
Dua bulan kemudian, Evi merasa jika ada yang aneh dalam dirinya. Kepalanya pusing, bahkan dia juga tidak napsu makan. Setiap hari, dirinya hanya memakan permen saja untuk menetralkan rasa mual yang terus mendera. Wanita itu juga sudah terlambat datang bulan. Khawatir? Tentu saja, tetapi Evi belum menerima ke Dokter atau pun memberitahu pada suaminya tentang semua ini.
Tepat pukul delapan malam, kala Evi dan Aji ingin beranjak tidur, tiba-tiba perut Evi merasa kram. Bahkan, dirinya merasa ingin muntah. Wanita itu berlari ke kamar mandi, membuat Aji kebingungan.
"Sayang, ada apa?" panggil Aji tetapi tidak di hiraukan oleh Evi, dia terus berlari masuk ke dalam kamar mandi.
Aji yang merasa khawatir langsung berlari mengikuti sang istri, hingga saat tiba di kamar mandi. Dirinya melihat Evi muntah-muntah.
"Sayang, apa yang terjadi? Kamu sakit?" Aji mengecek suhu badan Evi dan ternyata biasa saja.
"Mas, kepalaku pusing. Aku juga rasanya ingin mual terus, entah penyakit apa ini." ujar Evi ikut kebingungan.
"Baiklah, bagaimana kalau kita ke rumah sakit saja? Aku takut terjadi sesuatu padamu." Aji benar-benar sangat mengkhawatirkan kesehatan istrinya itu.
Evi mengangguk, dia tidak menolak sama sekali, mereka berdua keluar dari kamar mandi dengan Evi yang di papah oleh Aji. Pria itu mendudukkan istrinya di tepi ranjang, sementara dia berlari ke lemari untuk mengambil jaket sang istri. Setelah itu, keduanya langsung pergi keluar dari kamar.
****
Di rumah sakit, Dokter sudah memeriksa keadaan Evi. Bukannya gelisah, Dokter itu malah tersenyum senang. Hal tersebut membuat Aji dan Evi kebingungan.
__ADS_1
"Dokter, kenapa Anda malah tersenyum seperti itu? Apa yang terjadi dengan istri saya? Keadaannya baik-baik saja bukan?" tanya Aji tidak sabaran.
Dokter duduk di kursi kebesarannya, dia mengangguk dan tersenyum.
"Nyonya Evi baik-baik saja, bahkan saya ingin menyampaikan hal baik pada kalian berdua."
Kompak pasangan suami-istri itu saling menatap satu sama lain, mereka mengedikkan bahu dan kembali menatap Dokter.
"Coba jelaskan yang sebenarnya, Dok." pinta Evi .
"Setelah saya periksa, ternyata saat ini Nyonya Evi dinyatakan positif hamil. Bahkan, usia kandungannya sudah berjalan dua bulan." jelas sang Dokter.
"Apa!" pekik pasangan suami-istri itu dengan reaksi terkejut.
Selesai menuliskan resep, Dokter memberikannya pada Aji.
"Pak Aji bisa menembusnya di apotik, sekali lagi selamat untuk kalian berdua yang sebentar lagi akan menjadi orang tua. Saran saya, Nyonya harus beristirahat dengan cukup, jangan begadang, makan makanan yang bergizi, dan kalau perlu minum susu khusus ibu hamil." Dokter itu tersenyum.
Aji dan Evi masih dalam keadaan haru, mereka hanya mengangguk lalu bergandengan tangan pergi dari ruangan Dokter setelah mengucapkan terima kasih.
__ADS_1
Sesampainya di luar ruangan, Aji menggendong tubuh Evi. Dia bahkan mengecup seluruh wajah istrinya itu, akhirnya sesuatu yang dia tunggu-tunggu tercapai juga.
"Sayang, terima kasih, terima kasih banyak. Aku benar-benar sangat bahagia." Aji memeluk tubuh Evi dengan erat.
"Sama-sama, Mas. Ini semua sudah menjadi rezeki yang akan melengkapi keluarga kecil kita, aku berharap anak kita baik-baik saja di dalam sini sampai dia lahir ke dunia nanti." Evi mengelus perutnya yang masih rata setelah pelukan mereka terurai.
"Sayang, kenapa kamu tidak membicarakan hal ini padaku?"
"Aku juga awalnya tidak tahu, Mas. Aku pikir, aku itu hanya terlambat datang bulan biasa dan masuk angin. Tapi ternyata, di dalam sini ada sesuatu yang sedang tumbuh."
Aji menangkup wajah Evi, dia mengecup bibir istrinya itu lalu mereka kembali berpelukan.
"Kamu harus banyak beristirahat, mulai besok jangan lagi ikut aku pergi ke restauran. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu dan bayi kita. Aku juga akan mencari asisten rumah tangga, dan satpam untuk berjaga-jaga di rumah selagi aku pergi bekerja."
"Mas, itu semua terdengar berlebihan." Evi menolak dengan halus.
"Tidak ada yang berlebihan selagi itu menyangkut dirimu dan anak kita."
Keduanya saling menatap dan tersenyum manis.
__ADS_1
••••
Tbc