Dilema Dalam Pernikahan

Dilema Dalam Pernikahan
Bab. 21 Ronald Reagan


__ADS_3

"Ron!" teriak wanita cantik itu sambil tersenyum ke arah sang pria.


Pria itu bernama Ronald Reagan, dia anak bungsu dari pasangan konglomerat di negara Jerman. Tampangnya yang sangat manis dan bentuk tubuh yang atletis membuat para kaum wanita tergila-gila padanya. Hal itu membuat Ronald menjadi sombong dan seakan-akan dia merasa di atas awan. Pujian demi pujian yang para wanita lontarkan untuknya menjadikan pria itu memiliki kepercayaan diri yang tinggi.


"Kak, kamu sudah pulang? Tumben? Tidak biasanya cepet seperti ini." tanya Ronald, setelah wanita cantik yang tak lain adalah Kakak kandungnya sendiri sudah berada di dekatnya.


"Memangnya kenapa? Kamu keberatan aku pulang cepat? Dasar! Aku yakin kamu pasti ingin berlama-lama dengan putriku. Benar 'kan?" wanita itu memicing lucu.


Ronald tertawa lebar. ''Tentu saja, aku sudah menganggapnya seperti anakku sendiri. Ya 'kan, Sayang?"


Bocah kecil berusia tiga tahun itu mengangguk. Keceriaan keduanya membuat wanita tersebut merasa terharu. Adiknya itu tidak pernah menolak jika dia meminta tolong tentang apa pun, pekerjaan, berbelanja, dan bahkan tak keberatan menjaga putrinya.

__ADS_1


'Ronald, Kakak beruntung memiliki adik sepertimu. Kakak harap, kamu segera mendapatkan wanita yang menjadi sosok istri idamanmu. Kakak ingin yang terbaik untukmu,' batin wanita itu — Zakia Reagan.


Kebetulan saat ini Zakia ada tugas di Indonesia, dia tidak bisa meninggalkan putrinya meskipun itu bersama dengan sang Mama. Za hanya ingin sang Putri selalu berada di dekatnya. Hal itu bisa membuat hatinya tenang dan lelahnya juga hilang. Zakia mengutuk mantan suaminya yang pergi meninggalkan dia begitu saja tanpa pesan apa pun.


"Baik, berhubung Mami sudah pulang. Kalau begitu saatnya kita mandi," Zakia menggendong sang putri dan pergi meninggalkan Ronald yang hanya melambaikan tangan sambil tersenyum. Pria tampan itu juga pergi dari apartemen milik kakaknya.


Jika dia memiliki waktu luang, pasti dirinya wajib menjaga sang ponakan. Namun, itu tidak menjadi masalah besar baginya. Dia berpikir jika dirinya bisa sambil belajar merawat anak. Usia Ronald sudah menginjak tiga puluh satu tahun, tetapi dia sama sekali belum memiliki pendamping.


Ronald merebahkan diri di atas sofa, dia memejamkan mata sesaat dan seketika bayangan gadis yang pernah dia tabrak sewaktu di bandara muncul dalam benaknya. Pria itu membuka kelopak mata, dia mengucek dan menghela napas.


"Kenapa tiba-tiba aku memikirkan gadis itu? Tidak berguna, buang waktu saja! Sebaiknya aku mandi, mungkin aku terlalu lelah karena sehabis pulang dari kantor langsung menjaga Emily." ucapnya lalu bangkit dari sofa dengan rasa berat hati dan berjalan menuju kamarnya.

__ADS_1


Selesai membersihkan diri, pria itu berdiri di depan cermin dengan bertelanjang dada. Perutnya yang rata dan sixpack bisa membuat semua mata wanita terhipnotis. Tubuhnya di penuhi dengan otot, bukan lemak. Siapa saja pasti akan mengagumi Ronald Reagan.


Tetapi, pria itu belum menemukan gadis yang cocok untuk di jadikan istri. Entahlah, usianya padahal sudah matang namun dia masih bingung memilih istri yang sesuai dengan kriterianya.


"Ternyata aku memang tampan, pantas saja banyak wanita yang tergila-gila padaku. Tapi sayang, aku sama sekali tidak tertarik dengan salah satu di antara mereka.


•••


Tbc


__ADS_1


__ADS_2