akan pulang." Aris mendongak, mencoba menatap wajah cantik Mamanya.


"Setelah ini kita pulang ya, Sayang? Mama ada urusan sebentar, ayo masuk!'' Evi menggandeng jemari mungil milik Aris.

__ADS_1


Mereka berjalan ke dalam gedung itu, disana ternyata Evi sudah ditunggu oleh pemilik gedung itu, lebih tepatnya toko.


"Selamat siang, Nyonya Evi. Silakan dilihat-lihat dulu keadaan tempat ini. Saya rasa, disini sangat cocok jika Nyonya ingin membuka usaha butik."


Evi mengangguk sambil berjalan mengelilingi tempat itu, tak lupa dia terus menggenggam jemari putranya.


"Cukup bagus, sepertinya saya jadi membeli bangunan ini. Em, transaksi akan saya lakukan melalui transfer. Atau, kita bisa bertemu di lain hari?"


"Maaf, Nyonya. Saya sangat sibuk, besok saja saya akan terbang ke Paris. Entah kapan saya pulang." ucap pemilik bangunan itu yang memang bertekad untuk pindah keluar negeri bersama keluarganya.


"Ya sudah, Nyonya Rose bisa kirimkan nomor rekening ke WhatsApp saya. Nanti saya akan segera mentransfernya. Kalau begitu, saya permisi dulu," Evi tersenyum dan berlalu setelah mendapatkan jawaban dari Rose.


••••


Tbc


__ADS_1


__ADS_2