
Para orang tua sudah mengetahui kedatangan Ayesha dan Aji bahkan menceritakan semuanya tentang wanita itu. Kedua orang tua mereka bukannya marah tetapi semakin sayang pada Ayesha dan meminta agar Lusi bisa ikhlas di madu. Hati siapa yang tidak sakit mendengar perkataan itu? Bagaimana mungkin Mamanya bisa mengatakan hal menyakitkan itu? Apa dia lupa siapa wanita tersebut dan juga Lusi?
Entah apa yang terjadi pada kedua orang tua itu hingga mereka merestui hubungan Ayesha dan Aji. Apalagi di tambah wajah Ayesha dan sifatnya yang sangat mirip dengan Evi, bahkan Aris juga sangat menyayangi Ayesha.
Lusi merasa di buang, dia benar-benar sakit hati dengan Aji dan keluarganya. Saat ini wanita itu sedang ada di salah satu cafe dengan satu cup coffee di hadapannya. Dia memangku sebelah tangan di dagu, matanya menatap ke bawah dan dia sedang memikirkan sesuatu.
Tiba-tiba seorang pria menghampiri Lusi, siapa lagi kalau bukan Ronald. Pria itu selalu ada dimana-mana seperti hantu.
"Hai," sapa pria tersebut membuat Lusi mendongak.
"A—anda?" Lusi menunjuk Ronald.
"Apa aku boleh duduk disini?"
Lusi terdiam, dia melihat ke sekeliling dan kemudian mengangguk. Sementara Ronald, dia duduk disana dan meletakkan coffee nya di atas meja.
"Kenapa kita selalu bertemu, ya? Jangan-jangan kita jodoh," ujar Ronald tanpa malu, jujur saja dia memang tertarik dengan Lusi sewaktu mereka bertemu di jembatan tempo lalu. Dari sanalah pria itu terus memikirkan Lusiana.
"Jangan bicara asal, Pak."
Ronald tersenyum sambil memicing. "Pak? Kamu melupakan aku?"
Seketika Lusi pun menjadi salah tingkah, sementara Ronald memang sudah menyadari jika Lusi adalah teman dekatnya di aplikasi jodoh. Bahkan, mereka sempat berhubungan yaitu pacaran.
"Em, sepertinya aku harus pergi." Lusi ingin beranjak dari kursi tetapi di tahan oleh Ronald.
"Mau kemana? Duduklah dulu, banyak yang harus kita bicarakan."
"Aku tidak punya urusan lagi denganmu." sentak Lusi membantah.
"Tapi hubungan kita berakhir dengan ketidakjelasan, apa itu yang di namakan tidak memiliki urusan lagi?"
Lusi berubah pikiran, dia kembali duduk dan menumpu tangannya di dagu.
"Aku tidak punya banyak waktu, katakan ada hal penting apa yang ingin kamu bicarakan." ujarnya bersikap berbeda dengan tidak memakai panggilan saya Anda.
"Bagaimana hubungan kita, Lusi?"
Lusi mengernyitkan dahinya. "Hubungan apa? Bukannya kita berdua sudah tidak punya hubungan lagi? Jangan mengada-ada, Ronald."
"Tapi di antara kita belum ada kata perpisahan, kamu tidak memberikan kejelasan apa pun padaku."
"Lalu sekarang apa maumu? Aku kembali padamu?" Lusi menggeleng. "Itu tidak akan pernah terjadi karena aku sudah menikah." tekannya menyadarkan Ronald.
__ADS_1
Pria itu tersenyum hambar, baru sekali ini dia mencintai seorang wanita setulus hati tetapi ujung-ujungnya di tinggalkan. Maka dari itu, Ronald paling malas dengan percintaan. Di usianya yang sudah lumayan matang, dia belum memiliki kekasih karena takut menyakiti atau pun disakiti.
"Selamat," Ronald berkata sambil tersenyum.
"Sudah selesai bukan? Baiklah, aku pergi." Lusi langsung berdiri dari tempat duduk dan meninggalkan Ronald yang menatapnya penuh kekecewaan.
"Semudah itu seseorang berpaling? Awalnya aku memang hanya iseng mencari kekasih di jodoh online, tetapi entah mengapa seiring berjalannya waktu aku merasa nyaman dengan Lusi. Namun, ini balasan yang ku dapatkan. Padahal sejujurnya aku ingin melamar dia dan menjadikannya istriku." Ronald menyadarkan tubuhnya. "Sudahlah, semua wanita memang sama saja." gumamnya menyeruput coffee.
****
Lusi telah sampai di rumah, dia merebahkan diri di atas ranjang dan memejamkan matanya sesaat. Tak lama kemudian, bunyi ketukan pintu terdengar hingga membuat wanita itu beranjak dari tempat tidurnya.
"Astaga, siapa sih?" kesal Lusi berjalan malas ke arah pintu.
Pintu itu terbuka dan ternyata Ayesha sudah berdiri di depan sana. Tentu saja Lusi merasa kesal, dia menatap wanita di depannya itu dengan tajam.
"Mau apa Anda datang ke kamar saya? Anda ingin menertawakan saya? Anda puas dengan semua penderitaan yang saya alami bukan? Dasar pelakor!"
"Lusi, aku tidak seperti itu. Aku datang kesini hanya untuk—" Ayesha menyodorkan satu mangkuk kolak.
Lusi sangat muak melihat wajah sok baik nan lemah lembut yang Ayesha perlihatkan.
"Tidak perlu sok baik, Ayesha! Disini tidak ada orang selain aku, jadi Anda bersikaplah biasa saja. Saya benar-benar tidak mengerti, kenapa Anda tega memanfaatkan wajah Anda hanya untuk memikat suami saya dan akhirnya hubungan kami menjadi sangat berjarak seperti ini." Lusi menatap Ayesha.
"Lalu, kenapa Anda mau menikah dengan Mas Aji secara siri jika Anda tidak mengetahui kalau Mas Aji sudah memiliki istri?"
Ayesha membuka cerita, dia mengatakan jika dirinya mengalami Amnesia dan membuat sang Mama angkat tidak boleh Aji menikahinya secara sah karena takut dia sudah memiliki pasangan. Hal tersebut membuat Lusi tertawa, dia merasa jika Ayesha adalah wanita murahan.
"Ternyata Anda memang wanita murahan, ya? Dari cerita Anda saja saya sudah tahu bagaimana diri Anda yang sebenarnya. Kalau Anda wanita baik-baik, mana mungkin Anda mau menikah dengan pria lain di saat keadaan Anda tidak baik-baik saja yaitu mengalami Amnesia."
Ayesha terdiam, dia benar-benar seperti sedang di hakimi saat ini. Dirinya mengaku bersalah dan bodoh, tetapi itu semua juga bukan normal kesalahannya. Dia dan Aji sama-sama mencintai, lalu mereka memutuskan untuk menikah tanpa memikirkan akibatnya jika ingatan Ayesha pulih kembali.
Lusi sangat benci melihat wajah Ayesha yang sangat mirip dengan kakaknya, bukan karena membenci Almarhumah Evi tetapi dia benci karena Ayesha sudah menghancurkan dirinya dengan wajah yang mirip dengan Evi.
Lusi menumpahkan kolak yang ada di tangan Ayesha hingga kuah kolak tersebut tumpah di tangan wanita itu. Ayesha meringis, dia meniup-niup tangannya yang terasa panas.
"Rasakan, itulah akibatnya karena Anda—"
"Lusi!" teriak seseorang dari arah samping membuat kedua wanita itu menoleh.
"Mas Aji," panggil kedua wanita itu secara bersamaan.
Aji yang baru saja kembali dari restauran langsung panas ketika melihat perbuatan Lusi ke Ayesha, dia juga mendengar apa yang Lusi katakan. Pria itu sudah sampai di dekat kedua wanitanya, dia melirik tangan Ayesha yang sedikit melepuh.
__ADS_1
"Apa ini?" tanya Aji pada Lusi, dia menunjuk tangan Ayesha.
"Itu, itu—" Lusi pun gugup dan takut.
Plak.
Ayesha membekap mulutnya ketika dia melihat Aji menampar Lusi tanpa rasa kasihan. Sementara Lusi, dia memegangi pipinya yang kebas lalu menatap Aji dengan tajam.
"Mas, kamu menamparku? Tega kamu, Mas." Lusi menangis, baru kali ini dia di perlakukan kasar oleh seseorang.
Aji sedikit menyesali perbuatannya, dia sangat emosi karena tingkah Lusi pada Ayesha.
"Itu adalah hukuman untukmu karena kamu sudah berani berbuat nekad pada Ayesha." Aji menunjuk wajah Lusi, dia tetap berbicara tegas meskipun merasa bersalah.
"Hanya karena masalah itu kamu tega menamparku? Wah, sangat hebat! Jadi kamu lebih memilih dia daripada aku, Mas?" Lusi menunjuk Ayesha.
Aji mengangguk cepat. ''Ya, aku lebih memilih dia dibandingkan dirimu. Jujur saja aku sangat berterima kasih padamu karena kamu sudah mau menemaniku disaat aku kesepian. Kebersamaanku dan Ayesha mampu menumbuhkan benih-benih cinta yang lebih daripada cintaku untukmu. Jadi, aku mohon mengertilah, Lusi. Kamu ingat dulu sewaktu kita ingin menikah bukan? Aku mengatakan jika di hatiku tidak ada yang bisa menggantikan posisi Evi."
"Tapi dia! Dia bagaimana, Mas?" Lusi menuding wajah Ayesha. "Kamu sudah menggeser posisi kak Evi dan menempatkan wanita itu disana!"
"Menurutku dia adalah Evi, dan kamu tidak boleh protes tentang hal apa pun itu. Paham!''
"Sadar Mas, sadar! Dia itu bukan Evi, kakakku sudah tiada."
"Cukup! Sekali lagi kamu bicara seperti itu maka aku akan merobek mulutmu." gertak Aji marah kepada Lusi.
"Aku merasa bodoh karena masih mau hidup bersamamu sementara kehadiranku tidak kamu hargai lagi. Kenapa kamu tidak menceraikan aku, Mas? Hah!" Lusi membentak sambil melotot.
"Jadi itu maumu? Baik, hari ini aku menjatuhkan talak tiga untukmu!" Aji berkata serius dan penuh penekanan. "Aku akan secepatnya mengurus surat perpisahan kita!" setelah mengatakan hal itu, Aji menggandeng tangan Ayesha dah mereka pergi ke kamar.
Deg!
Jantung Lusi seakan ingin berhenti, tubuhnya limbung hingga dia hampir saja terjatuh ke lantai. Dirinya berpegangan dinding sambil memegangi dada yang terasa sesak.
"Mas Aji benar-benar menceraikan aku? Hiks, tidak mungkin." Lusi sangat sulit untuk bernapas. Air mata terus mengalir deras di pipinya.
Wanita itu terjatuh di lantai, dia bersimpuh sambil memeluk lututnya sendiri. Tangisannya pecah begitu saja ketika dia mengingat perkataan Aji yang akan mengurus surat cerai.
"Semudah itu kamu menceraikan aku, Mas? Kamu tidak berpikir bagaimana perasaanku, bagaimana penderitaanku." Lusi tidak bisa berkata apa pun lagi.
Hari ini adalah malam yang penuh kesedihan tak terbendung bagi seorang Lusiana Andriani. Dia bukan hanya kehilangan cintanya, tetapi juga akan jauh dari Aris. Pasti Aji tidak terlalu memperbolehkan dia bertemu dengan Aris setiap hari. Ya, meskipun bocah kecil itu adalah keponakannya sendiri.
•••••
__ADS_1
Tbc