
“Kelvin, kamu tidak boleh pergi, pasti berbahaya,” ujar Kiara dengan panik.
Barusan Kiara mendengar semua percakapan Kelvin dengan Patricia di telepon. Dia sangat khawatir bahwa ajakan negosiasi ini adalah jebakan dari Patricia.
“Betul, Kelvin. Kamu sama sekali tidak perlu mengambil risiko ini.” Reno yang berada di samping juga setuju dengan pernyataan Kiara.
Meskipun Patricia seorang wanita, dia adalah sosok orang yang kejam. Siapa yang tahu niat buruk apa yang akan dia lakukan selama pertemuan negosiasi ini.
Kelvin malah tersenyum sambil melambaikan tangan dan memberikan tatapan jangan khawatir kepada mereka berdua. Lalu, dia berkata, “Tenang saja, aku tahu batasan.”
“Kalau begitu, aku ikut pergi bersamamu,” ujar Patricia tidak senang.
Patricia tahu bahwa Kelvin sulit dibujuk jika sudah membuat sebuah keputusan. Oleh karena itu, dia hanya bisa mengalah dan mengajukan diri untuk ikut bersama Kelvin.
Kiara tetap merasa khawatir.
Kelvin malah menggelengkan kepala, lalu melihat ke arah Reno dan Kiara. Dia tiba-tiba berubah menjadi sangat serius dan berkata, “Jangan, siapa pun dari kalian tidak ada yang boleh pergi bersamaku. Aku hanya boleh pergi sendiri karena setelah ini ada hal penting yang perlu kalian urus.”
Ekspresi Kiara tampak bingung karena tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa Kelvin menganggap hal ini begitu penting?
…
Plaza Village adalah pusat perbelanjaan yang paling besar di Jakarta. Ini adalah tempat terbaik bagi orang-orang di Jakarta untuk santai, hiburan dan olahraga.
Setiap hari tempat tersebut penuh dengan orang. Hanya saja, pada siang hari orangnya lebih sedikit.
Patricia duduk di dalam salah satu tenant Plaza Village sambil membuat dua gelas teh. Lalu, seorang pria muda tiba-tiba masuk ke dalam tenant dan duduk di hadapan Patricia.
Melihat orang tersebut sudah datang, Patricia pun tersenyum dan meletakkan salah satu gelas teh yang sudah dibuat dengan pelan di depan orang tersebut. Lalu, dia berkata, “Cobalah teh yang barusan aku buat.”
Tentu saja pria muda ini adalah Kelvin.
__ADS_1
Kelvin menundukkan kepala melihat teh panas di depannya. Lalu, dia tiba-tiba mendongakkan kepala dan bertanya, “Jangan-jangan kamu sudah memasukkan racun ke dalam teh ini?”
Patricia tiba-tiba tersedak mendengar ucapan tersebut dan senyuman di wajahnya perlahan menghilang.
“Tidak!” Patricia sudah tak lagi tersenyum dan seketika wajahnya berubah dingin.
Melihat situasi tersebut, Kelvin malah tersenyum. Begini baru benar. Jelas-jelas ingin berbuat jahat, untuk apa repot-repot bersikap sok baik.
Jelas-jelas mereka musuhan, tetapi dia malah bersikap sok akrab. Ini benar-benar membuat Kelvin merasa tidak nyaman. Beginilah baru benar. Musuh seharusnya terlihat seperti musuh, untuk apa bersikap sok baik?
Kelvin mengambil teh yang ada di depannya dan langsung meneguk habis tanpa ragu-ragu.
Setelah meletakkan gelas teh, Kelvin mendongakkan kepala dan berkata, “Langsung katakan saja, kamu ingin membahasnya seperti apa? Apa yang ingin kamu bicarakan?”
Karena Kelvin tidak ingin bersandiwara dengannya, Patricia pun langsung berterus terang.
“Apakah Surya di tempatmu?”
“Benar.” Kelvin memikirkannya sebentar dan lanjut berkata, “Tak hanya Surya. Adikmu, Rangga, juga berada di tempatku.”
“Kalau sampai hal ini terungkap, kelak pemakaman Keluarga Pasetrio masih mau dilakukan apa tidak?”
Tentu saja Patricia mengerti sindiran dari perkataan Kelvin. Akan tetapi, dia malah tidak marah dan seperti sudah mengetahuinya sejak awal.
“Katakan saja, apa yang kamu inginkan untuk melepaskan mereka?” ujar Patricia sambil menatap Kelvin lekat-lekat.
Ekspresi Kelvin menunjukkan senyum sinis dan berkata, “Seperti perkataan ayahmu biasanya, aku ingin Keluarga Pasetrio musnah dari Jakarta. Kalau kamu bisa melakukan hal ini, mungkin aku bisa mempertimbangkan untuk melepaskan orang.”
“Oh? Apakah kamu merasa bahwa kamu bisa mengancamku?” Patricia ingin melihat ekspresi panik dari wajah
Kelvin, sayangnya malah membuat dia kecewa. Kelvin masih tetap terlihat tenang, seolah sudah mempunyai rencana sebelum ke sini.
__ADS_1
“Kamu juga tidak perlu berpura-pura seperti itu. Biar aku tebak, Saat ini kamu pasti sudah mengutus orang untuk membunuh Surya, ‘kan?” ujar Kelvin.
Kelvin tiba-tiba menggelengkan kepala dan menghela napas berkata, “Sebenarnya kamu tidak perlu melakukan itu. Sungguh, tidak perlu sampai membunuh orang. Keluarga Surya berada di tangan kalian, jadi tentu saja dia tidak akan berani melakukan apa pun.”
“Sebaliknya, kalau kamu membunuhnya diam-diam, dia justru ada kemungkinan mengatakan semuanya.”
“Atau mungkin, bisa saja melibatkan adikmu itu.”
“Lagi-lagi kamu salah langkah lagi kali ini.”
Perkataan Kelvin seperti bawang yang dikupas. Dia seperti mengupas pikiran Patricia selapis demi selapis dan mengungkapkannya. Kelvin sejak awal sudah tahu bahwa negosiasi yang dimaksud oleh Patricia adalah sebuah pengalihan saja. Membahas apa atau apakah pembahasan ini memiliki hasil sama sekali tidak penting.
Patricia mengajak untuk bernegosiasi sebenarnya hanya ingin mengalihkan fokus Kelvin dan Keluarga Wijaya pada hal ini. Kemudian, dia akan diam-diam mengutus orang untuk membunuh Surya. Dia ingin mengambil kesempatan untuk menghabisi bahaya tersembunyi ini ketika Kelvin dan Keluarga Wijaya sedang lengah.
Sayangnya, strategi Patricia salah. Sejak awal Kelvin sudah bisa menebak pemikiran dia.
Raut wajah Patricia akhirnya menunjukkan ekspresi panik.
Karena apa yang dikatakan oleh Kelvin sedikit pun tidak salah. Demi menghindari Surya mengkhianati dirinya, dia sudah mengutus orang untuk membunuh Surya.
Hanya saja, Patricia tidak menyangka bahwa Kelvin ternyata sudah tahu sejak awal.
“Maksudmu, kamu sudah menyiapkan rencana lain?” Raut wajah Patricia berubah drastis. Akan tetapi, dia masih mencoba menenangkan diri bahwa Kelvin hanya ingin memanas-manasi dia saja.
Kelvin menganggukkan kepala dan berkata, “Benar. Kalau tidak ada masalah lain, orang yang kamu utus untuk membunuh Surya mungkin sudah ditangkap dan Surya mungkin sudah mengungkapkan semuanya.”
“Mengenai Rangga, mungkin sudah mati atau masih hidup.”
“Bagaimana kamu bisa yakin? Mungkin saja, kalau tidak ada masalah lain, anak buahku sudah berhasil,” ujar Patricia yang masih tidak mengaku kalah.
Kelvin seperti menangkap perkataan ‘beruntung’ dari ucapan Patricia. Kelvin pun tertawa dan tidak berbicara apa-apa.
__ADS_1
Pada saat ini, telepon Patricia berdering. Akan tetapi, Patricia malah tidak mengangkatnya.
Kelvin tersenyum sambil memprovokasi, “Kenapa? Tidak berani angkat?”