Dokter Jenius Pertama

Dokter Jenius Pertama
Bab 15. Kelvin Meninggal?


__ADS_3

“Kamu tahu tidak kami tim iring-iringan dari keluarga siapa?”


Kelvin dikelilingi oleh tim iring-iringan dan penonton. Beberapa dari mereka juga mencoba memberi tekanan kepada Kelvin.


Tapi, Kelvin tidak berbicara dan hanya memasang wajah dingin.


Setelah dia mengirim jasad Gita dan Gracia ke rumah sakit untuk diurus, dia bergegas datang ke sini.


Dia berdiri di tengah jalanan Jakarta untuk menghentikan mobil barisan iring-iringan keluarga Pasetrio.


Dalam sekejap, kerumunan orang turun dari mobil iring-iringan dan mengelilinginya.


Mata dingin Kelvin melihat orang-orang yang ada di lokasi, tetapi dia tidak melihat kehadiran Rangga. Tiba-tiba, dia kepikiran bahwa Rangga pasti sedang duduk di mobil sambil melihatnya.


Pria tersebut menyipitkan mata melihat ke arah Kelvin dengan bangga dan berkata dengan keras, "Kami adalah tim iring-iringan dari keluarga Pasetrio, orang terkaya di Jakarta. Karena hari ini kamu bertemu dengan keluarga Pasetrio, maka jangan pernah berpikir bisa kabur hari ini.”


Begitu kata-kata ini keluar, banyak orang mengepung Kelvin.


Kelvin dikelilingi oleh begitu banyak orang hingga tidak bisa kemana-mana.


Namun, tatapan mata Kelvin hanya menunjukkan aura dingin.


Orang-orang ini sengaja mengelilinginya agar dia tidak bisa pergi kemana pun.


Siuh, siuh, siuh.


Kelvin melihat beberapa orang menyelinap di antara kerumunan, tetapi mereka menjadikan dirinya sebagai target.


Orang-orang yang datang memang berniat untuk menyerang dia dan mereka tidak sungkan-sungkan melakukannya.


Pada saat ini, uang kertas yang tak terhitung jumlahnya tiba-tiba jatuh dari langit. Uang tersebut jatuh ke bawah dan tersebar tepat di atas kepala Kelvin.


“Hari ini adalah pernikahan keluarga Pasetrio, uang-uang ini akan membawa kegembiraan bagi semua orang.”


Dari kerumunan orang itu tiba-tiba ada orang yang mengatakan bahwa keluarga Pasetrio sedang menyawer uang.


Setelah itu, uang jatuh dari atas, tetapi masih menjadikan Kelvin sebagai pusatnya.


"Semuanya, cepat ambil uangnya!"


Entah siapa yang berteriak lagi, semua orang yang datang menjemput mempelai wanita, penonton dan semua orang di jalan berkerumun.


Orang-orang di jalan sudah berdiri berkerumun dan kerumunan ini rentan menyebabkan insiden menginjak-injak.


Apalagi Kelvin yang berada di tengah-tengah kerumunan.

__ADS_1


“Aaahh!”


Pada saat ini, ada orang yang berteriak, sepertinya ada orang yang terjatuh.


Di kerumunan, sosok Kelvin juga menghilang.


Melihat ini, keluarga Pasetrio mengira orang yang jatuh itu adalah Kelvin. Mereka saling memandang dan dengan sengaja memimpin semua orang untuk menginjak orang yang terjatuh itu.


"Ah, ah, tolong, tolong!"


"Semuanya, ambil uangnya!"


"Semuanya, ambil uangnya!"


Teriakan minta tolong dengan cepat ditenggelamkan oleh suara orang-orang yang ingin merebut uang.


Di mata semua orang, hanya uang yang terpenting, siapa yang peduli dengan orang asing yang terjatuh.


"Ah, sudah, jangan rebutan, jangan rebutan, ada yang mati."


Sebuah suara teriakan menghentikan orang-orang yang sedang memperebutkan uang.


Semua orang mengamati sekeliling, lalu melihat seorang pria muda tergeletak di tanah dan tidak bergerak.


Benar-benar sudah meninggal!


Ekspresi semua orang yang ada di tempat berubah drastis. Mereka berteriak dan mundur ke belakang berusaha untuk menghindar agar tidak terkait dengan kasus ini.


Anak buah keluarga Pasetrio juga berada di sana, mereka tanpa sadar malah menunjukkan senyuman bahagia di wajah mereka.


Akhirnya orang ini mati juga!


Barusan mereka mendapatkan perintah dari Rangga untuk membuat keributan, paling bagus jika bisa membuat orang itu mati tanpa mereka harus bertanggung jawab.


Kemudian, cara terbaik adalah membuat keributan dan menginjak-injak.


Sekalipun ada orang yang mati, juga tidak akan terjadi apa-apa, karena hukum tidak menyalahkan publik.



Sebuah Mercedes-Benz hitam terparkir di jalanan Jakarta.


Di dalam mobil ada seorang lelaki tua dan seorang pemuda.


“Ah, sayang sekali.”

__ADS_1


Melihat kericuhan itu, Candra pun menghela napas.


Sebelumnya, Kelvin meminta tolong pada Candra untuk mengantarnya ke sini.


Meskipun Candra tidak tahu apa yang akan dilakukan Kelvin, dia tetap mengantarnya dan meminta cucunya Nathan untuk mengantar ke sini.


Ketika Kelvin menghalangi jalan tim iring-iringan keluarga Pasetrio, Candra baru mengerti, ternyata Kelvin datang untuk merebut mempelai wanita.


Dia hanya seorang dokter biasa, mana mungkin dia bisa melawan keluarga kaya raya tersebut.


Candra sangat menyukai orang yang berbakat. Jika berdasarkan kemampuan Kelvin, dia dapat menebak bahwa masa depannya akan menjadi dokter terkenal di Indonesia dan juga internasional.


Dia tidak bisa melihat Kelvin dalam bahaya seperti itu. Bayangan kecelakaan di depan klinik Kelvin masih terngiang-ngiang di benaknya.


Tepat, ketika dia hendak keluar dari mobil untuk membujuk Kelvin kembali, kericuhan tiba-tiba terjadi.


Seperti yang dia pikirkan, bagaimana mungkin kelvin bisa melawan orang terkaya ini. Sebuah kecelakaan membuat Kelvin meninggal begitu saja.


Hah, sayang sekali, padahal Kelvin adalah seorang dokter yang jenius.


“Kakek, kenapa bisa begini?” Nathan terkejut melihat kejadian ini. Setelah terdiam cukup lama, akhirnya dia tersadar dan bertanya dengan heran.


“Karena bagi Rangga, putra kedua dari keluarga Pasetrio, Kelvin harus mati.”


“Kelvin dan Kiara sudah membuat akta nikah, jadi Kelvin adalah penghalang terbesar bagi Kiara untuk menikah dengan Morgan.”


“Jadi, selama Kelvin mati, Rangga dapat menggunakan kontrak pernikahan antara Kiara dan Morgan untuk memaksa Kiara menikah lagi.”


“Apalagi, kericuhan ini pasti sudah membuat Kelvin meninggal tak sadarkan diri. Tanggung jawab juga tidak akan jatuh kepada Rangga karena hukum tidak akan bisa menyalahkan publik.”


“Dari mana Rangga tahu bahwa Kelvin dan Kiara sudah membuat akta nikah?” Baru selesai Nathan bertanya, dia menarik kembali ucapannya.


Rangga adalah putra kedua keluarga terkaya di Jakarta, jika dia ingin mengecek informasi seperti ini sangatlah mudah.


Dia merasa pertanyaan barusan hanyalah pertanyaan bodoh.


“Kakek, bukankah kakek seorang dokter? Kenapa kakek bisa memperhatikan hal semacam ini?” tanya Nathan.


Candra memutar bola matanya kepada cucunya yang bodoh ini, “Dokter juga manusia. Kalau aku tidak memperhatikan hal seperti ini, bagaimana mungkin aku bisa pensiun dengan aman dari Surabaya.”


Nathan hanya terdiam dan berpikir.


“Kakek lihat! Rangga turun dari mobil.”


Nathan tiba-tiba berseru, dia melihat Rangga keluar dari mobil dan berjalan menuju tempat Kelvin tergeletak.

__ADS_1


__ADS_2