
Ruang tamu vila Keluarga Pasetrio.
“Oh, maksudmu, Kelvin berhasil membuat ramuan obat dan pasien yang jatuh sakit karena minum obat Keluarga Wijaya kali ini sudah hampir terobati semua?”
“Tidak hanya itu, dia bahkan mengatakan bahwa orang yang menjebak Pabrik Farmasi Keluarga Wijaya adalah Keluarga Pasetrio?”
Faisal menyeruput seteguk teh dengan santai dan bertanya pada Patricia yang berdiri di bawah.
“Benar.” Patricia menjawab dengan jujur.
Faisal menganggukkan kepala dan tidak berkata apa-apa. Dia justru melihat ke arah seorang lelaki tua yang berpakaian tradisional di samping.
“Tuan Angga, sejak awal aku sudah pernah mengatakan bahwa anak muda ini tidak mudah ditaklukkan. Anda lihat sendiri, 'kan?”
“Apakah kalian yakin ketika anak buah kalian melakukan sesuatu terhadap Pabrik Farmasi Keluarga Wijaya sudah sesuai dengan resep yang aku berikan?” tanya Angga sembari menoleh kepada Patricia.
“Benar, sama sekali tidak ada yang salah dengan hal ini,” ujar Patricia.
Setelah Angga mendengarnya, dia malah tertawa terbahak-bahak. Lalu, dia menoleh ke arah Faisal dan berkata, “Tuan Faisal, kalau Keluarga Wijaya sudah musnah, tolong serahkan Kelvin padaku. Biar aku yang mengurusnya. Di dalam diri Kelvin ada sesuatu yang membuatku tertarik.”
Perlu diketahui bahwa dia menambahkan racun ke dalam resep obat yang dia berikan kepada Patricia. Bahkan, beberapa dokter di Surabaya yang sudah bersatu saja tidak bisa mengatasi racun ini.
Akan tetapi, anak muda ini malah berhasil mengatasinya. Di dalam dirinya pasti ada rahasia besar.
Meskipun Faisal merasa bingung, dia tetap mengangguk setuju. Bagaimanapun, Angga diutus dari Surabaya oleh orang yang ada dibalik dalang semua ini. Oleh karena itu, dia tidak berani menyinggungnya.
Terlebih lagi, putra pertamanya, Morgan, harus bergantung pada dirinya untuk menyembuhkan penyakit.
"Tuan Angga, kapan putraku, Morgan, akan pulih sepenuhnya?” tanya Faisal begitu ada kesempatan.
Mendengar pertanyaan Faisal, Angga menggelengkan kepala dan menghela napas berkata, “Kalau melihat kondisi saat ini, setidaknya membutuhkan waktu kurang lebih satu bulan.”
“Apa boleh buat, apa yang Kelvin lakukan terhadap putramu selama proses pengobatan itu memiliki efek samping yang terlalu besar.”
“Bisa menyelamatkan putramu yang sudah diambang kematian dengan tepat waktu saja sudah tidak mudah.”
Kelvin, lagi-lagi Kelvin.
__ADS_1
Mata Faisal menunjukkan tatapan sengit, dia benar-benar memiliki niat untuk membunuh.
Faisal mendongakkan kepala dan melihat ke arah Patricia yang berada di bawah. Kemudian, memberikan perintah, “Patricia, beberapa waktu ini mungkin kamu akan lebih lelah. Kamu harus memastikan Keluarga Wijaya musnah satu bulan ke depan sebelum pemakaman.”
“Baik!” Patricia maju selangkah dan berjanji pada Faisal.
Faisal menganggukkan kepala dengan puas.
Patricia adalah orang andalan Faisal. Dia tidak pernah membuat Faisal kecewa. Meskipun kali ini gagal, dia tetap percaya bahwa selanjutnya Keluarga Wijaya pasti akan musnah di tangan Patricia.
“Oh ya, turun nanti, beritahu adikmu yang tidak berguna itu untuk tidak menunjukkan diri dulu selama beberapa waktu ini. Saat ini, di mata semua orang, dia adalah orang yang sudah mati. Kalau sampai ada yang tahu nanti bisa repot,” perintah Faisal yang tiba-tiba teringat sesuatu.
Adik tidak berguna Patricia yang dimaksud adalah Rangga yang sebelumnya pura-pura mati.
Patricia menganggukkan kepala. Meskipun selama ini dia selalu merendahkan Rangga dan terlalu malas untuk peduli dengan apa yang dilakukan Rangga, ini adalah waktu yang penting untuk dirinya menyerang Keluarga Wijaya. Oleh karena itu, dia tidak akan membiarkan Rangga keluar untuk membuat onar dan menghancurkan rencananya.
Pada saat ini, telepon Patricia berdering. Ketika Patricia sudah selesai mendengar telepon, ekspresinya berubah menjadi sangat tidak enak.
"Patricia, kenapa?” Faisal yang duduk di kursi utama pun merasakan perubahan ekspresi Patricia dan bertanya.
“Barusan anak buahku melaporkan bahwa Keluarga Wijaya menyebarkan rumor kalau mereka sudah menemukan bukti orang yang menjebak Pabrik Farmasi Keluarga Wijaya dan akan mengungkapnya dalam beberapa hari ini.”
“Kalau Keluarga Wijaya benar-benar menguasai bukti bahwa kita yang sudah berbuat hal keji terhadap Pabrik Farmasi Keluarga Wijaya, ini akan menjadi masalah besar bagi Keluarga Pasetrio."
Faisal mengerutkan kening. Benar. Apa yang dikatakan Patricia benar.
Apabila bukti ini terungkap, Gubernur pasti tidak akan melepaskan kesempatan kali ini dan akan menyerang Keluarga Pasetrio.
Dilihat dari sikap Gubernur yang menolaknya berkali-kali, meskipun Gubernur tidak ikut campur dalam perselisihan antara dia dan Keluarga Wijaya, kenyataannya Gubernur jelas lebih berpihak ke arah Keluarga Wijaya.
Sebab, dilihat dari sikap Gubernur terhadapnya, beliau tidak bersedia berkompromi dengan orang yang membantunya dan menolaknya dengan tegas. Oleh karena itu, sebenarnya Gubernur sudah berpihak pada Keluarga Wijaya.
Keluarga Pasetrio tidak boleh membiarkan orang lain mengetahui rahasia mereka.
“Apakah kamu yakin sudah mengatasi semua buktinya?” tanya Faisal pada Patricia dan tatapan matanya terlihat tidak percaya.
“Ketika Pabrik Farmasi Keluarga Wijaya bermasalah, penanggungjawab pabrik farmasi, Surya, sudah menjaminnya sendiri. Dia sudah mengecek beberapa kali dan setelah memastikan bahwa tidak ada bukti yang tertinggal, dia baru pergi,” ujar Patricia.
__ADS_1
“Sekarang di mana keberadaan Surya?” tanya Faisal dengan ekspresi dingin.
“Surya dan keluarganya berada di kediaman Keluarga Pasetrio.” Perkataan Patricia sudah sangat jelas bahwa Surya berada dibawah kendali Keluarga Pasetrio dan tidak akan macam-macam.
Faisal yang tadinya mengerutkan kening, akhirnya menjadi lebih santai.
“Nona, gawat, Surya menghilang.”
Saat ini, seseorang berlari masuk ke dalam ruang tamu dengan tergesa-gesa dan melapor pada Patricia.
Dengan melihat sekilas saja Patricia sudah mengenalnya. Dia adalah anak buah yang dia utus secara khusus untuk menjaga Surya dan keluarganya.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” Patricia merasakan firasat buruk.
Anak buahnya melapor dan berkata, “Setelah Surya mendengar rumor yang disebarkan oleh Keluarga Wijaya, dia sangat panik. Meski dia terus mengatakan tidak mungkin, dia tetap tidak bisa menahan diri. Lalu, dia bilang ingin kembali ke Pabrik Farmasi Keluarga Wijaya sendiri untuk mengeceknya.”
Patricia langsung menendang orang itu hingga terjatuh. Meskipun dia seorang wanita, tenaganya sangat besar.
Pria itu menutupi perut bagian bawahnya dan menahan rasa sakit. Akan tetapi, dia tidak berani melawan dan
malah gemetar ketakutan berkata, “Nona … hal … hal ini tidak bisa menyalahkan aku. Aku hanya pergi ke toilet, siapa yang tahu bahwa dia akan benar-benar kembali.”
Patricia sudah tidak memedulikan orang itu lagi. Dia mendongakkan kepala dan melihat kejauhan.
Di dalam hatinya memaki ‘sialan’.
Apabila saat ini Surya kembali ke Pabrik Farmasi Keluarga Wijaya, bukankah itu sama saja dengan masuk perangkap sendiri?
Pada saat ini, Patricia tiba-tiba mulai paham sesuatu hal. Semua ini adalah jebakan.
Rumor yang disebarkan oleh Keluarga Wijaya itu palsu. Mereka hanya ingin memancing Surya untuk masuk perangkap sendiri. Sebab, mereka tahu bahwa Surya akan merasa tidak tenang karena sudah melakukan hal jahat. Oleh karena itu, begitu mendengar rumor ini, dia pasti akan kembali untuk mengecek.
Sial! Mereka ternyata cukup hebat dalam memanipulasi seseorang.
Di dalam benak Patricia muncul bayangan wajah Kelvin.
Pasti Kelvin.
__ADS_1
‘Kelvin, Kelvin, kamu selalu memberiku “kejutan” berkali-kali,’ pikir Patricia dalam hati.