
Di dalam mobil BMW.
Patricia melihat orang-orang yang datang membuat keributan sudah berhasil ditenangkan oleh Kelvin.
Yang terpenting adalah Kelvin ternyata sudah menyuruh orang untuk tak henti mengirim ramuan obat. Bahkan, mengobati semua pasien penyakit jantung yang berada di lokasi.
Sialan!
Sekalipun Kelvin mempunyai resep obat untuk mengobati penyakit jantung, setidaknya dia membutuhkan jumlah bahan obat yang sangat banyak.
Saat ini, semua bahan obat di seluruh Jakarta sudah dikendalikan oleh Dimas. Apalagi, Dimas juga sudah menjadi bawahan Keluarga kaya Pasetrio.
Seharusnya Kelvin sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk membeli bahan obat begitu banyak. Ini juga alasan kenapa Patricia membiarkan Kelvin untuk tetap menangani para pasien ini.
Keterampilan medis Kelvin memang sangat hebat. Dia bisa mengobati satu orang, sepuluh orang, seratus orang, tetapi apakah dia mampu mengobati seribu orang, sejuta orang?
Melihat kondisi saat ini, sepertinya Kelvin benar-benar mampu. Pasti terjadi sesuatu pada Dimas.
Tepat pada saat ini, telepon Patricia berdering. Anak buah yang dia utus menelepon.
“Nona, Kelvin berhasil mengobati penyakit lama ayah mertua Dimas, Aditya. Sekarang Aditya berpihak kepada Kelvin dan menjual semua bahan obat yang dibutuhkan Kelvin dengan setengah harga. Maka dari itulah Kelvin baru bisa buru-buru menyuruh Candra membuat ramuan obat untuk mengobati penyakit jantung ….”
Mendengar laporan dari anak buahnya, Patricia pun tersenyum kesal.
Sampah! Sampah! Dimas si sampah inilah yang sudah merusak rencananya.
Dia harus membuat rencana selanjutnya.
Tepat ketika Patricia berniat menelepon anak buahnya untuk memerintah langkah selanjutnya, dia mendongakkan kepala dan tiba-tiba melihat sekelompok orang sudah mengepungnya dari luar mobil.
Patricia terkejut. Bukankah ini pasien dan anggota keluarga pasien yang mengepung Pabrik Farmasi Keluarga Wijaya?
Sekarang mereka malah balik mengepung Patricia. Bahkan, ada beberapa orang yang memukul jendela mobil dengan kepalan tinju mereka dan memintanya untuk turun dari mobil.
Gestur ini sama persis seperti gestur mereka ingin menghancurkan Pabrik Farmasi Keluarga Wijaya barusan.
__ADS_1
“Keluar, keluar. Apakah kamu yang melakukan sesuatu terhadap Pabrik Farmasi Keluarga Wijaya, makanya pabrik farmasi mereka menjadi bermasalah?”
“Dasar wanita kejam! Kenapa melibatkan kami dalam masalah kalian, Keluarga Pasetrio, dengan Keluarga Wijaya?”
“Halo, Nona Patricia. Saya reporter dari stasiun TV. Tuan Kelvin dari Pabrik Farmasi Keluarga Wijaya mengatakan bahwa pabrik farmasi mereka kemungkinan dijebak oleh orang, dan masalah ini kemungkinan ada hubungannya dengan Keluarga kaya Pasetrio. Apakah Anda ingin turun dan memberikan penjelasan?”
“ … “
Patricia mendengar suara dari luar sana. Semuanya adalah berita yang tidak menguntungkan bagi Keluarga Pasetrio. Seketika tatapan matanya menjadi dingin.
‘Kelvin, Kelvin, benar-benar cara main yang bagus,’ pikir Patricia dalam hati.
Bisa-bisanya dia membersihkan nama baik Pabrik Farmasi Keluarga Wijaya dengan cepat dan malah menyerang balik Keluarga Pasetrio.
Hmph!
Patricia menatap sekerumunan pasien yang berada di luar jendela dan memaki dalam hati.
‘Sialan! Ternyata tidak ada satu pun yang mati.’
“Pak, jalan,” ujar Patricia memerintah supir.
Jika orang di luar ingin dia menjelaskan sesuatu, tentu dia tidak akan menjelaskannya. Sebab, sama sekali tidak bisa dijelaskan dengan jelas.
Lagi pula, dia tidak perlu menjelaskan apa pun kepada orang-orang ini.
“Nona, kita tidak bisa keluar karena di kelilingi oleh orang-orang,” ujar supir yang merasa serba salah.
Patricia memelototi dengan sinis dan berkata dengan dingin, “Kalau begitu, tabrak saja. Kalau terjadi sesuatu, aku yang jadi jaminan.”
Dia sama sekali tidak pernah menganggap penting orang-orang ini. Sekalipun benar-benar menabrak orang, lalu mereka bisa berbuat apa padanya?
Setelah mendapatkan perintah dari Patricia, supir pun seketika menjadi sedikit lebih lega dan langsung menginjak pedal gas.
Brem!
__ADS_1
Mobil mengeluarkan suara deru yang keras. Kemudian, mobil pun langsung melaju lurus ke depan.
Beberapa orang yang menghalangi jalan pun tertabrak hingga jatuh di tanah. Akan tetapi, Patricia sama sekali tidak peduli dan tetap memerintah supir untuk melaju ke depan.
Orang-orang di sekitar sampai ketakutan dan membuka jalan. Tak lama, mobil Patricia sudah pergi meninggalkan lokasi.
Orang-orang tersebut memaki mobil Patricia yang sudah melaju pergi. Akan tetapi, mereka tidak mendapatkan respons apa pun.
Perlakuan Patricia membuat semua orang semakin yakin bahwa Pabrik Farmasi Keluarga Wijaya
memang difitnah. Seketika, Pabrik Farmasi Keluarga Wijaya menjadi semakin penting di hati semua orang.
Melihat mobil Patricia yang beranjak pergi, Kelvin malah tidak merasa lebih santai. Sebab dia tahu bahwa Patricia tidak akan tinggal diam karena tujuannya kali ini belum berhasil.
Pada saat ini, Reno berjalan ke hadapan Kelvin dan menepuk pundak Kelvin sambil tersenyum berkata, “Kelvin, untung kali ini ada kamu. Kalau tidak, aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana.”
Kiara juga berjalan mendekat dengan ekspresi sombong.
Seolah dia berkata, ‘Lihatlah, ini suamiku.’
Kelvin menggelengkan kepala dan berkata dengan suara rendah, “Kali ini, Patricia tidak mendapatkan keuntungan apa pun. Jadi, dia tidak akan tinggal diam saja.”
“Kita tidak bisa hanya duduk diam untuk dibunuh.”
“Sekarang semua orang sudah percaya bahwa Pabrik Farmasi Keluarga Wijaya dijebak. Jadi, kita harus mengambil kesempatan ini untuk membersihkan nama baik Pabrik Farmasi Keluarga Wijaya.”
“Lalu, apa yang harus kita lakukan selanjutnya?” tanya Reno.
Semenjak ada menantunya, Kelvin, Reno pun seketika merasa tekanannya sudah tidak begitu besar ketika harus menghadapi Keluarga kaya Pasetrio.
“Selanjutnya, kita harus menyebarkan berita kalau kita sudah menemukan bukti bahwa ada orang yang menjebak Pabrik Farmasi Keluarga Wijaya,” ujar Kelvin.
“Selain itu, masih harus melakukan apa lagi?” tanya Kiara.
Kelvin tersenyum dengan misterius dan berkata, “Tidak perlu melakukan apa pun lagi. Kita hanya perlu menunggu di Pabrik Farmasi saja. Selama kita menyebarkan berita ini, nanti juga akan ada orang yang masuk perangkap sendiri.”
__ADS_1