
Kelvin tersenyum senang.
Akan tetapi, di mata Rangga, senyuman tersebut tampak sangat menakutkan seperti senyuman iblis.
“Tuan muda Rangga, apakah lo masih ingat pertama kali kita bertemu?” tanya Kelvin tiba-tiba sambil tersenyum.
Ekspresi Rangga berubah.
Gambaran dirinya bertemu dengan Kelvin untuk pertama kalinya terlintas di benaknya. Bagaimana mungkin dia bisa melupakannya?
Pada saat itu, dia bersikap sangat angkuh. Sedangkan Kelvin sosok orang yang sangat lemah layaknya semut.
Jika dia ingin Kelvin mati, itu akan semudah membunuh semut. Akan tetapi, sekarang semut ini berdiri di depannya dan membuatnya merasa sangat takut.
“Gue masih ingat sangat jelas hari di mana lo dan istri gue menghina gue di hadapan gue langsung,” ujar Kelvin sambil tersenyum.
Rangga menjadi gugup tiba-tiba dan merasa seperti ada sesuatu yang menyangkut di tenggorokannya.
Apakah Kelvin akan menggunakan kesempatan ini untuk membalas dendam padanya dan mendorongnya ke bawah?
Orang lain yang ada di dalam mobil juga menatap Kelvin dengan ketakutan dan panik.
Lalu, Kiara juga datang menghampiri dan memandang Rangga yang meringkuk di dalam mobil sambil mencibir, “Rangga, hari itu kamu masih bisa mengirim orang untuk memaksaku menikah dengan kakakmu yang sekarat itu, tapi aku tak menyangka sekarang kamu akan berada di posisi ini.”
Setelah mengatakan hal itu, Kiara menepuk badan mobil dengan sebuah pukulan.
“Jangan!” teriak Rangga yang mengira bahwa Kiara akan mendorong mobil tersebut ke bawah. Semua orang pun gemetar ketakutan.
Ketika Rangga melihat bahwa Kiara hanya menepuk-nepuk mobil dengan pelan, dia baru merasa lebih lega.
Hanya saja Rangga sudah sangat ketakutan hingga berkeringat.
Hidupnya sekarang ada di tangan kedua orang ini dan mereka berdua adalah musuhnya.
Rangga melirik Kiara, lalu melirik ke arah Kelvin. Kemudian, pada akhirnya menatap Kelvin lagi.
Dia pun berkata dengan nada memohon, “Kelvin, semua masalah sebelumnya hanya salah paham saja, istri lo yang merayu gue, dia ….”
Rangga ingin menjelaskan pada Kelvin, tetapi Kelvin malah menyela pembicaraannya.
Kelvin menggelengkan kepala, lalu tersenyum pada Rangga dan berkata, “Itu sudah tidak penting, semua ini sudah tidak penting. Alasan kenapa gue mengungkit masalah ini lagi karena gue mau memberi tahu lo kalau penghinaan yang lo lakukan ke gue, akan gue balas berkali-kali lipat.”
Kelvin tiba-tiba menoleh dan melihat ke kejauhan, lalu berkata dengan santai, “Kalau gue tidak salah menebak, nanti ayah lo pasti akan menelepon.”
__ADS_1
Mendengar ucapan kelvin, Rangga berkeringat dingin dan merasa bingung.
Kiara adalah orang yang cerdas, jadi dia sudah bisa menebak salah satu alasannya.
Lalu, Kelvin tiba-tiba tersenyum sambil mengayunkan ponsel Rangga.
“Benar, ‘kan?” Telepon di tangan Kelvin berdering.
Begitu telepon terhubung, sebuah suara yang familiar terdengar.
“Kelvin, mari kita berbicara,” ujar Faisal.
Ekspresi Rangga berubah, apakah ayahnya akan mengalah pada Kelvin?
Kemudian, dia mulai memikirkan kemungkinan bahwa Kelvin akan berjanji untuk menyembuhkan Morgan.
Dia dan Alexander keluar untuk menangkap Kelvin kembali dan menyembuhkan kakaknya. Akan tetapi, Alexander malah mati dan dia terjebak di sini.
Faisal pasti sudah tahu situasi di sini.
Hanya saja, jika dilihat dari sikap Kelvin padanya, dia pasti akan meminta syarat yang merugikannya apabila ayahnya mengalah pada Kelvin.
Ekspresi Rangga seketika berubah menjadi tidak enak.
“Lepaskan Rangga dan sembuhkan Morgan. Setelah itu, kamu bebas meminta syarat apapun,” ujar Faisal.
“Oh, apapun syaratnya boleh?” Ketika Kelvin berbicara, dia sengaja menatap ke arah Rangga hingga sekujur tubuh Rangga pun berkeringat dingin.
“Boleh,” ujar Faisal.
“Baiklah kalau begitu. Aku akan melepaskan putra keduamu Rangga, aku juga akan menyembuhkan putra sulungmu, Morgan. Tapi, aku ingin Rangga berlutut di depan klinikku sebagai permohonan maaf selama tiga hari. Tentu saja, aku juga ingin seluruh orang di Jakarta datang untuk melihat. Bagaimana?”
Begitu kata-kata ini keluar, sekalipun Rangga takut mati pada saat ini, dia pun tetap menolak.
“Tidak, aku tidak setuju,” ucap Rangga.
Jika dia benar-benar berlutut di depan klinik Kelvin dan di depan semua orang di Jakarta, maka itu akan mempermalukan dirinya sendiri dan sebuah penghinaan. Itu jauh lebih menyiksanya daripada mati.
Jika memang benar harus melakukan hal tersebut, jangankan posisinya sebagai pewaris yang hilang, dia bahkan sudah tidak bisa menghadapi orang-orang di Jakarta.
Faisal pun terdiam.
Kelvin menatap Rangga yang berteriak histeris padanya dan berkata dengan dingin, “Lo tidak punya hak untuk berkata tidak. Lagi pula, ayah lo akan setuju.”
__ADS_1
“Gue tidak percaya, bagaimana mungkin ayah gue setuju dengan syarat yang lo minta,” ucap Rangga seperti orang gila.
Kiara mengerutkan keningnya, dia juga merasa hal itu terlalu sulit.
Bagaimanapun, mereka adalah orang terkaya di Jakarta, apakah mereka akan setuju dengan permintaan Kelvin?
“Sepertinya dia juga tidak akan menyetujui permintaan ini.” Kiara menatap Kelvin dengan keraguan di matanya.
Kelvin tersenyum, “Jangan khawatir, dia akan setuju.”
Diamnya Faisal itu berarti dia sedang mempertimbangkannya. Lagi pula, Kelvin percaya bahwa Faisal pada akhirnya akan setuju.
Karena Kelvin tahu bahwa apabila Faisal diminta memilih antara Morgan dan Rangga, dia pasti akan memilih Morgan.
Bagaimanapun, Morgan adalah anak yang dibesarkan olehnya sebagai pewaris sejak dia masih kecil. Sedangkan Rangga selalu membuatnya kehilangan muka, tetapi malah bisa menyelamatkan Morgan, putra sulungnya.
Bisnis ini tidak buruk.
Faisal adalah orang terkaya, tetapi juga seorang pengusaha.
Kelvin tahu bahwa Faisal pasti akan membuat pilihan.
Benar saja, beberapa detik kemudian, suara Faisal terdengar, “Aku setuju.”
Apa?!
Wajah Rangga memucat dan tatapan kedua matanya kosong. Dia merasa seolah tersambar petir dan berharap ada sebaskom air dingin yang bisa memadamkan panas api di hatinya.
Di dalam benaknya muncul banyak perkataan ‘kenapa’.
Kiara juga terkejut. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa Faisal akan menyetujui permintaan Kelvin yang berlebihan seperti itu.
Kelvin melirik Kiara sekilas dan menghela napas. Sepertinya Kiara masih tidak terlalu mengenal Faisal.
Siapa itu Faisal? Dia adalah orang yang hanya peduli pada keuntungan dan tidak peduli terhadap harga diri.
Selama kepentingan itu bisa membuatnya tergoda, jangankan menyuruh Rangga berlutut, membiarkan Rangga mati pun juga tidak masalah.
Karena di hati Faisal, Morgan jauh lebih berharga daripada Rangga.
Kelvin mengalihkan pandangannya dari Kiara dan kembali menatap Rangga dengan tatapan dingin.
“Sekarang lo bisa merasakan bagaimana perasaan gue ketika lo menghina gue, ‘kan? Gue sudah pernah bilang, penghinaan yang lo lakukan ke gue, akan gue balas berkali-kali lipat. Lo tidak perlu merasa terhina sekarang, karena tiga hari ke depan, lo akan merasa lebih terhina.”
__ADS_1