Dilema Dalam Pernikahan

Dilema Dalam Pernikahan
Bab. 58 Ancaman untuk Aris


__ADS_3

Pagi harinya, Aris terbangun dari tidur. Dia memegangi kepalanya yang masih terasa berat, dia melihat ke sekeliling setelah nyawanya sudah terkumpul sempurna. Dia kaget bukan kepalang karena ternyata dirinya masih berada di klub. Aris bergegas mengambil jaket dan berniat untuk pergi. Namun, langkahnya di hentikan oleh suara seseorang.


"Tunggu!" teriak pria berbadan tegap itu, dia berjalan menghampiri Aris yang terdiam di tempatnya.


Pria tersebut menengadahkan tangannya, dia menatap pemuda itu tanpa berkedip sedikitpun.


"Apa?" tanya Aris heran


"Kau ingin pergi tanpa membayar?"


"Maksudnya?" Aris pun menjadi bingung.


"Teman-temanmu sudah pergi dan uang yang mereka berikan kurang banyak. Bahkan, pelanggan di klub ini yang datang tadi malam juga tidak ada membayar, mereka mengatakan jika kaulah yang akan membayar semuanya." jelas sang pemilik klub.


"Gila saja! Aku tidak mau." bantah Aris menolak.


"Tidak bisa begitu! Jika kau tidak mau, maka bersiaplah untuk pergi ke kantor polisi."


"Kenapa harus bawa-bawa polisi?"


"Kau harus bertanggungjawab karena dirimulah yang pulang belakangan."


Aris berdecak, dia memberikan nomor ponsel asisten pribadi sang Papa. Sudahlah, pasti setelah ini dia akan mendapatkan hukuman dari papanya itu.


"Kau hubungi saja nomor itu dan katakan jika kau mendapatkannya dari Aris. Aku harus segera pergi,"

__ADS_1


Pria tersebut mengangguk, dia menandai wajah Aris sebagai cadangan jika nanti nomor itu tidak bisa dihubungi.


Beberapa saat kemudian.


Aris sudah sampai di rumah, terlihat sangat sepi dan pemuda itu bersyukur karena tidak ada orang disana. Tanpa berpikir panjang, Aris berjalan perlahan menaiki anak tangga. Namun, baru juga sampai di pertengahan, dia di kagetkan oleh suara Aji.


"Aris!" teriak Aji penuh kemarahan.


Aris menghentikan langkahnya, dia memejamkan mata dan menggigit bibir bawahnya. Perlahan, pemuda tampan itu menghela napas pelan, dia membalikkan badan dan mencoba untuk tersenyum manis.


"Papa, ada apa?" tanyanya berpura-pura lugu.


"Kemari kamu! Jangan berpura-pura bodoh dan polos, Aris."


Aris melangkah berjalan menuruni anak tangga, setelah itu dirinya berdiri tepat di hadapan Aji.


"Apa ini? Begitu banyak kenakalan yang kamu lakukan! Berapa kali harus papa katakan jika kamu perlu berubah menjadi anak yang mandiri. Tapi sekarang, kamu malah membuang-buang uang. Lihat berapa jumlah yang kamu habiskan." Aji menunjuk kertas yang ada di bawah kaki Aris.


Aris mengambil kertas itu, dia melihat kata-kata yang tertulis di dalam sana. Dirinya membaca di dalam hati, ternyata isinya adalah nominal pembayaran saat di klub tadi malam, sementara kertas lain isinya adalah surat peringatan dari kampus karena Aris jarang masuk kuliah. Ya, memang sudah hampir dua minggu Aris bolos kuliah. Dia hanya bersenang-senang dengan temannya dan juga para kekasihnya, bahkan mereka sampai berlibur ke luar kota.


Aji sangat murka, dia emosi berat karena dalam waktu satu malam Aris bisa menghabiskan uang sebanyak 20 juta. Itu hanya tadi malam saja, sementara malam yang lalu mungkin saja dalam satu bulan ini Aris sudah menghabiskan uang sebanyak kurang lebih 100 juta. Sebagai orang tua, Aji sangat keberatan dengan tingkah dan pola pikiran putranya yang tidak pernah menghargai uang ataupun jerih payah orang tuanya mencari nafkah.


"Jika kau masih seperti ini terus, maka papa akan mengantarkan dirimu ke desa yaitu ke rumah bibimu!" tegas Aji penuh keseriusan.


Tentu saja Aris bingung, dia mengatakan pada papanya jika dia tidak akan pergi ke klub malam lagi. Namun, jika dia diminta untuk tidak keluar malam, maka dirinya menolak. Dia tidak ingin dikatakan anak rumahan dan seperti perempuan. Aji pun mengizinkan putranya keluar malam, tapi dengan satu syarat yaitu Aji hanya bisa membawa uang sebanyak lima ratus ribu dan dia tidak boleh meminta uang lagi setelah itu. Jika saja sampai ada yang minta bayaran seperti ini lagi, maka Aji benar-benar akan mengirim Aris ke desa.

__ADS_1


Pemuda tampan itu sepertinya takut dengan ancaman Aji.


"Baiklah, kalau begitu kamu bisa istirahat." Aji pergi meninggalkan Aris yang akhirnya bisa bernapas lega.


****


Di sudut lain, gadis cantik berusia dua puluh tahun tengah duduk di belakang rumah. Dia seperti tengah memikirkan sesuatu, yang pasti gadis itu melamun hingga tidak sadar akan kehadiran seseorang. Perlahan dia mendongak ketika ada yang menepuk pundaknya.


"Ibu, kenapa keluar dari rumah? Bukankah Dokter sudah menyarankan jika Ibu harus beristirahat total agar cepat sembuh?" gadis itu mengelus pundak Ibunya.


"Ibu hanya bosan di dalam, Nak." jawab wanita yang berwajah pucat itu, dia terbatuk membuat sang gadis khawatir.


"Maafkan aku, Bu. Aku belum bisa mendapatkan uang untuk operasi Ibu."


"Tidak masalah, Nak. Ibu sudah pasrah dengan semuanya, intinya Ibu hanya berdoa untuk kesehatan Ibu saja. Jika suatu saat nanti Ibu meninggal, mungkin itulah yang terbaik untuk Ibu."


Gadis itu menggelengkan kepalanya, sungguh dia tidak akan sanggup kehilangan orang tua yang sangat dia sayangi.


"Sst, ibu tidak boleh bicara seperti itu. Ayana yakin jika Ibu pasti bisa sembuh. Percayalah, Bu. Yana akan mencari dana untuk pengobatan Ibu, tapi jika nanti Yana bekerja, Ibu tidak boleh memikirkan apa pun atau merasa kasihan dengan Yana."


Wanita paruh baya itu mengangguk yakin. "Ibu tidak akan pernah melanggar ucapanmu, Nak. Karena Ibu tau apa yang kamu katakan itu juga untuk kebaikan Ibu."


Ayana tersenyum lalu dia memeluk tubuh wanita yang sudah melahirkan dan merawatnya hingga sebesar ini. Yana belum bisa membahagiakan sang Ibu karena dia saja masih berkuliah. Dan untuk membayar kuliah, dia harus bekerja serabutan. Dirinya tidak meminta orang tua karena dia tahu kondisi keuangan keluarganya.


Saat ini, Ibu Yana sedang di landa penyakit kanker. Beliau membutuhkan dana untuk pengobatan berjalan, Dokter menyarankan agar sang Ibu di operasi tetapi Yana tidak mempunyai uang. Gadis itu lebih memilih sang Ibu berobat jalan, yang terpenting Ibunya masih bisa bertahan dan tetap bersamanya.

__ADS_1


••••


Tbc


__ADS_2